SIAGA-FM – Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo, menekankan pentingnya memperkuat literasi kebencanaan dan memori kolektif masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Andre saat menjadi pemateri
dalam kegiatan Bincang Santai Literasi Kebencanaan yang diselenggarakan Kemenko
PMK, baru-baru ini. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai kementerian/lembaga
untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya literasi kebencanaan.
Andre menjelaskan, posisi Indonesia yang berada di
kawasan sabuk gunung api aktif dan pertemuan lempeng tektonik, menjadikan
risiko bencana alam cukup tinggi.
Kondisi tersebut diperkuat dengan berbagai kejadian
bencana hidrometeorologi dan geologi yang terjadi di sejumlah wilayah.
Andre menyoroti masih adanya kesenjangan pengetahuan dan
kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Sekitar 45 persen masyarakat Indonesia disebut belum
memahami pengetahuan dasar kebencanaan, sementara 75 persen populasi masih
memiliki tingkat kesiapsiagaan operasional yang rendah.
"Karena itu, literasi kebencanaan perlu dibangun
sebagai sistem yang kuat dan berkelanjutan. Penguatan literasi kebencanaan
tidak hanya dilakukan melalui penyampaian informasi mengenai risiko bencana,
tetapi juga dengan menjaga memori kolektif masyarakat atas pengalaman dan
pembelajaran dari berbagai peristiwa bencana di masa lalu," ujarnya.
Andre menerangkan, memori kolektif masyarakat tercermin
dalam berbagai catatan sejarah dan peninggalan peradaban, mulai dari jejak
penanganan banjir pada masa Kerajaan Tarumanegara melalui Prasasti Tugu hingga
pembelajaran dari letusan Gunung Krakatau dan Gunung Tambora.
Cagar budaya, peninggalan sejarah, museum, arsip, dan
berbagai sumber pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi
kebencanaan.
Dengan demikian, pengalaman menghadapi bencana tidak
berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat menjadi pengetahuan yang
diwariskan dan membentuk kewaspadaan antargenerasi.
Sebagai bagian dari penguatan literasi tersebut, Kemenko
PMK mendorong implementasi program Flagship KITA TANGGUH yang mencakup tiga
subprogram, yakni Budaya Tangguh Bencana, Kolaborasi Tangguh Bencana, dan
Dashboard Tangguh Bencana.
Literasi kebencanaan diarahkan menyentuh berbagai lapisan
masyarakat, mulai dari keluarga melalui kesiapan tas atau ransel darurat di
rumah, satuan pendidikan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),
hingga relawan dan masyarakat secara lebih luas.
Melalui Bincang Santai Literasi Kebencanaan, Kemenko PMK
mendorong agar literasi kebencanaan tidak berhenti sebagai inisiatif sektoral,
tetapi tumbuh menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat dan sistem pendidikan.
Kolaborasi pemerintah, daerah, akademisi, lembaga
pengetahuan, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun
ketangguhan menghadapi risiko bencana secara berkelanjutan.(*)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar