SIAGA-FM –Saat ini, ancaman bencana baru muncul di depan mata. Setelah banjir dan longsor, kini giliran kemarau ekstrem yang diprediksi datang lebih cepat.
Pakar Ilmu Tanah Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian
Fiantis mengatakan, BMKG mengumumkan musim kemarau 2026 berpotensi dimulai
sejak April di sejumlah wilayah. Fenomena El Nino memperbesar risiko cuaca yang
lebih panas dan kering dari biasanya.
Ia menilai, kondisi itu bukan sekadar perubahan musim
biasa. Dampaknya bisa langsung dirasakan pada tanah dan produktivitas
pertanian.
Dian menjelaskan, tanah memiliki kemampuan menyimpan air
layaknya spons saat musim hujan. Namun saat kemarau panjang terjadi, cadangan
air tersebut akan terus menyusut hingga menghilang.
Ia menyampaikan, penurunan curah hujan akibat El Nino
membuat awan pembawa hujan menjauh dari Indonesia. Akibatnya, kelembapan tanah
berkurang perlahan melalui penguapan dan kebutuhan tanaman.
"Gejala awal kekeringan dapat dilihat dari retakan
di permukaan tanah, terutama pada tanah liat. Retakan itu menjadi tanda bahwa
cadangan air di dalam tanah sudah menipis secara signifikan," ucapnya,
Selasa kemarin di Padang, sebagaimana dikutip dari RRI.
Lebih jauh Dian menambahkan, kekeringan juga mengganggu
mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan. Kondisi ini
membuat unsur hara sulit dimanfaatkan tanaman dan berpotensi menekan hasil
panen.(RRI)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar