SIAGA-FM – BMKG ingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fase El Nino kuat yang berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peta sebaran titik panas yang terpantau sejak 29 Juli
2026. (InfoBMKG)
BMKG melaporkan, dampak musim kemarau mulai terlihat di
sejumlah daerah, antara lain berupa kekeringan di Jawa Tengah, serta
meningkatnya jumlah titik panas di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan hasil pemantauan 29 Juli 2026, tercatat
sebanyak 1.729 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang yang tersebar di
Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
"Selain itu, terdapat 117 titik panas dengan tingkat
kepercayaan tinggi. Sebagian besar berada di Papua dan Maluku sebanyak 85 titik,
disusul Kalimantan 25 titik, Sulawesi empat titik, serta Nusa Tenggara tiga
titik," jelas Prakirawan BMKG Yuni Maharani, di Jakarta, Jumat (31/7/2026)
kemarin.
Pihak BMKG menjelaskan, kondisi iklim global masih
didominasi oleh El Niño kuat dengan nilai indeks Niño 3.4 sebesar +2,26 dan
Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28,2.
Kondisi tersebut mendukung prakiraan curah hujan rendah
yang akan mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia pada dasarian I
Agustus 2026, sementara 8,57 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami
curah hujan kategori menengah.
Meski demikian, hujan lebat masih berpotensi terjadi
secara lokal akibat dinamika atmosfer regional. Aktivitas Madden-Julian
Oscillation (MJO), gelombang Rossby, gelombang Kelvin, serta bibit Siklon Tropis
94W, diperkirakan mampu memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Untuk prakiraan cuaca periode 31 Juli hingga 3 Agustus
2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan didominasi cuaca
cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, masyarakat diminta mewaspadai potensi
hujan lebat hingga sangat lebat dengan status peringatan dini siaga di Aceh,
Sumatera Barat, dan Bengkulu.
Sementara itu, pada periode 4–6 Agustus 2026, cuaca cerah
berawan hingga hujan ringan masih mendominasi.
Kendati demikian, terdapat potensi peningkatan hujan
dengan intensitas sedang di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Papua
Pegunungan, dan Papua.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat
dan para pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dengan
menjaga kesehatan, menghemat penggunaan air bersih, serta tidak melakukan
pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memicu karhutla.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk terus memantau
informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG,
termasuk aplikasi Info BMKG dan media sosial resmi, agar dapat melakukan
langkah antisipasi secara tepat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem.(infopublik)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar