Satu Abad Gempa Padang Panjang, Bukan Kabar Pertakut - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Kamis, 07 Mei 2026

Satu Abad Gempa Padang Panjang, Bukan Kabar Pertakut


SIAGA
-FM
– Tahun ini, tepatnya tanggal 28 Juni 2026 nanti, kejadian gempa besar yang melanda sejumlah daerah di Sumatra Barat pada tahun 1926 silam, akan genap dalam hitungan 100 tahun.

 

Peristiwa gempa bumi tektonik akibat gesekan segmen Sianok dan Sumani di hari Senin pada satu abad silam itu, meluluhlantakkan sejumlah daerah di Ranah Minang. Selain Padang Panjang, sejumlah daerah seperti Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Solok, hingga Pariaman dan Kota Padang, turut merasakan dampak dari gempa yang kini dikenal dengan Gempa Padang Panjang 1926 itu.

 

Banyak kisah yang diceritakan oleh mereka yang dulu hidup di masa itu. Ada yang menceritakan, gempa yang terjadi dua kali pada pukul sepuluh pagi dan pukul dua siang tersebut, menjadi pemicu guncangan permukaan bumi di daerah ini selama beberapa pekan (ada yang menyebutnya hingga tiga bulan).

 

Bahkan, sebagian yang pernah berkisah, pascagempa utama (mainshock) pada saat itu, gempa susulannya membuat tanah di Padang Panjang selalu bergetar. Untuk memasak pun, masyarakat yang selamat dari dampak gempa tersebut harus menggunakan periuk yang digantungkan agar tidak jatuh ke tanah.

 

Begitu besarnya dampak gempa pada masa itu, terus menjadi kisah yang turun-temurun diceritakan hingga saat ini. Dan di hitungan waktu seratus tahun, kini banyak hal penting yang perlu dijadikan pelajaran. Setidaknya, kejadian itu menjadi batu pijakan untuk mengingat, daerah ini tidak seaman yang kita bayangkan. Perlu adanya mitigasi yang benar-benar bisa menjamin tumbuhnya budaya sadar bencana di kalangan warga.

 

Pentingnya Mitigasi Gempa Bumi

Tidak ada yang dapat memprediksi kapan gempa akan terjadi. Sama halnya dengan tidak adanya satu pun manusia yang dapat mengetahui bagaimana kondisi warga daerah ini kalau saja bencana serupa kembali berulang.

 

Hal utama yang perlu dibangun adalah kesadaran bersama masyarakat tentang pentingnya upaya mitigasi di segala lini. Salah seorang sahabat yang kini menjabat sebagai pemangku kepentingan di leading sector penanganan bencana mengatakan, “gempa tidak akan bisa kita prediksi, namun bagaimana kita mampu berdampingan dengan bencana tersebut. Kita selamat, dan terus dapat survive dari bencana.”

 

Bicara mitigasi bencana gempa, bukan melulu menjadi bagian dari domainnya pemerintah. Langkah mitigasi yang lebih strategis, tentunya berada di lingkungan masyarakat itu sendiri. Hal itu bukan dalam rangka mengalihkan peran pemerintah sebagai pemangku kepentingan, namun secara nyata di lapangan, dampak gempa akan dirasakan seluruh masyarakat di sekitar pusat gempa itu terjadi.

 

Bila saat ini pemerintah telah memulai memetakan tingkat kerawanan melalui Kajian Risiko Bencana (KRB), berikut dengan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan dikemas lebih jauh melalui Rencana Kontijensi, semua itu hanyalah prosedur yang akan dilakukan ketika terjadi bencana. Namun, budaya sadar bencana di tengah masyarakat lebih penting.

 

Tidak akan ada manfaat bila semua elemen terkait memiliki perencanaan yang matang namun di sisi lain masyarakat tidak mau menyadari arti penting kesiapsiagaan. Tidak akan berdampak apapun segala prosedur tetap yang telah dicanangkan pemerintah, bila warganya tidak peduli dengan upaya nyata di lingkungan masing-masing.

 

Mitigasi bencana berbasis keluarga dan lingkungan, jadi suatu yang tak dapat tidak harus dilakukan. Di sini, peran masyarakat menjadi urgent.

 

Kiranya, Satu Abad Gempa Padang Panjang, akan menjadi momentum lahirnya budaya sadar bencana di tengah-tengah kiat semua di wilayah Sumatra Barat.  Mari, Siap untuk Selamat!(*)

Penulis: Nova Indra (Dirrektur P3SDM Melati, Pimpinan Alpha Rescue, Penulis bukuLangkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner