SIAGA-FM – Perlindungan kawasan rawan bencana Gunung Semeru diperkuat melalui pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong dan dua unit check dam di Desa Supiturang.
Infrastruktur tersebut disiapkan untuk membantu mengendalikan
aliran material vulkanik yang berpotensi mengancam permukiman dan aktivitas
masyarakat.
Pembangunan dilakukan pemerintah pusat melalui Balai
Besar Wilayah Sungai (BBWS) sebagai bagian dari penguatan infrastruktur
mitigasi di kawasan sekitar Gunung Semeru.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Lumajang, Isnugroho, mengatakan infrastruktur tersebut menjadi bagian
penting dalam mengurangi risiko bencana, terutama di wilayah yang berada di
sekitar jalur aliran material vulkanik.
“Pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong serta dua
unit check dam di Desa Supiturang telah berdiri,” kata Isnugroho, baru-baru
ini.
Menurutnya, pembangunan tersebut menunjukkan upaya
pemerintah memperkuat perlindungan bagi masyarakat di kawasan rawan bencana
Semeru.
“Pemerintah pusat melalui BBWS bergerak proaktif
memperkuat infrastruktur mitigasi bencana di kawasan rawan letusan Gunung
Semeru,” ujarnya.
Tanggul dan check dam berfungsi
membantu mengendalikan pergerakan material vulkanik. Keberadaannya diharapkan
dapat menahan atau memperlambat aliran material sehingga risiko terhadap
kawasan di sepanjang jalurnya dapat dikurangi.
Infrastruktur tersebut juga penting untuk mengantisipasi
potensi aliran lahar ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan hulu
Semeru.
“Dengan adanya infrastruktur tersebut, aliran material
vulkanik diharapkan dapat lebih terkendali sehingga potensi dampaknya terhadap
kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat dapat ditekan,” jelas Isnugroho.
Meski infrastruktur fisik terus diperkuat, Isnugroho
mengingatkan masyarakat tetap menjaga kesiapsiagaan. Warga di kawasan rawan
perlu mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing serta mengikuti
informasi resmi pemerintah dan petugas kebencanaan.
Pemantauan kondisi sungai dan kawasan hulu, sistem
peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta koordinasi antarinstansi tetap
diperlukan sebagai bagian dari mitigasi Semeru.
Menurut Isnugroho, pengurangan risiko bencana perlu
dilakukan sebelum bencana terjadi melalui kombinasi pembangunan infrastruktur
dan kesiapan seluruh unsur di lapangan.
“Dengan langkah mitigasi yang terintegrasi ini, Lumajang
kini jauh lebih tangguh dalam menghadapi potensi amukan alam,” pungkasnya.(infopublik)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar