SIAGA-FM – Wakil Ketua Komisi VIII DPR Abidin Fikri mendesak pemerintah melakukan langkah taktis dan terintegrasi untuk melakukan rehabilitasi maupun rekonstruksi korban bencana di Sumatra.
Abidin menyebut, penanganan rekonstruksi
dan rehabilitasi bencana harus terintegrasi sejauh mungkin terhindar dari ego
sektoral kementerian, lembaga dan pemerintah daerah.
“Kehidupan mereka (korban terdampak)
harus diperhatikan secepatnya karena hari demi hari situasinya akan
memprihatinkan, jika tidak segera memiliki hunian tetap. Negara tidak boleh
lambat, apalagi lalai memberikan perlindungan terhadap mereka,” ujar Abidin di
Jakarta, Kamis (15/1) kemarin.
Isu penanganan bencana menjadi salah satu
materi bahasan pada Konsolidasi dan Pembekalan Fraksi PDI Perjuangan DPR RI di
Megamendung, Kabupaten Bogor yang berlangsung Jumat-Sabtu (16-17/1). Delapan
anggota Kelompok Komisi (Poksi) VIII juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Penanganan cepat terhadap korban bencana
banjir bandang di Sumatera ini penting, karena jutaan warga sudah hidup tanpa
rumah yang layak lebih dari sebulan. Dari data terakhir pemerintah, bencana mengakibatkan
setidaknya 238.783 rumah rusak dan 29 desa hilang.
Anggota Fraksi
PDIP itu berharap data kerusakan yang dimiliki pemerintah tidak hanya berhenti di meja
rapat, tetapi ditindaklanjuti
dengan kebijakan strategis. Pemerintah juga perlu memastikan kecukupan anggaran
untuk merealisasikan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi ini agar proses
pemulihan tidak terkatung-katung.
Selain itu, anggota DPR dari Daerah
Pemilihan (dapil) Jawa
Timur IX yang meliputi Kabupaten Bojonegoro dan Tuban itu terus menyisir pendataan para korban
bencana. Sebab melihat luasnya wilayah bencana, dimungkinkan ada
hambatan-hambatan saat proses pendataan di lapangan.
Merujuk dari terakhir pemerintah, bencana
banjir dan longsor akhir November 2025 lalu menyebabkan 208.693 unit rumah di
Aceh rusak. Disusul Sumatera
Utara sebanyak 24.294 unit dan Sumatera Barat sebanyak 5.796 unit.
“Pendataan tidak cukup sekali. Manfaatkan
teknologi dalam upaya pemetaan sekaligus proses rehabilitasi sehingga warga
bisa kembali menjalani kehidupan lebih aman sekaligus dana yang digelontorkan
juga tepat sasaran,” pinta Abidin.
Kecepatan dalam pemulihan korban bencana,
menurut Abidin, juga membangun kembali mental para penyintas agar tidak terus
terpuruk. Psikologi para korban juga terbentuk baik sehingga memiliki keyakinan
dan kepercayaan diri untuk bisa hidup kembali normal.
Di sisi lain, efek dengan pulihnya
kehidupan korban, maka roda perekonomian juga kian bergeliat. Hal ini berdampak
positif terhadap terbangunnya tatanan sosial dan mencegah terjadinya potensi
negatif seperti kemiskinan, kriminalitas dan lainnya.
“Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi bencana Sumatera
memang tidak enteng. Butuh kebijakan kuat dan anggaran besar. Untuk itu,
pemerintah tidak boleh bekerja sendirian, tapi merangkul swasta, pengusaha,
akademisi, tokoh dan masyarakat sendiri,” harap Abidin. (*/jawapos)






.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar