SIAGA-FM – Di balik keindahan alam dan posisinya sebagai kota pendidikan serta jalur penghubung antardaerah, Kota Padang Panjang menyimpan potensi ancaman bencana yang sangat kompleks.
Foto: Wikimedia/Rhmtdns
Kota ini berada di kawasan rawan banjir, banjir bandang,
longsor, cuaca ekstrem, serta memiliki kedekatan geografis dengan Gunung Marapi
yang aktif. Selain itu, wilayah ini juga dipengaruhi aktivitas Patahan Semangko
khususnya Segmen Sianok dan Sumani yang berpotensi memicu gempa bumi merusak.
Kondisi tersebut menegaskan, mitigasi bencana bukan lagi
pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus menjadi budaya hidup
masyarakat. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama agar masyarakat tidak hanya
menjadi korban saat bencana terjadi, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan
penanggulangan bencana itu sendiri.
Ancaman Nyata yang
Mengelilingi Padang Panjang
Secara geografis, Padang Panjang berada di wilayah perbukitan
dengan curah hujan tinggi. Sepanjang tahun (BPS: 2023), tercatat jumlah curah
hujan 3.715,2 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 254 hari. Bulan Desember
(2023) tercatat sebagai bulan dengan curah hujan tertinggi yaitu 402,6 mm dan
jumlah hari hujan terbanyak yaitu sebanyak 26 hari terjadi hujan dalam satu
bulan.
Kondisi itu menjadikan Kota Padang Panjang rentan
terhadap banjir dan longsor. Terutama ketika sistem drainase tidak mampu
menampung debit air hujan, yang meningkat akibat perubahan tata guna lahan dan
cuaca ekstrem.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena hidrometeorologi
semakin sering terjadi. Intensitas hujan tinggi, perubahan musim yang tidak
menentu, serta meningkatnya kerusakan lingkungan menjadi faktor pemicu
meningkatnya risiko bencana. Perubahan iklim global turut pula memperbesar
ancaman tersebut sehingga Padang Panjang harus memiliki kemampuan adaptasi yang
kuat.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Marapi menjadi
ancaman serius yang tidak dapat diabaikan. Erupsi gunung api Marapi dapat
memicu hujan abu, gangguan kesehatan, kerusakan pertanian, hingga banjir lahar
ketika hujan deras mengguyur material vulkanik di lereng gunung.
Ancaman yang tidak kalah besar berasal dari aktivitas
tektonik. Patahan Semangko merupakan sesar aktif utama di Pulau Sumatera.
Segmen Sianok dan Sumani yang berada dekat daerah ini, memiliki potensi gempa
bumi yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Sejarah mencatat, wilayah Padang
Panjang pernah mengalami berbagai gempa kuat yang menyebabkan korban jiwa dan
kerusakan infrastruktur.
Pakar kebencanaan Indonesia menyatakan, Indonesia tidak
mungkin menghindari bencana karena berada di kawasan cincin api dunia. Yang
dapat dilakukan adalah mengurangi risiko melalui kesiapsiagaan, pendidikan, dan
penguatan budaya sadar bencana.
Pandangan tersebut relevan dengan kondisi Padang Panjang
saat ini. Bencana tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan
apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapan yang memadai.
Mitigasi Bencana
Harus Menjadi Budaya Bersama
Selama ini, paradigma masyarakat terhadap bencana masih
cenderung reaktif. Penanganan baru dilakukan setelah bencana terjadi. Padahal,
paradigma modern penanggulangan bencana menekankan pentingnya pencegahan,
mitigasi, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko.
Hal ini sejalan dengan amanat Badan Nasional
Penanggulangan Bencana melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam
pengurangan risiko bencana. Dalam regulasi tersebut ditegaskan, setiap orang
berhak mendapatkan perlindungan dan pendidikan kebencanaan.
Kesadaran kolektif berarti seluruh elemen masyarakat memiliki
pemahaman yang sama; bencana adalah urusan bersama. Pemerintah tidak mungkin
bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat, sekolah, media, tokoh agama,
organisasi sosial, hingga komunitas pemuda.
Budaya mitigasi harus dibangun mulai dari lingkungan
keluarga. Anak-anak perlu dikenalkan tentang jalur evakuasi, tanda-tanda
bencana, pentingnya tas siaga, dan cara menyelamatkan diri saat gempa bumi
maupun erupsi gunung api. Sekolah harus menjadi ruang aman sekaligus pusat
pendidikan kebencanaan.
Guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter
sadar bencana pada peserta didik. Simulasi evakuasi, pendidikan mitigasi,
hingga pembelajaran berbasis lingkungan perlu dilakukan secara rutin. Kesadaran
yang ditanamkan sejak usia dini akan membentuk generasi yang lebih tangguh
menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Kolaborasi Seluruh
Elemen
Membangun kota tangguh bencana, membutuhkan kolaborasi
yang kuat. Pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan pembangunan berbasis
mitigasi. Infrastruktur publik harus dirancang tahan terhadap risiko bencana.
Drainase kota perlu diperbaiki untuk mengurangi potensi banjir, sementara
kawasan rawan longsor harus diawasi secara ketat.
Selain itu, sistem peringatan dini harus terus diperkuat.
Informasi cuaca, aktivitas vulkanik, maupun potensi gempa harus cepat dan mudah
diakses masyarakat. Peran media massa dan radio komunikasi lokal, sangat
penting dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan secara cepat dan akurat.
Tokoh agama dan tokoh masyarakat, juga memiliki posisi
strategis dalam membangun kesadaran kolektif. Pendekatan budaya dan nilai-nilai
keagamaan dapat memperkuat semangat gotong royong serta kepedulian sosial dalam
menghadapi bencana.
Konsep “masyarakat tangguh bencana” tidak hanya berbicara
tentang kemampuan bertahan saat bencana terjadi, tetapi juga kemampuan untuk pulih
dengan cepat setelah bencana. Oleh sebab itu, penguatan ekonomi masyarakat,
pelatihan relawan, dan pemberdayaan komunitas lokal menjadi bagian penting dari
mitigasi.
Momentum Refleksi
dan Penguatan Ketangguhan Daerah
Padang Panjang perlu menjadikan berbagai kejadian
bencana, seperti gempa 1926 dan 2007, sebagai pelajaran penting untuk
memperkuat kesiapsiagaan. Ancaman banjir bandang, longsor, erupsi, dan gempa
bumi harus dipandang sebagai alarm agar seluruh elemen bergerak membangun
budaya sadar risiko.
Mitigasi tidak boleh hanya menjadi slogan seremonial
tahunan, tetapi harus hadir dalam kebijakan pembangunan, dunia pendidikan, tata
ruang kota, hingga perilaku sehari-hari masyarakat.
Kesadaran kolektif akan melahirkan solidaritas sosial
yang kuat. Ketika masyarakat memiliki kepedulian bersama terhadap keselamatan
lingkungan dan sesama, maka ketangguhan daerah akan semakin kokoh.
Pada akhirnya, membangun kesadaran kolektif mitigasi
bencana bukan hanya tentang menghadapi ancaman alam, tetapi juga tentang
menjaga masa depan generasi. Sebab kota yang tangguh terhadap bencana adalah
kota yang mampu melindungi kehidupan, menjaga keberlanjutan pembangunan, dan
memastikan masyarakatnya tetap aman di tengah berbagai ancaman yang terus
berkembang.(*)
Penulis: Nova Indra (Direktur Alpha Rescue,
Journalist)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar