SIAGA-FM – BMKG menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem peringatan dini cuaca di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai langkah konkret untuk mewujudkan komitmen
tersebut, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung
(ITB) dalam penguatan informasi meterologi berbasis geospasial melalui riset
dan inovasi, guna mendukung mitigasi serta pengurangan risiko.
Sebagaimana diketahui, sejumlah kejadian banjir, banjir
bandang, dan tanah longsor terjadi di wilayah Sumatra dan Jawa pada akhir tahun
2025 hingga awal tahun 2026, menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan terhadap
ancaman hidrometeorologi harus terus ditingkatkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani
menegaskan, penguatan sistem peringatan dini menjadi prioritas utama dalam
menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang semakin kompleks.
“Kejadian hidrometeorologi yang terjadi dalam beberapa
waktu terakhir menunjukkan bahwa kita membutuhkan sistem peringatan dini yang
semakin presisi hingga skala lokal. Informasi yang kami keluarkan harus mampu
menjawab kebutuhan pengambilan keputusan secara cepat, baik oleh pemerintah
daerah maupun masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pentingnya ketersediaan informasi
peringatan dini cuaca yang tidak hanya cepat dan akurat, tetapi juga
komprehensif, mudah dipahami, serta dapat segera ditindaklanjuti sebagai dasar
pelaksanaan mitigasi di lapangan.
“Informasi peringatan dini tidak hanya cepat dan akurat,
namun juga komprehensif, mudah dipahami, dan dapat langsung ditindaklanjuti
untuk dasar melakukan mitigasi di lapangan. Spirit yang kami dorong
adalah Early Warning, Early Action,
Zero Victim, tegasnya.”
Untuk menjawab tantangan tersebut, BMKG menekankan
pentingnya kolaborasi multipihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan
pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media. Sinergi ini mencakup
koordinasi, berbagi data, serta pertukaran keahlian guna memperkuat efektivitas
sistem peringatan dini nasional.
Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB,
wedyanto juga mengatakan bahwa semangat early warning dan zero
victim harus menjadi dasar sekaligus tujuan bersama dalam kolaborasi ini.
“Early warning
dan zero victim menjadi dasar kita
semua, menjadi tujuan kita semua untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia dari
bencana, sekaligus memitigasi risiko yang ada. Zero victim adalah target
bersama yang harus terus kita upayakan,” katanya.
Sebagai langkah konkret, BMKG menjalin kerja sama
strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam dua fokus utama.
Pertama, pengembangan model cuaca resolusi tinggi melalui
skema joint development antara tim BMKG dan ITB. Model ini diharapkan
mampu meningkatkan ketelitian prediksi cuaca hingga skala lokal.
Kedua, penguatan informasi berbasis dampak (impact-based
forecast) beserta model pendukungnya, seperti model risiko, model hidrologi,
dan model hidrodinamika.
Tahap awal implementasi akan difokuskan di wilayah
Jabodetabek yang memiliki kompleksitas risiko banjir tinggi, baik dari sisi
hulu maupun hilir, termasuk potensi banjir pesisir. Integrasi model hidrologi
dan model kelautan menjadi bagian penting dalam sistem ini guna memastikan
peringatan dini yang lebih komprehensif.
BMKG menegaskan bahwa efektivitas peringatan dini sangat
ditentukan oleh rantai informasi yang utuh, mulai dari observasi dan
monitoring, pengolahan data dan pemodelan, diseminasi informasi, hingga respons
nyata dari pemerintah dan masyarakat.
Melalui kerja sama ini, BMKG berharap dapat memperkuat
basis sains, meningkatkan kapasitas keahlian, serta mempercepat adopsi inovasi
teknologi dari riset ke operasional (research
to operation, operation to research).





.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar