SIAGA-FM – El Nino bukan lagi sebagai soal cuaca, tapi soal ekonomi dan ketahanan
daerah.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta para gubernur berkoordinasi dengan
bupati dan walikota untuk memitigasi El Nino.
"Saya meminta
seluruh kepala daerah segera menggelar rapat koordinasi bersama BPBD, dinas
pertanian, dinas pengairan, dan perangkat daerah terkait guna memperkuat
kesiapsiagaan berdasarkan data yang telah disampaikan BMKG, BNPB, Kementan,
serta Kementerian PU,” kata Tito Karnavian beberapa hari lalu dikutip dalam
tayangan Metro Siang, Metro TV.
Sementara itu Kepala
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani
menyebut, El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda.
Teuku Faisal mengatakan,
yang harus diwaspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini
bertepatan dengan musim kemarau.
Untuk periode 2026,
berada di Juli hingga Oktober dengan peluang intensitas kuat yang mencapai 98
persen. Jika, El Nino satu tahun, maka bukan berarti kemarau satu tahun.
Di lain pihak, Dirjen
SDA Kemen PU menyampaikan, kekuatan infrastruktur air nasional. Terdapat 240
waduk dan bendungan dengan kapasitas tampung 6,68 miliar meter kubik, ditambah
593 situ dan danau dengan kapasitas 137,22 miliar meter kubik, serta 1.639 unit
pengelolaan air baku, dan 10.757 unit sumur bor yang tersebar di berbagai
daerah.
Sebagai gambaran
tambahan, untuk Pulau Jawa, kebutuhan irigasi pada Juli mencapai 599,28 juta
meter kubik, sedangkan yang tersedia 3,27 miliar meter kubik. Lebih dari lima
kali kebutuhan. Di Agustus masih hampir lima kali kebutuhan.(*)







.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar