SIAGA-FM – Wilayah Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga gempa bumi, semuanya bisa terjadi tanpa mengenal waktu dan tempat.
Bencana tidak pernah datang dengan aba-aba. Mereka bisa
muncul kapan saja, bahkan saat kita merasa sedang berada dalam kondisi yang
aman. Namun, persoalan utama yang sering kali tidak disadari bukan semata-mata
bencananya, melainkan ketidaksiapan manusia dalam menghadapinya.
Banyak peristiwa menunjukkan, kepanikan justru
memperparah keadaan. Orang-orang berteriak, berlari tanpa arah, dan saling
bertabrakan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dari sini, menjadi
jelas, kesiapsiagaan adalah kunci. Inilah mengapa pemahaman tentang mitigasi bencana menjadi penting,
dan pendidikan mitigasi seharusnya dimulai sejak bangku sekolah.
Selama ini, mitigasi sering disalahpahami sebagai upaya
untuk mencegah bencana. Padahal, bencana alam tidak bisa sepenuhnya dihindari.
Inti dari mitigasi adalah mengurangi risiko, meminimalkan korban, serta menekan
kepanikan ketika bencana benar-benar terjadi. Orang yang memiliki pemahaman
mitigasi cenderung lebih tenang dan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat
dalam situasi darurat.
Mitigasi bukan tentang menjadi berani melawan bencana,
melainkan tentang tahu apa yang harus dilakukan agar tetap selamat. Sayangnya,
pemahaman ini masih sering berhenti pada sekadar hafalan materi dan teori.
Mitigasi Penting
Diajarkan Langsung pada Anak?
Bagi anak-anak, bencana bukan sekadar peristiwa alam,
melainkan juga pengalaman yang dapat meninggalkan dampak psikologis jangka
panjang. Ketakutan, trauma, bahkan rasa tidak aman bisa muncul jika mereka
tidak dibekali pemahaman yang cukup.
Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan mitigasi sejak
dini agar anak-anak setidaknya tahu bagaimana bersikap dan tidak panik ketika
berada dalam situasi darurat.
Saat ini, mitigasi kerap hadir hanya dalam bentuk
sosialisasi sesekali. Memang, beberapa materi sudah terintegrasi dalam
pelajaran sekolah, seperti IPAS yang membahas lingkungan atau Pendidikan
Pancasila yang menekankan gotong royong.
Namun, pembelajaran tersebut sering berhenti pada
pemahaman konsep. Padahal, akan jauh lebih efektif jika materi mitigasi tidak
hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan secara langsung.
Dengan praktik, peserta didik tidak hanya mengetahui
teori tentang gempa melalui struktur bumi atau ekosistem sungai, tetapi juga
memahami bagaimana bereaksi jika berada dalam kondisi tersebut. Anak-anak bisa
belajar cara menenangkan diri, mengikuti jalur evakuasi, hingga mencari tempat
aman saat mendengar sirene bahaya.
Dengan begitu, simulasi tidak lagi menjadi agenda tahunan
atau semesteran semata, melainkan bagian dari proses belajar di setiap jenjang
pendidikan.
Bencana Tak Selalu
Datang dari Alam
Tidak sedikit yang beranggapan bahwa sekolah atau daerah
tempat tinggalnya aman dan minim bencana. Namun, risiko tidak selalu datang
dalam bentuk banjir atau gempa. Korsleting listrik, kebakaran, atau kebocoran
gas bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah. Tanpa pemahaman
mitigasi yang baik, situasi darurat semacam ini justru bisa memicu kepanikan
massal yang memperburuk keadaan.
Dengan kata lain, meskipun merasa berada di lingkungan
yang aman, kesiapsiagaan tetap diperlukan. Hal-hal sederhana seperti menyimpan
dokumen penting di tempat aman atau menyiapkan tas siaga bencana bisa menjadi
langkah awal membangun kesadaran mitigasi.
Mengajarkan mitigasi bukan berarti menakut-nakuti anak.
Justru sebaliknya, mitigasi membekali mereka dengan ketenangan dan kesiapan.
Anak-anak termasuk kelompok yang rentan saat krisis terjadi sehingga sekolah
memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang tidak mudah panik ketika
menghadapi situasi darurat.
Tentu, peran ini tidak hanya dibebankan pada sekolah.
Keluarga dan lingkungan sekitar juga memiliki tanggung jawab yang sama. Oleh
karena itu, mitigasi bukan sekadar menghafal prosedur, melainkan membangun refleks
dan kesadaran agar setiap orang tahu apa yang harus dilakukan ketika keadaan
darurat benar-benar datang. (source: yoursayid)





.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar