SIAGA-FM – Model
Disaster Psychology Management
berbasis logoanalisis, dikembangkan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di
sekolah dasar inklusi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program penelitian yang dilakukan Tim dosen Universitas
Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
tersebut, merupakan bagian dari hibah Penelitian Fundamental dari Direktorat
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan
Pengembangan, Kemediktisaintek 2026.
Penelitian
dilaksanakan oleh dosen Program Studi Psikologi Unjaya, Muhammad Erwan Syah,
S.Psi., M.Psi., Psikolog, bersama Novita Nirmalasari, S.Kep., Ns., M.Kep., dari
Program Studi Keperawatan Unjaya, berkolaborasi dengan dosen Fakultas Psikologi
UAD, Dr. Nurul Hidayah, S.Psi., M.Si., Psikolog.
Ketua tim peneliti,
Muhammad Erwan Syah menjelaskan, penelitian dilakukan di sejumlah sekolah dasar
inklusi di Kabupaten Bantul.
Kegiatan tersebut
bertujuan mengidentifikasi kondisi dan tingkat kesiapsiagaan psikologis peserta
didik sebelum penerapan intervensi, sekaligus menguji efektivitas model
Disaster Psychology Management berbasis logoanalisis dalam meningkatkan kesiapsiagaan
siswa.
“Kami ingin
mengidentifikasi tingkat kesiapsiagaan psikologis peserta didik sebelum
intervensi sekaligus menguji efektivitas model Disaster Psychology Management berbasis logoanalisis dalam
meningkatkan kesiapsiagaan mereka ketika menghadapi potensi bencana,” kata
Muhammad Erwan Syah, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, model
tersebut memandang penanggulangan bencana sebagai proses yang berkesinambungan,
mulai dari tahap mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan.
Penelitian juga
dilakukan di sejumlah sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah
menengah atas yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap
gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, maupun tanah longsor.
“Penanggulangan
bencana tidak cukup hanya berfokus pada mitigasi fisik. Seluruh tahapan, mulai
dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan harus berjalan secara
terpadu agar sekolah memiliki sistem manajemen bencana yang lebih adaptif dan
berkelanjutan,” ujarnya.
Hasil penelitian
menunjukkan seluruh tahapan dalam Disaster
Management Continuum Model (DMCM) telah diterapkan di sekolah, meskipun
tingkat optimalisasinya masih beragam.
Pada tahap
mitigasi, sekolah telah melakukan identifikasi risiko, penyusunan peta rawan
bencana, serta penguatan infrastruktur dasar. Sementara pada tahap
kesiapsiagaan, sekolah membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah, menyusun standar
operasional prosedur (SOP) evakuasi, menggelar pelatihan kebencanaan, serta
melaksanakan simulasi secara berkala.
Pada tahap respons,
koordinasi antara sekolah dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),
Puskesmas, Palang Merah Indonesia (PMI), serta pemerintah daerah dinilai telah
berjalan dengan baik.
Berdasarkan
analisis kuantitatif dan kualitatif, implementasi DMCM memberikan dampak
positif terhadap peningkatan kesiapsiagaan sekolah. Peningkatan terlihat pada
aspek pengetahuan kebencanaan, kemampuan evakuasi, koordinasi antarpemangku
kepentingan, serta tumbuhnya budaya sadar risiko bencana di lingkungan sekolah.
Sekolah yang
menerapkan seluruh tahapan model secara berkesinambungan memiliki tingkat
kesiapsiagaan lebih tinggi dibandingkan sekolah yang hanya berfokus pada
mitigasi fisik.
Meski demikian, tim
peneliti menilai penguatan pada aspek pemulihan pascabencana, dukungan
psikososial, peningkatan kapasitas guru, serta evaluasi program secara berkala
masih diperlukan agar implementasi model dapat berjalan lebih optimal.
“Kami berharap
hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi sekolah maupun pemerintah
dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini. Dengan demikian, seluruh warga
sekolah akan lebih siap, tanggap, dan mampu meminimalkan risiko ketika
menghadapi bencana,” katanya.
Melalui penelitian
tersebut, tim berharap lahir model kesiapsiagaan yang tidak hanya berorientasi
pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan,
pengurangan risiko, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara
pemerintah, sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat dinilai
menjadi kunci dalam mewujudkan sekolah tangguh bencana di Daerah Istimewa
Yogyakarta.(RRI/Foto: google image)







.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar