SIAGA-FM – Sebanyak
enam desa di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa ikuti Gladi Lapang. Enam
desa yang mengikuti kegiatan ini meliputi Desa Sebewe, Pungkit, Baru Tahan,
Penyaring, Songkar, dan Kukin.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Program SIAP SIAGA
Kemitraan Indonesia–Australia.
Kegiatan yang berlangsung di Sumbawa Besar pada Sabtu
(25/7) ini melibatkan sekitar 1.000 peserta yang berasal dari unsur masyarakat,
relawan, pemerintah desa, organisasi kemasyarakatan, akademisi, serta berbagai
pemangku kepentingan di bidang penanggulangan bencana.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pencegahan BNPB,
Drs. Pangarso Suryotomo, M.MB, hadir secara langsung dan menyampaikan apresiasi
kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa, khususnya BPBD Kabupaten Sumbawa, atas
komitmennya dalam mendukung pelaksanaan Program Karang Tangguh dan Gladi Lapang
Bencana Banjir di Kecamatan Moyo Utara.
Ia juga mengapresiasi pemerintah desa, relawan, serta
masyarakat dari enam desa yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, keberhasilan pengurangan risiko bencana tidak
hanya bergantung pada kesiapan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif
masyarakat sebagai pelaku utama dalam membangun ketangguhan.
"Dalam menghadapi ancaman bencana, kesiapsiagaan
harus menjadi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Melalui latihan dan
simulasi seperti ini, kita tidak hanya menguji rencana yang telah disusun,
tetapi juga membangun kepercayaan diri masyarakat agar mampu bertindak cepat,
tepat, dan terkoordinasi ketika bencana benar-benar terjadi," ujar
Pangarso.
Gladi lapang ini merupakan simulasi terpadu
penanggulangan bencana banjir yang bertujuan menguji pelaksanaan Standar Operasional
Prosedur (SOP), mekanisme koordinasi, komunikasi, serta kesiapsiagaan relawan
dan para pemangku kepentingan di tingkat desa.
Simulasi ini menguji alur peringatan dini, proses
evakuasi, koordinasi lintas sektor, hingga pengambilan keputusan secara cepat
dan tepat sehingga setiap unsur memahami peran dan tanggung jawabnya ketika
bencana terjadi.
Pada gladi lapang tersebut juga dilakukan uji coba Sistem
Peringatan Dini Banjir yang dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Samawa
(UNSA) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
Inovasi ini dirancang untuk mendukung penyampaian
informasi peringatan dini kepada masyarakat secara lebih cepat dan efektif
sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan di tingkat desa.
Uji coba tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi
antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi
berbasis teknologi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah rawan banjir di
Kabupaten Sumbawa.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC),
Budi Setiawan, mengatakan gladi lapang menjadi bagian penting dalam membangun
kesiapsiagaan masyarakat yang tidak hanya bertumpu pada respons saat bencana,
tetapi juga pada penguatan kapasitas sebelum bencana terjadi.
Budi mengatakan gladi lapang ini merupakan simulasi penanggulangan
banjir secara terpadu. Tujuannya membangun kesiapsiagaan warga melalui sistem
yang terorganisir, terkoordinasi, dan mampu bergerak cepat saat bencana
terjadi.
Ia menambahkan, MDMC tidak hanya hadir ketika bencana
terjadi, tetapi juga berkomitmen membangun budaya mitigasi dan kesiapsiagaan
sejak dini melalui penguatan kapasitas masyarakat, pendampingan desa, serta
kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai mitra pembangunan.(sp)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar