Mitigasi Bencana, Membangun Masyarakat Berbudaya Tangguh - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Senin, 18 Mei 2026

Mitigasi Bencana, Membangun Masyarakat Berbudaya Tangguh


SIAGA
-FM
– Sumatra Barat, khususnya Kota Padang Panjang, memiliki kerentanan tinggi terhadap ragam bencana.

 

Seperti rencana kontijensi yang sedang digarap BPBD setempat, ada enam potensi bencana yang mengancam wilayah ini. Keenam potensi bencana itu adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, gempa, dan bencana gunung api.

 

Semua potensi kebencanan tersebut, diperkirakan akan menjadi risiko besar yang dapat saja dihadapi oleh masyarakat. Dan persoalan bagaimana membangun resiliensi warga menghadapi bencana, turut menjadi urgent diperbincangkan.

 

Menciptakan masyarakat yang resilien terhadapat bencana, serta-merta bukan hanya menjadi domain pemerintah saja. Tidak bersandar pada kekuatan program dan penanganan yang dimiliki pemerintah melalui otoritas yang ada semata. Resiliensi warga akan terbentuk dengan diawali pehamanan dasar tentang pentingnya masyarakat diberikan edukasi yang tepat.

 

Selain itu, di sisi warga, perlu pula diajak untuk membuka diri terhadap keadaan dan kondisi daerah. Padang Panjang yang seolah menjadi ‘etalase’ ragam bencana, adalah tempat tinggal yang rentan. Kerentanan daerah, bagi warga, diharapkan menjadi perhatian dan munculnya kesadaran bersama agar terbangun budaya tangguh bencana yang selaras.

 

Lalu, bagaimana terciptanya resiliensi di tengah-tengah warga yang dihadapkan pada ragam potensi bencana yang tiap saat mengintai? Memaknai tahapan resiliensi dari American Psychological Association (APA), ada sejumlah faktor yang memengaruhi terbentuknya resiliensi tersebut.

 

1.Mengubah Paradigma

Paradigma masyarakat, perlu diubah sedemikian rupa tentang sesuatu yang sedang dihadapi. Bahwa Padang Panjang adalah wilayah yang rentan bencana, perlu disikapi dengan baik oleh setiap warga.

 

Memberikan pemahaman tersebut, dapat dilakukan melalui program sosialisasi berkelanjutan oleh pihak terkait bersama mitra yang dimiliki. Program pengurangan risiko bencana pun harus terpapar dengan jelas kepada masyarakat di semua lapisan.

 

Sehingga, paradigma masyarakat yang hidup di Padang Panjang berubah dari ketidakpedulian pada kewaspadaan. Kekhawatiran akan munculnya rasa takut di tengah masyarakat, tentu tidak dapat pula dihindarkan. Namun, bukankah dengan ketakutan biasanya akan timbul kewaspadaan, yag pada gilirannya akan mengubah paradigma lama yang tidak peduli menjadi kesiapsiagaan.

 

2.Tersedianya sumber daya sosial yang memadai

Sumber daya sosial adalah kehadiran seluruh aspek penting dalam hidup. Kehadiran pemerintah melalui program yang terukur, munculnya kelompok-kelompok sadar bencana yang siap mengedukasi dan melakukan pendampingan sepanjang waktu, adalah bagian penting dari tahapan membangun resiliensi warga terhadap bencana di daerah ini.

 

Banyaknya elemen warga yang intens mengawal program pemerintah dalam hal penanganan bencana, merupakan suatu keberuntungan bagi daerah itu sendiri. Semua elemen itu bisa dijadikan mitra untuk turun ke masyarakat dalam kegiatan-kegiatan nonformal yang lebih humanis, lebih akrab dan mengena.

 

Dukungan pemerintah dalam hal pendanaan untuk kegiatan serupa itu, perlu pula dilakukan. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Melalui program-program edukasi oleh mitra pemerintah kepada masyarakat, biayanya pun tidak akan setinggi tanggap darurat dan recovery pasca bencana.

 

3.Strategi siap menghadapi tantangan

Membangun masyarakat yang resilien, bukan bermakna memberikan pemahaman kepada warga agar selalu tabah dalam setiap bencana dalam artian menyerah.

 

Sebaliknya, pemahaman bahwa dengan strategi kebersamaan dan saling memahami kondisi daerah, bencana bukan lagi suatu hal yang menakutkan, tetapi lebih pada situasi yang harus dilalui dengan tingkat survive maksimal.

 

Resiliensi masyarakat Kota Padang Panjang, adalah tujuan dari semua program mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Enam potensi bencana yang ada dalam rencana kontijensi, nantinya akan menjadi santapan sehari-hari warga, dalam rangka siap untuk selamat. (*)

Penulis: Nova Indra (Pimpinan Alpha Rescue, Journalist, Penulis buku ‘Langkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner