10 Tahun WCSSP SEA, BMKG Tunjukkan Peran Krusial - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Selasa, 26 Mei 2026

10 Tahun WCSSP SEA, BMKG Tunjukkan Peran Krusial


SIAGA
-FM
– Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Urip Haryoko didampingi oleh Dr. Erwin S. Makmur sebagai Science Lead, turut berpartisipasi aktif dalam workshop regional di Cebu pekan lalu.

 

BMKG bersama para ahli meteorologi se-Asia Tenggara dan Inggris, baru saja merampungkan Regional Workshop dalam rangka kolaborasi 10 tahun Weather and Climate Science for Service Partnership Southeast Asia (WCSSP SEA).

 

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 21 Mei 2026 di Cebu Filipina itu, mengusung tema besar perayaan satu dekade kolaborasi, yakni transisi krusial dari inovasi saintifik menuju aplikasi prakiraan cuaca yang efektif dan dapat langsung ditindaklanjuti.

 

Agenda strategis ini menjadi tonggak penting dalam upaya kolektif memajukan pemahaman atmosfer dan kemampuan prediksi cuaca guna melindungi kehidupan serta mata pencaharian komunitas rentan di seluruh kawasan Asia Tenggara.

 

Hubungan bilateral yang terjalin erat antara BMKG dan United Kingdom Meteorological Office (UK Met Office) telah berjalan kukuh selama sepuluh tahun sejak rintisan awalnya pada tahun 2016.

 

Kemitraan strategis tersebut, memfokuskan sumber dayanya pada pengembangan layanan informasi cuaca dan iklim berbasis sains mutakhir.

 

Dalam ekosistem WCSSP SEA, kolaborasi ini memfasilitasi ruang bagi para ilmuwan, prakirawan, dan pengambil kebijakan lintas negara untuk saling bertukar pengetahuan, mengevaluasi kemajuan riset, membangun jejaring kelembagaan yang tangguh, serta merancang proyek percontohan layanan peringatan dini bencana yang berdampak nyata bagi publik.

 

Selama sepuluh tahun perjalanannya, kontribusi talenta lokal BMKG sangat menonjol dan krusial pada tiga paket kerja (Working Package) utama program kemitraan ini.

 

Pada bidang pemahaman sains skala global, periset BMKG secara konsisten menganalisis proses atmosfer berskala besar, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan dinamika gelombang ekuatorial, yang kerap menjadi penyebab utama pemicu cuaca berdampak tinggi di Indonesia.

 

Di ranah pengembangan sains skala regional, kemandirian teknologi anak bangsa dibuktikan melalui kemajuan pesat dalam operasionalisasi sistem model prediksi cuaca numerik (InaNWP) serta sistem pemodelan atmosfer-laut (InaCAWO).

 

Puncaknya, pada esensi penerjemahan sains ke ruang publik, BMKG telah berhasil menancapkan fondasi kuat dalam implementasi Layanan Peringatan Dini Berbasis Dampak atau Impact-Based Forecast Warning Service (IBFWS), sebuah lompatan paradigma dari yang semula hanya sekadar menginformasikan “cuaca apa yang akan terjadi”, kini berevolusi menjadi peringatan tentang “dampak apa yang akan ditimbulkan oleh cuaca tersebut” secara spesifik.

 

Para kegiatan itu, peneliti dan pakar operasional BMKG membagikan berbagai hasil riset terbarunya dalam sesi diskusi pleno dan pertukaran pakar yang intensif. (SP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner