SIAGA-FM – Bencana tidak selalu datang tanpa tanda.
Bila gempa bumi memang sering memberikan waktu yang
sangat singkat untuk bereaksi, tetapi banjir, longsor, cuaca ekstrem, tsunami,
erupsi gunung api, dan berbagai ancaman lainnya dapat memiliki informasi
pendahuluan yang memungkinkan masyarakat melakukan tindakan lebih cepat.
Persoalannya bukan hanya apakah sebuah peringatan dini
tersedia, tetapi apakah peringatan tersebut diterima,
dipahami, dipercaya, dan diubah menjadi tindakan keselamatan.
Gagasan inilah yang semakin penting dalam pengurangan risiko
bencana pada 2026. Dalam persiapan Emergency
Disaster Reduction and Rescue (EDRR) Indonesia 2026, pemerintah menekankan
keberhasilan peringatan dini harus diukur dari kemampuannya mendorong tindakan
yang dapat mengurangi risiko dan dampak bencana.
EDRR 2026 juga menempatkan kolaborasi lintas pihak,
kesiapsiagaan, teknologi, serta penguatan prevention, mitigation, dan
preparedness sebagai bagian penting dari ketangguhan masyarakat.
Bagi sekolah, pesan tersebut sangat jelas: sekolah tidak boleh hanya menjadi penerima
informasi peringatan dini. Sekolah harus menjadi bagian aktif dari rantai
peringatan dini.
Peringatan Dini
Bukan Sekadar Pemberitahuan
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah memahami
sistem peringatan dini hanya sebagai sirene, pengeras suara, pesan WhatsApp,
SMS, aplikasi, radio, atau alat sensor. Padahal, sistem peringatan dini yang
efektif merupakan sebuah rantai yang menghubungkan pengetahuan risiko,
pemantauan ancaman, penyampaian informasi, kesiapsiagaan, hingga tindakan.
Konsep global Early Warnings for All (EW4All), membangun
sistem peringatan dini multiancaman melalui empat pilar: pengetahuan risiko;
deteksi, observasi, pemantauan, analisis dan prakiraan; penyebarluasan serta
komunikasi peringatan; dan kemampuan kesiapsiagaan serta respons.
Dengan demikian, sebuah sekolah tidak dapat mengatakan
telah memiliki sistem peringatan dini hanya karena mempunyai sirene.
Sekolah sebagai
Mata Rantai Penting
Sekolah merupakan lingkungan yang sangat strategis dalam
sistem peringatan dini. Di dalamnya terdapat peserta didik, guru, tenaga
kependidikan, pengelola kantin, petugas keamanan, dan pihak lain yang mungkin
berada di lingkungan sekolah pada saat bencana terjadi.
BNPB pada 2026 menegaskan pentingnya penguatan ketangguhan
satuan pendidikan karena lebih dari 75 persen satuan pendidikan di Indonesia
berada di wilayah yang terpapar ancaman bencana.
Artinya, sistem peringatan dini di sekolah tidak boleh
berdiri sendiri. Sekolah harus terhubung dengan sistem yang lebih luas, mulai
dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, PVMBG atau institusi teknis terkait, hingga
masyarakat di sekitar sekolah.
Rantai tersebut secara sederhana dapat digambarkan
sebagai: Ancaman → Deteksi → Analisis → Peringatan →
Komunikasi → Pemahaman → Keputusan → Tindakan → Evaluasi. Jika
salah satu mata rantai terputus, efektivitas sistem dapat menurun.
Berikut adalah rangkaian pengetahuan yang perlu disikapi
oleh sekolah.
1. Sekolah
Harus Memahami Risiko Sebelum Menerima Peringatan
Peringatan dini yang baik harus berbasis pengetahuan
risiko. Sekolah perlu mengetahui: bencana apa yang mungkin terjadi, bagian
sekolah mana yang paling rentan, siapa yang membutuhkan bantuan khusus, jalur
evakuasi mana yang aman, serta ke mana warga sekolah harus bergerak.
Misalnya, sekolah di wilayah yang memiliki risiko gempa
tidak cukup hanya mengetahui bahwa gempa dapat terjadi.
Sekolah harus mengetahui bagaimana peserta didik
bertindak ketika gempa terjadi, lokasi yang aman untuk berlindung, kondisi
bangunan, titik kumpul, serta prosedur setelah guncangan berhenti.
Untuk wilayah yang memiliki ancaman banjir, sekolah perlu
mengetahui indikator kenaikan muka air, lokasi yang berpotensi tergenang, jalur
yang harus dihindari, serta kapan pembelajaran perlu dihentikan atau
dipindahkan.
Dengan demikian, informasi risiko menjadi
dasar untuk menentukan tindakan.
2. Sekolah
Harus Terhubung dengan Sumber Informasi Resmi
Sekolah tidak boleh membangun sistem peringatan
berdasarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.
Kepala sekolah atau tim siaga bencana sekolah, perlu
menetapkan sumber informasi resmi dan mekanisme verifikasinya. Informasi dapat
berasal dari lembaga teknis dan pemerintah daerah sesuai jenis ancamannya.
Pada bencana hidrometeorologi, misalnya, pendekatan Impact Based Forecast (IBF) yang didorong BMKG, menekankan
bahwa informasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apa ancamannya, tetapi juga
menjawab apa dampaknya, siapa yang berisiko, wilayah
mana yang harus bersiap, dan tindakan apa yang perlu dilakukan.
Ini merupakan perubahan penting dalam cara sekolah
memahami peringatan dini.
3. Sekolah
Harus Memiliki Banyak Jalur Komunikasi
Satu saluran komunikasi tidak cukup. Listrik dapat padam. Internet dapat terganggu. Jaringan telepon
dapat mengalami kepadatan. Sirene dapat tidak terdengar oleh seluruh warga
sekolah.
Karena itu, sekolah perlu membangun komunikasi berlapis
atau redundant
communication system.
Contohnya: Pusat informasi sekolah → pengeras suara →
sirene → grup komunikasi resmi → radio komunikasi → informasi langsung oleh
guru/wali kelas → penyampaian dari kelas ke kelas.
Prinsipnya sederhana:
jika satu saluran gagal, masih ada saluran lain. Dalam perspektif EW4All,
penyebarluasan dan komunikasi merupakan salah satu dari empat pilar utama
sistem peringatan dini. Peringatan harus dapat menjangkau masyarakat secara
tepat waktu dan inklusif.
4. Peringatan
Harus Dipahami, Bukan Sekadar Diterima
Sekolah juga harus memperhatikan bahasa peringatan. Pesan harus singkat, jelas, tidak
menimbulkan kepanikan, dan langsung menjelaskan tindakan.
5. Sekolah
Harus Memastikan Peringatan Menjangkau Semua
Kata “for all”
dalam Early Warnings for All memiliki makna penting. Peringatan dini harus
menjangkau semua orang, termasuk peserta didik dengan kebutuhan khusus, guru
yang berada di lokasi berbeda, petugas sekolah, serta mereka yang mungkin tidak
dapat menerima informasi melalui perangkat digital.
Karena itu, sekolah perlu memikirkan berbagai bentuk
peringatan:
- suara untuk mereka yang dapat mendengar;
- informasi visual untuk mereka yang membutuhkan
pesan tertulis;
- tanda dan simbol yang mudah dipahami;
- penyampaian langsung oleh guru atau petugas;
- pendampingan bagi peserta didik yang membutuhkan
bantuan;
- prosedur khusus bagi warga sekolah yang berada
di lokasi terpencil atau berbeda gedung.
Tidak boleh ada warga sekolah
yang tertinggal hanya karena sistem peringatannya tidak inklusif.
6. Peringatan
Harus Berakhir pada Tindakan
Inilah bagian paling penting. Peringatan dini bukan
tujuan akhir. Tujuannya adalah tindakan dini.
Ketika sekolah menerima peringatan, harus sudah ada
keputusan yang disiapkan sebelumnya.
Contohnya: Peringatan → Kepala
sekolah/tim siaga melakukan verifikasi → keputusan → informasi kepada warga
sekolah → tindakan perlindungan → evakuasi atau perlindungan di tempat →
pendataan → komunikasi dengan pihak luar.
Dengan demikian, sekolah tidak perlu memulai dari nol
ketika peringatan diterima. Setiap orang sudah mengetahui perannya. Kepala
sekolah mengambil keputusan sesuai kewenangan. Tim siaga mengaktifkan prosedur.
Di saat itu, guru mengamankan peserta didik. Petugas
komunikasi menyebarkan informasi. Petugas keamanan mengendalikan akses. Tim
kesehatan menangani kebutuhan pertolongan awal, dan peserta didik mengikuti
instruksi dan bergerak sesuai prosedur.
Dan dari
konsep-konsep inilah yang disebut
kesiapsiagaan yang operasional.
7. Simulasi
Harus Menguji Seluruh Rantai
Ada sekolah yang sering melakukan simulasi evakuasi,
tetapi belum tentu menguji keseluruhan sistem peringatan dini. Ke depan, simulasi sebaiknya tidak
berhenti pada latihan ketika peringatan dini diterima.
Sekolah perlu menguji: Apakah informasi masuk? Siapa yang menerima? Siapa yang memverifikasi? Siapa yang mengambil
keputusan, dan bagaimana informasi
disebarkan?
Pendekatan seperti ini sejalan dengan pengembangan sistem
EW4All, yang menekankan pentingnya simulasi dan pengujian sistem secara berkala
agar mekanisme peringatan benar-benar bekerja dalam kondisi nyata.
8. Teknologi
Harus Menjadi Penguat, Bukan Pengganti Manusia
Perkembangan teknologi memberikan peluang besar bagi
sekolah. Sensor, aplikasi, CCTV, sistem informasi geografis, sirene otomatis,
radio komunikasi, jaringan seluler, dan berbagai perangkat digital dapat
mempercepat penerimaan informasi.
Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Sistem yang
sangat canggih tetap dapat gagal jika manusia tidak memahami pesan atau tidak
tahu tindakan yang harus dilakukan.
Karena itu, prinsip yang perlu dibangun adalah: Technology + People + Procedure + Practice =
Effective Early Warning.
9. Sekolah
Harus Membangun Budaya Warning to Action
Tantangan terbesar sebenarnya bukan teknologi, tetapi
budaya. Jika warga sekolah terbiasa menganggap peringatan dini sebagai hal
biasa, maka tidak akan menghasilkan tindakan.
Jika pesan peringatan sering tidak jelas, kepercayaan
akan menurun. Jika simulasi hanya dilakukan sebagai kegiatan seremonial,
kemampuan respons tidak berkembang.
Karena itu, sekolah perlu membangun budaya: Dengar → Pahami → Verifikasi → Bertindak →
Bantu → Laporkan. Budaya ini harus menjadi bagian dari
pendidikan kebencanaan.
Peserta didik tidak hanya diajarkan definisi gempa,
banjir, tsunami atau erupsi. Mereka juga harus belajar membaca informasi risiko, mengenali peringatan,
mengambil keputusan keselamatan, dan membantu orang lain sesuai kemampuan serta
prosedur yang aman.
10. Sekolah Harus Menjadi Bagian dari Ekosistem
Peringatan Dini
EDRR Indonesia 2026 menekankan, penanggulangan bencana
merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan kolaborasi lintas pemangku
kepentingan.
EDRR juga diarahkan sebagai ruang kolaborasi antara
pemerintah, akademisi, operator lapangan, relawan, dunia usaha, dan berbagai
pihak lainnya.
Prinsip tersebut sangat relevan diterapkan di sekolah. Sekolah
tidak dapat bekerja sendirian. Sekolah perlu membangun hubungan dengan banyak
pemangku kepentingan dan institusi terkait. Hubungan tersebut membuat sekolah
menjadi bagian dari sistem peringatan dini berbasis wilayah.
Dari “Early
Warning” Menuju “Early Action”
Inilah perubahan paradigma yang harus dibangun. Sistem
lama sering berhenti pada: “Kami sudah memberikan
peringatan.” Sementara sistem yang lebih maju bertanya: “Apakah
peringatan tersebut diterima?, Apakah
dipahami?, Apakah dipercaya?” Dan yang paling penting: “Apakah menghasilkan tindakan yang benar dan
tepat waktu?”
EDRR Indonesia 2026 memberikan momentum penting untuk
melihat kembali bagaimana sistem pengurangan risiko bencana dibangun. Dalam
konteks sekolah, peringatan dini tidak boleh dipandang sebagai perangkat atau
teknologi semata. Ia merupakan sebuah rantai keselamatan manusia.
Konsep Early Warnings for All memperkuat
pesan tersebut melalui empat pilar: pengetahuan risiko, pemantauan dan
prakiraan, komunikasi peringatan, serta kesiapsiagaan dan respons.
Maka, sekolah yang benar-benar siap bencana bukanlah
sekolah yang paling banyak memiliki alat peringatan.
Sekolah yang benar-benar siap adalah sekolah yang ketika
peringatan datang, semua orang tahu apa yang
terjadi, tahu apa yang harus dilakukan, tahu ke mana harus bergerak, dan mampu
bertindak tanpa menunggu kepanikan.
Dengan demikian, rantai peringatan dini tidak berhenti
pada teknologi. Rantai tersebut berakhir pada manusia
yang selamat, sekolah yang tangguh, dan pendidikan yang tetap berlanjut.(*)
Penulis: Nova Indra
– Alpha Rescue








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar