SIAGA-FM – Sejumlah BPBD dari berbagai daerah di Indonesia Timur, ikuti Bimbingan Teknis Tim Reaksi Cepat (TRC) Penanggulangan Bencana Bidang Logistik dan Peralatan Tahun 2025. Kegiatan tersebut resmi digelar di Makassar mulai Rabu, 26 November 2025.
Saat pembukaan
kegiatan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Sulawesi
Selatan, Dr. dr. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., M.M., M.H., menekankan pentingnya
penguatan kapasitas TRC sebagai ujung tombak penanganan kedaruratan.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan
apresiasi kepada BNPB atas konsistensi dalam meningkatkan kompetensi daerah
dalam respons bencana. Kegiatan ini dinilai strategis karena TRC memegang peran
penting dalam kaji cepat, evakuasi, serta distribusi logistik pada situasi
darurat.
Ishaq memaparkan
tingginya tingkat kerawanan bencana di provinsi tersebut, terutama bencana
hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.
Diketahui, sepanjang
Januari hingga November 2025, tercatat 724 kejadian bencana dengan dampak
signifikan berupa korban jiwa, kerusakan sarana prasarana, serta kerugian
mencapai lebih dari Rp 68 miliar.
Menurut Indeks Risiko
Bencana Indonesia (IRBI), wilayah Indonesia Timur memiliki potensi bencana
geologis dan hidrometeorologis yang tinggi, sehingga peningkatan kapasitas
daerah menjadi kebutuhan yang mendesak.
Sementara itu Dra.
Andi Eviana, M.Si. selaku Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB, dalam
sambutannya memaparkan gambaran lebih luas mengenai kondisi kebencanaan
nasional.
Berdasarkan data yang
diterbitkan BNPB per tanggal 26 November 2025, tercatat telah terjadi 2.942
kejadian bencana terjadi sepanjang 2025, yang didominasi bencana
hidrometeorologi hingga 98 persen. Dampaknya sangat besar, mulai dari 5.612.276
jiwa terdampak hingga kerusakan infrastruktur yang mencapai 36.799 unit. Dengan
nilai kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp 22,8 triliun. Sementara alokasi
pemerintah masih jauh dari kebutuhan, sehingga inovasi pembiayaan seperti Pooling
Fund Bencana menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan anggaran.
Andi Eviana juga
menegaskan, sistem logistik dan peralatan merupakan faktor penentu keberhasilan
penanggulangan bencana, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana.
Daerah didorong untuk
memperkuat kemandirian melalui penyediaan anggaran pemeliharaan dan
operasional, membangun kemitraan dengan dunia usaha dan lembaga internasional,
serta aktif melaporkan peralatan melalui aplikasi Lapor Logpal dan Lapor
Klaster BNPB, agar kapasitas daerah dapat dipetakan secara akurat. Upaya itu
dinilai penting agar penanganan bencana dapat berjalan cepat, terukur, dan responsif.
Pada kesempatan itu, Deputi
Bidang Logistik dan Peralatan juga menjadi salah satu pemateri yang menjelaskan
pentingnya sistem manajemen logistik dan Peralatan.
Pada bimtek ini juga
disampaikan berbagai materi teknis seperti kaji kebutuhan, sistem pergudangan,
mekanisme distribusi, serta pendirian tenda pengungsi dan pengoperasionalan Water
Treatment Portable (WTP) turut dibarengi dengan sesi simulasi untuk memastikan
peserta memahami praktik lapangan secara langsung.
Kegiatan Bimtek TRC
2025 ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor dan
meningkatkan kapasitas sumber daya manusia BPBD di seluruh wilayah Indonesia
Timur. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, BNPB berharap seluruh peserta mampu
mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh untuk memperkuat kesiapan
daerah dalam menghadapi tantangan kebencanaan yang semakin kompleks di masa
mendatang.(SP/Foto: Dok BNPB)





.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar