SIAGA-FM – Sumatra Barat, khususnya Kota Padang Panjang, memiliki kerentanan tinggi terhadap ragam bencana.
Seperti rencana kontijensi yang sedang digarap BPBD
setempat, ada enam potensi bencana yang mengancam wilayah ini. Keenam potensi
bencana itu adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, gempa,
dan bencana gunung api.
Semua potensi kebencanan tersebut, diperkirakan akan
menjadi risiko besar yang dapat saja dihadapi oleh masyarakat. Dan persoalan
bagaimana membangun resiliensi warga menghadapi bencana, turut menjadi urgent diperbincangkan.
Menciptakan masyarakat yang resilien terhadapat bencana,
serta-merta bukan hanya menjadi domain pemerintah saja. Tidak bersandar pada
kekuatan program dan penanganan yang dimiliki pemerintah melalui otoritas yang
ada semata. Resiliensi warga akan terbentuk dengan diawali pehamanan dasar
tentang pentingnya masyarakat diberikan edukasi yang tepat.
Selain itu, di sisi warga, perlu pula diajak untuk
membuka diri terhadap keadaan dan kondisi daerah. Padang Panjang yang seolah
menjadi ‘etalase’ ragam bencana, adalah tempat tinggal yang rentan. Kerentanan
daerah, bagi warga, diharapkan menjadi perhatian dan munculnya kesadaran
bersama agar terbangun budaya tangguh bencana yang selaras.
Lalu, bagaimana terciptanya resiliensi di tengah-tengah
warga yang dihadapkan pada ragam potensi bencana yang tiap saat mengintai? Memaknai
tahapan resiliensi dari American Psychological Association (APA), ada sejumlah
faktor yang memengaruhi terbentuknya resiliensi tersebut.
1.Mengubah
Paradigma
Paradigma masyarakat, perlu
diubah sedemikian rupa tentang sesuatu yang sedang dihadapi. Bahwa Padang
Panjang adalah wilayah yang rentan bencana, perlu disikapi dengan baik oleh
setiap warga.
Memberikan pemahaman tersebut,
dapat dilakukan melalui program sosialisasi berkelanjutan oleh pihak terkait
bersama mitra yang dimiliki. Program pengurangan risiko bencana pun harus
terpapar dengan jelas kepada masyarakat di semua lapisan.
Sehingga, paradigma masyarakat
yang hidup di Padang Panjang berubah dari ketidakpedulian pada kewaspadaan.
Kekhawatiran akan munculnya rasa takut di tengah masyarakat, tentu tidak dapat
pula dihindarkan. Namun, bukankah dengan ketakutan biasanya akan timbul
kewaspadaan, yag pada gilirannya akan mengubah paradigma lama yang tidak peduli
menjadi kesiapsiagaan.
2.Tersedianya
sumber daya sosial yang memadai
Sumber daya sosial adalah
kehadiran seluruh aspek penting dalam hidup. Kehadiran pemerintah melalui
program yang terukur, munculnya kelompok-kelompok sadar bencana yang siap mengedukasi
dan melakukan pendampingan sepanjang waktu, adalah bagian penting dari tahapan
membangun resiliensi warga terhadap bencana di daerah ini.
Banyaknya elemen warga yang
intens mengawal program pemerintah dalam hal penanganan bencana, merupakan
suatu keberuntungan bagi daerah itu sendiri. Semua elemen itu bisa dijadikan
mitra untuk turun ke masyarakat dalam kegiatan-kegiatan nonformal yang lebih
humanis, lebih akrab dan mengena.
Dukungan pemerintah dalam hal
pendanaan untuk kegiatan serupa itu, perlu pula dilakukan. Bukankah mencegah
lebih baik daripada mengobati? Melalui program-program edukasi oleh mitra
pemerintah kepada masyarakat, biayanya pun tidak akan setinggi tanggap darurat
dan recovery pasca bencana.
3.Strategi
siap menghadapi tantangan
Membangun masyarakat yang
resilien, bukan bermakna memberikan pemahaman kepada warga agar selalu tabah
dalam setiap bencana dalam artian menyerah.
Sebaliknya, pemahaman bahwa
dengan strategi kebersamaan dan saling memahami kondisi daerah, bencana bukan lagi
suatu hal yang menakutkan, tetapi lebih pada situasi yang harus dilalui dengan
tingkat survive maksimal.
Resiliensi masyarakat Kota Padang Panjang, adalah tujuan
dari semua program mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Enam
potensi bencana yang ada dalam rencana kontijensi, nantinya akan menjadi
santapan sehari-hari warga, dalam rangka siap untuk selamat. (*)
Penulis: Nova Indra (Pimpinan Alpha Rescue,
Journalist, Penulis buku ‘Langkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang’)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar