SIAGA-FM – Tahun ini, tepatnya tanggal 28 Juni 2026 nanti, kejadian gempa besar yang melanda sejumlah daerah di Sumatra Barat pada tahun 1926 silam, akan genap dalam hitungan 100 tahun.
Peristiwa gempa bumi tektonik akibat gesekan segmen
Sianok dan Sumani di hari Senin pada satu abad silam itu, meluluhlantakkan
sejumlah daerah di Ranah Minang. Selain Padang Panjang, sejumlah daerah seperti
Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Solok, hingga Pariaman dan Kota Padang, turut
merasakan dampak dari gempa yang kini dikenal dengan Gempa Padang Panjang 1926
itu.
Banyak kisah yang diceritakan oleh mereka yang dulu hidup
di masa itu. Ada yang menceritakan, gempa yang terjadi dua kali pada pukul
sepuluh pagi dan pukul dua siang tersebut, menjadi pemicu guncangan permukaan
bumi di daerah ini selama beberapa pekan (ada yang menyebutnya hingga tiga
bulan).
Bahkan, sebagian yang pernah berkisah, pascagempa utama
(mainshock) pada saat itu, gempa susulannya membuat tanah di Padang Panjang
selalu bergetar. Untuk memasak pun, masyarakat yang selamat dari dampak gempa
tersebut harus menggunakan periuk yang digantungkan agar tidak jatuh ke tanah.
Begitu besarnya dampak gempa pada masa itu, terus menjadi
kisah yang turun-temurun diceritakan hingga saat ini. Dan di hitungan waktu
seratus tahun, kini banyak hal penting yang perlu dijadikan pelajaran.
Setidaknya, kejadian itu menjadi batu pijakan untuk mengingat, daerah ini tidak
seaman yang kita bayangkan. Perlu adanya mitigasi yang benar-benar bisa
menjamin tumbuhnya budaya sadar bencana di kalangan warga.
Pentingnya
Mitigasi Gempa Bumi
Tidak ada yang dapat memprediksi kapan gempa akan
terjadi. Sama halnya dengan tidak adanya satu pun manusia yang dapat mengetahui
bagaimana kondisi warga daerah ini kalau saja bencana serupa kembali berulang.
Hal utama yang perlu dibangun adalah kesadaran bersama
masyarakat tentang pentingnya upaya mitigasi di segala lini. Salah seorang
sahabat yang kini menjabat sebagai pemangku kepentingan di leading sector penanganan bencana mengatakan, “gempa tidak akan
bisa kita prediksi, namun bagaimana kita mampu berdampingan dengan bencana
tersebut. Kita selamat, dan terus dapat survive
dari bencana.”
Bicara mitigasi bencana gempa, bukan melulu menjadi
bagian dari domainnya pemerintah. Langkah mitigasi yang lebih strategis,
tentunya berada di lingkungan masyarakat itu sendiri. Hal itu bukan dalam
rangka mengalihkan peran pemerintah sebagai pemangku kepentingan, namun secara
nyata di lapangan, dampak gempa akan dirasakan seluruh masyarakat di sekitar
pusat gempa itu terjadi.
Bila saat ini pemerintah telah memulai memetakan tingkat
kerawanan melalui Kajian Risiko Bencana (KRB), berikut dengan Rencana
Penanggulangan Bencana (RPB) dan dikemas lebih jauh melalui Rencana Kontijensi,
semua itu hanyalah prosedur yang akan dilakukan ketika terjadi bencana. Namun, budaya
sadar bencana di tengah masyarakat lebih penting.
Tidak akan ada manfaat bila semua elemen terkait memiliki
perencanaan yang matang namun di sisi lain masyarakat tidak mau menyadari arti
penting kesiapsiagaan. Tidak akan berdampak apapun segala prosedur tetap yang
telah dicanangkan pemerintah, bila warganya tidak peduli dengan upaya nyata di
lingkungan masing-masing.
Mitigasi bencana berbasis keluarga dan lingkungan, jadi
suatu yang tak dapat tidak harus dilakukan. Di sini, peran masyarakat menjadi
urgent.
Kiranya, Satu Abad Gempa Padang Panjang, akan menjadi
momentum lahirnya budaya sadar bencana di tengah-tengah kiat semua di wilayah
Sumatra Barat. Mari, Siap untuk Selamat!(*)
Penulis: Nova Indra (Dirrektur P3SDM Melati,
Pimpinan Alpha Rescue, Penulis bukuLangkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang
Panjang)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar