SIAGA-FM – Sejarah kegempaan di negeri ini, khususnya Sumatra Barat, memiliki kisah panjang. Puluhan gempa bumi, pernah meluluhlantakkan Ranah Minang sejak masa penjajahan Belanda hingga di zaman maju ini.
Semua elemen masyarakat dipastikan mengenal Gempa Padang Panjang
1926. Gempa yang terjadi pada Senin, 28 Juni 1926, dengan titik pusat Padang
Panjang tersebut menjadi sejarah yang tidak pernah dilupakan masyarakat daerah
ini turun temurun.
Menurut catatan, gempa yang terjadi pada pukul 10 pagi dan pukul 14.00
siang tersebut, meluluhlantakkan Padang Panjang dan sekitarnya, sebagaimana
ditulis koran Nieuwe Haarlemsche terbitan
30 Juni 1926 dengan headline "Gempa
di Sumatera: Padang Panjang Hampir Hancur".
Tak hanya di Padang Panjang, gempa tersebut juga
menghancurkan beberapa daerah lainnya seperti Padang, Fort de Kock
(Bukittinggi), Singkarak, Cupak, Lembah Anai, Solok, Alahan Panjang, Pariaman,
Maninjau, hingga ke Payakumbuh. Bahkan getarannya sampai ke daerah Muara Labuh,
Jambi, dan Bengkulu.
Korban pun berjatuhan ketika itu. Dua puluh tujuh orang
menjadi korban, ditarik dari bawah reruntuhan di Singakarak, satu di Andalas,
dua di Padang Lawas, tiga di Batu Taba, enam di Batipuh Baruah dan 15 di Guguk.
Di nagari terakhir, para korban, termasuk 14 anak,
diseret ke Danau Singkarak oleh air yang naik dan tenggelam. Di Kecamatan
Sumpur, 674 rumah roboh atau rusak berat dan lebih banyak lagi di Padang Panjang
dan Solok. Sekitar 350 orang diketahui meninggal dalam bencana tersebut
dan ada ribuan korban luka-luka.
Menurut data, gempa bumi tersebut juga menimbulkan
tsunami di Danau Singkarak Tanah Datar serta longsor di berbagai wilayah. Gempa
tersebut menghancurkan banyak bangunan penting sekaligus memakan banyak korban.
Menurut laporan Koran Deli (29/6/1926), stasiun, kantor
pos, sekolah, apotek, dan sebagian besar kamp Tionghoa telah runtuh, begitupun
dengan bangunan di sepanjang jalan Koto Baru dan Padang Panjang. Sementara
semua bangunan militer di Padang Panjang rusak, bahkan Rumah Sakit militer ikut
runtuh.
Tak hanya bangunan, gempa tersebut juga merusak jalur
transportasi dan komunikasi. Jembatan kereta api di Kandang Ampek, Lembah Anai
dan Padang Luar rusak berat, begitupun dengan tiang-tiang telegraf. Akibatnya
akses transportasi dan komunikasi terhambat. Dengan terputusnya sambungan telegraf
antara Padang Panjang dengan Padang, pada saat kejadian pemerintah tidak
mengetahui tentang detail peristiwa, kerusakan maupun jumlah korban akibat
gempa tersebut.
Kini, peristiwa itu telah berusia hampir 100 tahun. Momen
tersebut menjadi penting untuk mengingatkan kita semua agar selalu waspada, membangun
kesiapsiagaan tanpa kata ‘tapi’. Pemerintah, lapisan masyarakat, dan semua
elemen yang ada, seharusnya mulai berbenah menyiapkan segala sesuatu untuk
lebih siap.
Peringatan 100 Tahun Gempa Padang Panjang, bukan hanya
untuk warga kota itu saja. Lebih luas, kesiapsiagaan semua elemen harus
terbentuk di Ranah Minang. Negeri ini adalah wilayah yang rentan.
Sepanjang waktu, pergerakan Sesar Besar Sumatra (Patahan Semangko)
sepanjang 1900 kilometer yang membentang dari Lampung hingga Aceh, terus
mengintai. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah kodrat bumi yang terus
bergerak aktif di keraknya, hanya kewaspadaan dengan segala kesiapan harus
dimiliki setiap kita.
Peringatan 100 Tahun Gempa Padang Panjang, akan menjadi
rangkaian bukti kita mawas diri. Siap untuk Selamat, jargon yang bukan hanya
sekadar isapan jempol belaka, namun perlu kita implementasikan dalam program-program
nyata. (*)
Penulis: Nova Indra (Penulis, Wartawan,
Pimpinan Alpha Rescue, Direktur P3SDM Melati)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar