SIAGA-FM – Gempa bumi berkekuatan 6,5 magnitudo [diperbarui dari M5,9], mengguncang wilayah tanah air, Sabtu (12/9/2026) pukul 04.23.55 WIB.
Diinformasikan oleh BMKG, pusat gempa berada di
laut, sekitar 69 kilometer timur laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Meski
episenternya berada di sekitar Kepulauan Seribu, getaran gempa tersebut
tidak hanya dirasakan warga Jakarta dan wilayah penyangga.
Getaran gempa yang turut dirasakan di sejumlah provinsi,
mulai dari Sumatra Barat hingga Jawa Timur itu, menurut Dr. Daryono, S.Si.,
M.Si. mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, merupakan
contoh klasik dari fenomena gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake).
Dijelaskan Daryono dalam postingan di akun X-nya, berdasarkan
analisis seismologi dan tektonik, berikut adalah fakta kunci untuk memahami
mekanisme dan dampaknya.
1. Mekanisme Sumber (Intra-slab Event)
Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di
dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia
yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358
km.
“Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang
tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab,” tulisnya.
2. Jalur Perambatan Energi & Pola Guncangan Unik
Meskipun episenter (pusat gempa di permukaan) berada di
wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan lebih
awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi.
“Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling
efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan
sebelum menyebar ke permukaan,” imbuhnya.
3. Spektrum Guncangan Luas namun Tidak Merusak
Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum
attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis
yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan).
“Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi
di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan
struktural,” terang anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) itu.
4. Karakteristik Gempa Susulan
Karena gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang
sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara
total dalam satu peristiwa utama.
“Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat
jarang memicu gempa susulan (aftershocks),” pungkasnya.
Diketahui dari laman BMKG, gempa yang mengguncang saat
subuh itu, dirasakan di beberapa daerah dengan MMI III Cilacap, III Nagrak, III
Kalapanunggal, II-III Rancaekek, II-III Lembang
II-III Garut, II-III Bandung, II-III Sukabumi, II-III
Cianjur, II-III Yogyakarta, II-III Pacitan, II-III Ponorogo, II-III Malang, II-III
Kota Bengkulu, II-III Sumur, II-III Padang, II-III Mentawai, II-III Pariaman, II-III
Solok Selatan, II Lemong, II Semaka, II Bengkunat, dan II Nias Tengah. (*)







.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar