Ingatkan Pemda, BRIN: Mitigasi Bencana Berbasis Riset Bagian Strategi Pembangunan - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad


Sabtu, 28 Februari 2026

Ingatkan Pemda, BRIN: Mitigasi Bencana Berbasis Riset Bagian Strategi Pembangunan


SIAGA
-FM
– Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amarulla Octavian, menegaskan pentingnya

 

Penguatan kebijakan mitigasi risiko bencana berbasis riset dan inovasi dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan dinilai sangat penting.

 

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amarulla Octavian saat membuka webinar bertema Strategi Mitigasi Risiko Bencana melalui Penguatan Kebijakan Berbasis Riset dan Inovasi Daerah: Praktek Baik Penanganan Bencana di Provinsi Sumatera Barat yang digelar secara daring, Kamis (26/2) lalu.

 

Menurut Amarulla, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi, khususnya di wilayah Sumatera yang kerap menghadapi banjir, banjir bandang, tanah longsor, serta potensi gempa bumi dan tsunami.

 

“Penguatan kebijakan mitigasi risiko bencana berbasis riset dan inovasi menjadi kebutuhan strategis dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, riset dan inovasi harus menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan, agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, akurat, dan berkelanjutan. Dalam konteks penanggulangan bencana di Sumatera, BRIN telah membentuk Task Force Supporting Penanggulangan Bencana sebagai wujud nyata peran lembaga melalui pendekatan ilmiah.

 

BRIN juga melakukan survei dan pemetaan wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat guna menghasilkan data spasial yang akurat sebagai dasar kebijakan penanganan bencana, baik pada fase darurat maupun pemulihan. Data tersebut sekaligus menjadi pijakan dalam perencanaan mitigasi bencana yang lebih komprehensif.

 

BRIN juga melaksanakan kajian forensik kayu untuk menelusuri asal-usul material kayu yang terbawa banjir dan longsor. Kegiatan ini dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga bersama Bareskrim Polri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

 

Pendekatan ilmiah ini bertujuan menyediakan bukti ilmiah bagi penanganan pascabencana sekaligus mendukung kebijakan lingkungan dan tata kelola sumber daya alam.

 

Di tingkat daerah, mitigasi risiko bencana diwujudkan melalui integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam dokumen perencanaan pembangunan seperti RPJMD, RKPD, dan Rencana Kontingensi Daerah. Dengan pendekatan ini, mitigasi tidak lagi bersifat responsif, tetapi menjadi bagian integral dari strategi pembangunan daerah.

 

“Melalui forum ini, kami berharap terbangun pemahaman bersama bahwa mitigasi risiko bencana tidak cukup hanya berbasis pengalaman, tetapi harus diperkuat dengan bukti ilmiah, data yang valid, serta inovasi teknologi yang aplikatif,” tutup Amarulla saat secara resmi membuka webinar tersebut. (brin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad