SIAGA-FM –
Beragam bencana telah berulangkali menimpa negeri ini. Setiap daerah nyaris
merata mengalami bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kebakaran
pemukiman penduduk, gempa bumi, banjir bandang dan tanah longsor, banjir lahar
dingin gunung api, erupsi gunung berapi, hingga bencana lainnya yang bersifat
lokal.
Pemerintah pusat hingga daerah pun harus berjibaku
melakukan penanganan terhadap bencana yang melanda. Korban jiwa dan harta-benda
pun berjatuhan. Bukan hanya itu, dampak pasca bencana terus menjadi persoalan
baru di daerah-daerah yang terdampak. Kehilangan rumah tinggal, sekolah yang hancur,
rumah ibadah yang roboh, menyebabkan terhambatnya aktivitas masyarakat. Semua
itu, menjadi pemandangan umum ketika bencana datang menimpa.
Penanganan bencana, mulai dari langkah-langkah mitigasi;
sebagai upaya mengurangi risiko terhadap kehidupan manusia itu sendiri, hingga
penanggulangan di masa tanggap darurat serta masa-masa recovery, merepotkan
banyak pihak, terutama pemerintah sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada warga.
Bukan hanya itu, di lapangan pun terlihat
kesulitan-kesulitan bagi masyarakat terdampak. Mulai dari masalah komunikasi,
ekonomi, pendidikan, hingga untuk bertahan dalam keseharian pun menjadi bagian
perjuangan warga melanjutkan hidupnya di tengah bencana.
Bagaimana kita bersikap dalam hal ini. Tidak selamanya
penanganan bencana bisa langsung ditangani oleh pemerintah. Berbagai
keterbatasan pun kita miliki bersama di lingkungan pemerintahan. Pendananaan,
kelengkapan peralatan, kekuatan personel penanganan bencana, semuanya terbatas.
Sementara di lain sisi, warga masyarakat pun memiliki keterbatasan dalam hal
literasi kebencanaan itu sendiri.
Satu saluran
komunikasi
Membangun literasi kebencanaan, adalah salah satu upaya
penting yang mesti dilakukan di tengah masyarakat. Bukan harus dengan
menyelenggarakan pelatihan dan penyuluhan secara pribadi untuk menjangkau
warga. Cukup dengan melibatkan elemen-elemen warga yang nantinya akan
meneruskankembangkan informasi peningkatan literasi kebencanaan hingga ke akar
rumput.
Sementara itu, kehadiran elemen dan stakeholder kebencanaan yang menjamur di tiap daerah, adalah
kekuatan utama yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah; dalam hal ini Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai leading sector penanganan bencana. Kehadiran stakeholder kebencanaan seperti organisasi radio komunikasi
darurat, potensi SAR, paguyuban warga sadar bencana, dapat disatukan dalam
sebuah wadah kesatuan komunikasi.
Penyatuan wadah informasi tersebut, juga dapat dilakukan
bersamaan dengan tergabungnya elemen lain seperti unsur pemadam kebakaran,
Satuan Polisi Pamong Praja, institusi layanan kesehatan, serta unsur lainnya
yang berkaitan dengan penanganan bencana serta mitigasi. Wadah komunikasi itu,
dapat berbentuk saluran khusus radio komunikasi menggunakan repeater milik
BPBD.
Selain itu, mengadopsi kemajuan teknologi komunikasi dua
arah, setiap daerah [BPBD], dapat membentuk saluran baru menggunakan aplikasi
dengan menggunakan radio HT berbasis internet. Hal ini dilakukan untuk
meminimalisasi permasalahan jangkauan pendek dari radio HT Analog.
Adanya saluran yang sama, dapat mengatasi berbagai
keterlamatan informasi penanganan bencana yang ada di daerah. Sebagai contoh,
ketika terjadi kebakaran di satu titik, informasi yang beredar di saluran
tersebut akan didengar oleh semua elemen. Setiap elemen akan bergerak sesuai
dengan bidang kerjanya masing-masing. Tim pemadam bergerak, stakeholder lainnya
menyiapkan hal lainnya seperti penyiapan layanan kesehatan di pusat-pusat
layanan, bidang lainnya pun akan turut serta melakukan persiapan sesuai
kapasitas.
Untuk penggunaan HT berbasis internet ini, kini sangat
banyak aplikasi yang dapat dipakai oleh elemen daerah dalam hal komunikasi dua
arah. Apklikasi Zello, Teamspeak3, Mumble, WalkieFleet, dan aplikasi lain yang
sangat memudahkan komunikasi radio terbentuk.
Kiranya, dengan penyatuan wadah komunikasi seluruh stakeholder kebencanaan ini, dapat
mengurangi kerja-kerja yang selama ini terbentur pada ruang-ruang berbeda di
masing-masing elemen. Dan penanganan bencana, dapat dilakukan dengan lebih
efektif karena semua elemen warga secara langsung dapat membantu tahapan dan
prosesnya. (*)
Penulis: Nova Indra (Direktur P3SDM Melati,
Pimpinan Alpha Rescue, Pegiat Literasi, Wartawan – Penulis)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar