SIAGA-FM – Plt.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkap, gempa Bitung,
Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4) pagi, yang berlokasi di 1.25 derajat LU -
126,27 BT, merupakan jenis gempa megathrust.
Menurutnya, dengan memperhatikan lokasi episenter dan
kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal
akibat aktivitas Subduksi Laut Maluku. Hasil analisis menunjukkan mekanisme
sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust).
"Kalau melihat kedalamannya cukup dangkal, 33
km, kalau kategori megathrust itu kan sampe kedalamannya sekitar puluhan
kilometer, ini dangkal, di laut, dan ini termasuk megathrust ya, dari subduksi
laut Maluku terhadap di wilayah Sulut," kata Rahmat dalam konferensi pers
yang digelar secara daring, Kamis (2/4/2026).
Jadi,sambungnya, subduksi laut Maluku yang
menunjam ke wilayah Sulawesi Utara dan episenter ada di Punggungan Mayu.
“Dan kemudian cukup dangkal dan ini kategori sesar naik.
Makanya ini tadi kami mengeluarkan warning karena sesar naik itu potensi
menimbulkan tsunaminya sangat tinggi dibandingkan dengan yang mekanisme
mendatar," imbuhnya.
Sementara itu Anggota Pusat Studi Gempa Nasional
(Pusgen) Daryono menjelaskan, gempa yang mengguncang Laut Maluku mengingatkan,
kawasan ini bukan sekadar perairan biasa, melainkan salah satu zona tektonik
paling kompleks dan aktif di dunia.
Menurut Daryono, Zona Laut Maluku tergolong unik
karena berada dalam sistem subduksi ganda-lempeng yang "terjepit"
dari dua arah.
Kondisi itu menciptakan tekanan luar biasa yang kerap
dilepaskan dalam bentuk gempa bermekanisme sesar naik (thrust).
"Mekanisme inilah yang paling efektif dalam
mengangkat dasar laut secara tiba-tiba, sehingga berpotensi memicu
tsunami," ujar Daryono dalam keterangannya.
Sementara itu, setelah gempa utama, BMKG mencatat terjadi
11 gempa susulan.
“Hingga pukul 07:00 WIB, hasil monitoring BMKG
menunjukkan adanya 11 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan
magnitudo terbesar yaitu 5,5,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.(*)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar