SIAGA-FM – Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat kondisi geografis dan geologisnya. Terletak di kawasan Cincin Api Pasifik yang menjadikannya rentan terhadap berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, dan tanah longsor
Upaya mitigasi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif individu sebagai unit terkecil
dalam masyarakat. Dalam konteks ini, individu memiliki peran strategis dalam
menentukan keberhasilan mitigasi.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, mitigasi didefinisikan sebagai upaya untuk mengurangi
risiko bencana melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kesadaran dan
kemampuan masyarakat.
Mitigasi merupakan bagian dari siklus manajemen bencana
yang berfokus pada upaya sebelum bencana terjadi. Andrew Maskrey menyatakan,
mitigasi bertujuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap ancaman
bencana melalui pendekatan struktural dan non-struktural.
Selain itu, konsep mitigasi juga mencakup peningkatan
kapasitas individu dan komunitas dalam menghadapi risiko (UNISDR, 2015).
Menurut Dennis S. Mileti, efektivitas mitigasi sangat
bergantung pada perilaku masyarakat dalam memahami risiko dan mengambil
tindakan preventif. Oleh karena itu, mitigasi berbasis individu perlu
dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana.
Peran Individu
dalam Kesiapsiagaan Bencana
Kesiapsiagaan individu berkaitan erat dengan persepsi
risiko dan pengalaman sebelumnya. Penelitian oleh Ben Wisner et al. (2004)
menekankan bahwa faktor sosial, ekonomi, dan pengetahuan sangat memengaruhi
kemampuan individu dalam merespons bencana. Individu yang memiliki pengetahuan
dan kesiapan cenderung lebih cepat mengambil keputusan yang tepat saat terjadi
bencana.
Masing-masing orang, perlu memahami jenis bencana yang
berpotensi terjadi di lingkungannya. Hal ini mencakup identifikasi jalur
evakuasi, titik kumpul, serta tanda-tanda awal bencana. Kesadaran risiko
menjadi langkah awal dalam mitigasi.
Untuk membangun kesiapan warga, latihan secara berkala
membantu individu membentuk respons otomatis saat terjadi bencana. Simulasi
seperti evakuasi gempa terbukti meningkatkan kecepatan dan ketepatan tindakan.
Selain itu, kondisi psikologis memengaruhi kemampuan
individu dalam mengambil keputusan saat bencana. Individu yang mampu
mengendalikan kepanikan akan lebih efektif dalam menyelamatkan diri.
Sisi lain yang tak kalah penting adalah mitigasi struktural
sederhana seperti mengamankan perabot, memperbaiki drainase, dan memilih lokasi
tempat tinggal yang aman dapat mengurangi dampak bencana.
Sementara itu, keterlibatan dalam komunitas selaras, juga
turut meningkatkan kapasitas kolektif dalam menghadapi bencana. Solidaritas
sosial menjadi faktor penting dalam proses evakuasi dan pemulihan.
Kesimpulannya, mitigasi bencana berbasis individu
merupakan langkah fundamental dalam mengurangi risiko bencana. Kesiapsiagaan
yang dimulai dari diri sendiri dapat meningkatkan peluang keselamatan serta
mempercepat proses pemulihan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dalam
meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas individu sebagai bagian dari
strategi pembangunan masyarakat tangguh bencana.(*)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar