SIAGA-FM – Sebagai garda terdepan penanganan bencana, BPBD Kota Makassar bentuk
15.520 relawan Kencana dan Kaltana. Ribuan relawan ini akan dikukuhkan
oleh Walikota Makassar Munafri Arifuddin Selasa (14/7) besok.
Kepala Pelaksana
BPBD Makassar Fadli Tahar di Makassar, menegaskan, pembentukan relawan ini
merupakan langkah fundamental membangun ketangguhan dari sisi sumber daya
manusia.
"Saat banyak
daerah masih berfokus pada pembangunan infrastruktur kebencanaan, kami di
Makassar mengambil langkah yang lebih mendasar dengan membangun manusianya,"
ujar Fadli.
Program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) dan Kelurahan
Tangguh Bencana (Kaltana) ini
merekrut 2.520 anggota yang berasal dari representasi masyarakat. Mereka
dipersiapkan menjadi ujung tombak dalam mitigasi, kesiapsiagaan, respons awal,
hingga pemulihan bencana di wilayahnya masing-masing.
Selain pengukuhan
relawan, agenda kedua adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BPBD
Makassar dengan 13 perguruan tinggi. Kerja sama ini menghadirkan pendidikan
kebencanaan sebagai bagian dari pembelajaran akademik yang setara dengan 2–4
SKS.
Program pendidikan
ini mencakup pelatihan mitigasi bencana, manajemen bencana, medis
rescue, vertical rescue, dan water rescue.
Targetnya adalah melahirkan 13.000 mahasiswa yang memiliki kompetensi dasar
penanggulangan bencana dan siap diterjunkan sebagai relawan kemanusiaan.
"Kami
membangun dua lapis pertahanan sekaligus. Pertama, masyarakat melalui 2.520
anggota Kencana dan Kaltana. Kedua, generasi muda melalui 13 perguruan tinggi
yang kami siapkan menjadi SDM kebencanaan. Inilah investasi yang manfaatnya
akan dirasakan jauh melampaui hari ini," terang Fadli.
Dua kebijakan
strategis itu, diluncurkan pada Apel Kesiapsiagaan Bencana 2026 yang digelar di
kawasan MNEK. Fadli meyakini, langkah tersebut akan menjadi model penguatan
ketangguhan daerah di Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim dan
meningkatnya risiko bencana.
Fadli menekankan
bahwa kekuatan terbesar sebuah kota bukan hanya terletak pada alat berat,
kendaraan, atau teknologi, melainkan pada manusia yang siap bertindak.
"Kami ingin
setiap kelurahan memiliki orang-orang yang mampu menyelamatkan lingkungannya
sendiri, dan setiap kampus melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara
akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kemanusiaan," ucapnya.
Ia menambahkan,
kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi merupakan
fondasi baru dalam membangun ketahanan daerah. "Ketangguhan tidak lahir
ketika bencana datang, tetapi dibangun jauh sebelum bencana terjadi,"
pungkasnya.(source: republika/foto: Antara)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar