SIAGA-FM – Bagi umat Islam, bencana tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam semata, tetapi juga sebagai bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah) yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Islam mengajarkan, setiap muslim wajib memiliki kesadaran terhadap
risiko bencana serta melakukan berbagai upaya pencegahan dan kesiapsiagaan.
Sikap pasrah kepada Allah (tawakal) tidak berarti mengabaikan ikhtiar. Justru
Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, menekankan pentingnya perencanaan,
kewaspadaan, dan perlindungan terhadap kehidupan manusia.
Bencana dalam Pandangan Al-Qur'an
Al-Qur'an menjelaskan, berbagai peristiwa yang terjadi di muka
bumi berlangsung atas izin Allah SWT. Allah berfirman: "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi
dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi
Allah" (QS. Al-Hadid: 22).
Ayat ini mengajarkan, bencana merupakan bagian dari
ketentuan Allah. Namun demikian, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan
melakukan langkah-langkah perlindungan diri.
Allah juga berfirman: ".... dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan"
(QS. Al-Baqarah: 195).
Ayat ini menjadi dasar penting dalam konsep mitigasi
bencana karena mengandung perintah agar manusia menghindari segala hal yang
dapat membahayakan dirinya.
Mitigasi Bencana sebagai Bentuk Ikhtiar
Dalam Islam, menjaga keselamatan jiwa
termasuk salah satu tujuan utama syariat (Maqashid Syariah), yaitu Hifz
an-Nafs (perlindungan jiwa). Allah SWT
berfirman: "Barang
siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia semuanya"(QS. Al-Maidah: 32).
Upaya mitigasi bencana seperti membangun
rumah tahan gempa, menyiapkan jalur evakuasi, mengikuti pelatihan kebencanaan,
serta menjaga lingkungan, merupakan bentuk nyata dari menjaga kehidupan yang
sangat dianjurkan dalam Islam.
Perencanaan dan Kesiapsiagaan
Salah satu prinsip penting dalam mitigasi
bencana adalah perencanaan. Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang muslim
tidak hanya berserah diri, tetapi juga melakukan ikhtiar terbaik.
Hadits dari Anas bin Malik
RA, Rasulullah SAW bersabda: "Ikatlah
untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah" (HR.
At-Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan, tawakal harus
didahului oleh usaha. Dalam konteks kebencanaan, seorang muslim harus melakukan
langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan sebelum menyerahkan hasilnya
kepada Allah SWT.
Pentingnya Ilmu Pengetahuan dalam Menghadapi Bencana
Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan.
Mitigasi bencana modern yang didasarkan pada penelitian geologi, meteorologi,
klimatologi, dan ilmu kebencanaan, sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong
manusia untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Allah berfirman: "Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS.
Az-Zumar: 9). Karena itu, mempelajari potensi gempa bumi, tsunami, banjir, longsor,
maupun erupsi gunung api merupakan bagian dari upaya memahami ciptaan Allah
demi keselamatan umat manusia.
Kesadaran terhadap potensi bencana dalam
Islam bukan sekadar reaksi ketika musibah terjadi, melainkan budaya hidup yang
dibangun melalui ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, kepedulian terhadap
lingkungan, dan solidaritas sosial. Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW
memberikan landasan yang kuat, menjaga keselamatan jiwa merupakan kewajiban
yang harus diupayakan secara sungguh-sungguh.
Mitigasi bencana sejatinya adalah bagian
dari ibadah, karena di dalamnya terdapat usaha menjaga kehidupan, melindungi
sesama manusia, dan menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Dengan
demikian, umat Islam diharapkan menjadi pelopor masyarakat yang tangguh
bencana, berilmu, peduli, dan selalu mengedepankan ikhtiar serta tawakal dalam
menghadapi berbagai risiko kehidupan.
Dan untuk konteks Sumatera Barat, yang
berada di jalur Sesar Sumatra serta ragam potensi bencana lainnya, pendekatan
mitigasi yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam, dapat menjadi fondasi kuat
dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.(*)
Penulis: Nova Indra
(Direktur P3SDM Melati, Direktur Alpha Rescue, Alumni Kulliyatul Muballighien
Muhammadiyah)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar