SIAGA-FM – "Bencana tidak pernah memilih waktu. Namun manusia dapat memilih untuk siap atau lalai."
Gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, longsor,
cuaca ekstrem, kebakaran, hingga kekeringan, merupakan ancaman yang hampir
setiap tahun terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Ironisnya, ketika bencana datang, salah satu sektor yang
paling terdampak adalah pendidikan. Ribuan sekolah mengalami kerusakan setiap
tahun. Proses belajar mengajar terhenti. Anak-anak kehilangan ruang belajar,
sementara guru harus menghadapi situasi darurat yang tidak selalu mereka
pahami.
Masihkah kita menganggap bencana sebagai urusan orang
lain? Banyak orang beranggapan bahwa bencana adalah urusan pemerintah, Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, TNI, Polri, atau relawan
kemanusiaan. Ketika sirene berbunyi, atau berita bencana muncul di televisi dan
media massa serta media sosial, sebagian besar masyarakat hanya menjadi
penonton.
Padahal sekolah merupakan tempat berkumpulnya ratusan,
bahkan ribuan jiwa setiap hari. Siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua,
hingga masyarakat sekitar merupakan bagian dari komunitas sekolah yang memiliki
tingkat kerentanan tersendiri.
Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah
"Apakah sekolah kita akan terkena bencana?" melainkan "Apakah
sekolah kita sudah siap ketika bencana itu terjadi?"
Sekolah Bukan
Sekadar Tempat Belajar
Sekolah memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada
sekadar tempat memperoleh ilmu pengetahuan. Sekolah adalah ruang tumbuh, ruang
perlindungan, dan ruang pembentukan karakter generasi masa depan.
Ketika terjadi bencana, sekolah dapat berubah menjadi
lokasi yang paling berbahaya apabila bangunannya tidak aman, jalur evakuasi
tidak tersedia, warga sekolah tidak memahami prosedur penyelamatan, atau tidak
memiliki rencana kontinjensi.
Sebaliknya, sekolah yang telah membangun budaya
kesiapsiagaan dapat menjadi tempat perlindungan yang aman, pusat informasi,
bahkan lokasi pengungsian sementara bagi masyarakat sekitar.
Perbedaannya bukan terletak pada keberuntungan, melainkan
pada tingkat kesiapan. Karena rumus matematika risiko itu, berkaitan dengan
seberapa tingkat ancaman dibagi dengan kapasitas yang dimiliki.
Mengapa Sekolah
Harus Peduli?
Anak-anak termasuk kelompok paling rentan ketika terjadi
bencana. Mereka memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan cepat, memahami
situasi darurat, maupun menyelamatkan diri tanpa arahan orang dewasa.
Guru pun belum tentu siap menghadapi kondisi darurat
apabila belum pernah mendapatkan pelatihan. Tidak adanya prosedur yang dipahami
bersama warga sekolah, risiko pun semakin besar.
Tanpa kesiapsiagaan, kepanikan akan menjadi "bencana
kedua". Orang-orang berlarian tanpa arah, saling mendorong, dan mengambil
keputusan yang justru meningkatkan risiko korban.
Sebaliknya, apabila seluruh warga sekolah memahami apa
yang harus dilakukan, peluang menyelamatkan diri meningkat secara signifikan.
Jiwa-jiwa generasi harapan aka terselamatkan.
Sekolah Siaga
Bencana Bukan Sekadar Program
Masih banyak yang menganggap Sekolah Siaga Bencana
hanyalah kegiatan seremonial: memasang rambu evakuasi, mengadakan simulasi
sekali setahun, kemudian selesai.
Padahal, konsep Sekolah Siaga Bencana jauh lebih luas. Sekolah
Siaga Bencana merupakan upaya sistematis untuk membangun budaya aman melalui
tiga pilar utama: 1) Fasilitas sekolah yang aman, 2) Manajemen bencana yang
baik, dan 3) Pendidikan dan budaya sadar risiko bencana.
Artinya, seluruh aspek sekolah harus terlibat, mulai dari
kepala sekolah, guru, siswa, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua,
hingga masyarakat sekitar.
Peduli Sebelum
Terlambat
Sejarah menunjukkan, banyak korban jiwa sebenarnya dapat
diminimalkan apabila masyarakat memiliki pengetahuan dasar mengenai penyelamatan
diri.
Gempa bumi tidak membunuh manusia. Yang menyebabkan
korban adalah bangunan yang runtuh, kepanikan, kurangnya pengetahuan, dan
lemahnya kesiapsiagaan.
Demikian pula banjir, longsor, maupun kebakaran. Besarnya
dampak sering kali dipengaruhi oleh tingkat kesiapan masyarakat sebelum
kejadian.
Sekolah memiliki kesempatan emas untuk mengubah kondisi
tersebut, karena setiap hari menjadi tempat belajar bagi generasi muda.
Mengajarkan kesiapsiagaan bukan berarti menakut-nakuti
siswa. Sebaliknya, pendidikan kebencanaan membangun keberanian, kemampuan
berpikir kritis, pengambilan keputusan yang cepat, kepemimpinan, kerja sama,
dan kepedulian sosial.
Seorang siswa yang memahami prosedur evakuasi, bukan
hanya mampu menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga dapat membantu teman,
keluarga, bahkan masyarakat di sekitarnya.
Dalam jangka panjang, pendidikan kebencanaan menciptakan
generasi yang lebih tangguh menghadapi berbagai ancaman. Sekolah Siaga Bencana
adalah investasi.
Siapa yang Harus
Peduli?
Jawabannya sederhana; semua orang. Kepala sekolah
bertanggung jawab memastikan kebijakan dan sistem berjalan. Guru bertugas
menanamkan budaya aman melalui proses pembelajaran.
Siswa menjadi pelaku utama dalam membangun perilaku
siaga. Orang tua memperkuat budaya kesiapsiagaan di rumah. Pemerintah
menyediakan regulasi, pembinaan, dan dukungan sumber daya.
Sekolah yang tangguh hanya dapat terwujud melalui
kolaborasi berbagai pihak. Budaya siaga tidak lahir dari satu kali pelatihan
atau satu kali simulasi. Ia tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara
konsisten.
Mulai dari mengenali titik kumpul, memahami jalur
evakuasi, melakukan simulasi berkala, menjaga lingkungan sekolah tetap aman,
hingga membangun komunikasi yang baik ketika terjadi keadaan darurat.
Ketika kesiapsiagaan telah menjadi budaya, tindakan
penyelamatan tidak lagi dilakukan karena diperintah, tetapi karena telah
menjadi kebiasaan. Sekolah bukan hanya tempat mencetak generasi cerdas, tetapi
juga tempat membentuk generasi yang mampu bertahan, melindungi sesama, dan
bangkit setelah menghadapi bencana.
Pada akhirnya, keberhasilan Sekolah Siaga Bencana bukan
diukur dari banyaknya dokumen yang dimiliki atau banyaknya spanduk yang
dipasang. Keberhasilannya diukur dari satu hal yang paling berharga, berapa banyak nyawa yang dapat diselamatkan
ketika bencana benar-benar terjadi.(*)
Penulis: Nova Indra
(Alpha Rescue, member of Disaster Journalist Foundation)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar