SIAGA-FM – Pengalaman
berbagai bencana di Indonesia maupun di dunia menunjukkan, infrastruktur yang
baik saja tidak cukup untuk menyelamatkan nyawa manusia.
Hal penting yang perlu dipahami adalah, apabila manusianya tidak memahami bagaimana
harus bersikap sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi, maka kondisi infrastruktur
aman tetap saja tidak mampu menjawab pengurangan risiko bencana.
Oleh karena itu, investasi terbesar dalam pengurangan
risiko bencana sesungguhnya bukan hanya membangun gedung yang kokoh, jalan yang
aman, atau tanggul yang tinggi, melainkan membangun manusia yang sadar akan
risiko, memiliki budaya keselamatan, serta mampu mengambil keputusan secara
cepat dan tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Kesadaran dan kapasitas manusia merupakan fondasi utama
terciptanya masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Berbagai penelitian menunjukkan, kerugian akibat bencana
tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ancaman alam, tetapi juga oleh tingkat
kerentanan masyarakat yang menghadapinya.
Gedung sekolah yang dibangun sesuai standar tahan gempa,
misalnya, tetap dapat menimbulkan korban apabila penghuni bangunan tidak
mengetahui prosedur keselamatan, tidak
memahami jalur evakuasi, atau justru panik saat terjadi guncangan.
Peristiwa gempa bumi di berbagai negara memperlihatkan
bahwa banyak korban meninggal bukan semata-mata karena runtuhnya bangunan,
melainkan akibat kepanikan, keputusan yang keliru, serta kurangnya pengetahuan
mengenai tindakan penyelamatan diri.
Hal itu menunjukkan, teknologi hanya berfungsi sebagai
alat, sedangkan manusia tetap menjadi aktor utama dalam menentukan keberhasilan
penyelamatan.
Pengurangan risiko bencana tidak hanya berbicara mengenai
mitigasi struktural, tetapi juga mitigasi nonstruktural yang berfokus pada
perubahan perilaku masyarakat. Kesadaran risiko (risk awareness) merupakan
kemampuan seseorang untuk mengenali ancaman, memahami dampaknya, serta
menyadari tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut.
Masyarakat yang
memiliki kesadaran risiko dengan baik, akan lebih siap menghadapi bencana
karena mereka telah memahami karakteristik ancaman di wilayah tempat tinggalnya.
Mereka mengetahui lokasi yang aman, memahami jalur evakuasi, mengenali
tanda-tanda bahaya, serta memiliki rencana penyelamatan keluarga.
Kesadaran tersebut
tidak muncul secara instan, melainkan dibangun melalui pendidikan, pelatihan,
simulasi, pengalaman, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya sadar
bencana harus ditanamkan sejak dini di tengah masyarakat. Setiap warga, bahkan
dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan budaya keselamatan kepada lingkungan
sekitarnya.
Investasi pada
pembangunan manusia dalam hal pengurangan risiko bencana, memberikan manfaat
yang jauh lebih besar dibandingkan investasi fisik semata.
Infrastruktur
memiliki umur teknis tertentu yang memerlukan pemeliharaan dan rehabilitasi
secara berkala, sedangkan pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat diwariskan
kepada generasi berikutnya.
Gerakan edukasi
kebencanaan, tidak hanya menghasilkan individu yang selamat ketika terjadi
bencana, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu merancang pembangunan yang
lebih aman, memperhatikan aspek lingkungan, serta menjadikan keselamatan
sebagai bagian dari budaya masyarakat.
Disadari, membangu budaya keselamatan tidak dapat dilakukan
hanya melalui regulasi pemerintah. Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama
seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, dunia usaha,
organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah.
Kapasitas Bertindak Menentukan Keselamatan
Kesadaran tanpa
kemampuan bertindak belum cukup untuk mengurangi risiko bencana. Oleh karena
itu, pembangunan kapasitas masyarakat harus menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari strategi pengurangan risiko bencana.
Kapasitas tersebut
meliputi kemampuan melakukan evakuasi secara mandiri, memberikan pertolongan
pertama, menggunakan alat pemadam api ringan, memahami sistem komunikasi
darurat, membaca informasi peringatan dini, hingga mampu mengambil keputusan
yang tepat dalam kondisi penuh tekanan.
Latihan dan
simulasi yang dilakukan secara berkala, merupakan cara paling efektif untuk
membentuk keterampilan tersebut. Semakin sering seseorang berlatih menghadapi
skenario bencana, semakin kecil kemungkinan munculnya kepanikan ketika situasi
nyata terjadi.
Dalam ilmu
kebencanaan dikenal, respons pertama masyarakat pada menit-menit awal bencana
sangat menentukan jumlah korban jiwa. Oleh karena itu, kapasitas individu
merupakan investasi yang secara langsung berkontribusi terhadap penyelamatan
nyawa.
Akhirnya kita pahami, investasi dalam pengurangan risiko
bencana harus diarahkan untuk membangun resiliensi masyarakat. Ketangguhan
bukan hanya kemampuan bertahan dari dampak bencana, tetapi juga kemampuan untuk
beradaptasi, pulih, dan berkembang menjadi lebih baik setelah mengalami
bencana.
Pendidikan
kebencanaan, budaya keselamatan, latihan yang berkelanjutan, dan penguatan
kapasitas masyarakat merupakan fondasi utama dalam mewujudkan bangsa yang
tangguh terhadap bencana. (Penulis: Nova
Indra)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar