SIAGA-FM – Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menegaskan, ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, memerlukan partisipasi aktif dari warga, tidak bisa sekadar dibebankan kepada pihak pemerintah semata.
Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro (kemeja batik
berpeci) turut mengikuti simulasi Gempa Bumi bersama BMKG (Sumber: RRI/YF)
“Tujuannya adalah menyiapkan masyarakat kita agar tangguh
menghadapi bencana. Masyarakat harus mengerti bagaimana caranya menyiapkan diri
menghadapi gempa,” kata Suyatni dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi
Kabupaten Magetan dengan tema Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi
dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu kemarin.
Penyelenggaraan
Sekolah Lapang BMKG itu, diharapkan mampu membekali masyarakat dengan informasi
yang akurat dan spesifik terkait mitigasi bencana. Dengan demikian, warga tidak
sekadar waspada, tetapi juga cekatan mengambil tindakan yang tepat ketika
situasi darurat terjadi.
Suyatni mengemukakan,
program tersebut memberikan dukungan bagi pemerintah daerah dalam memaksimalkan
kapasitas warga, agar mampu mengidentifikasi berbagai potensi kebencanaan.
“Bagaimana
mengenali potensi-potensi kebencanaan sehingga masyarakat tahu cara bertindak
yang cepat dan tepat dalam situasi darurat,” ujarnya.
Selama ini,
karakteristik geografis Magetan yang dikelilingi pegunungan membuat wilayah
tersebut lebih lekat dengan kejadian bencana tanah longsor dan angin kencang.
Meskipun guncangan gempa yang dirasakan warga biasanya bersumber dari daerah
sekitar dan bermagnitudo kecil, potensi bahayanya tetap harus diwaspadai.
Peringatan itu
didasarkan pada data dari BMKG yang menunjukkan adanya sumber gempa darat
dengan posisi yang relatif dekat dengan Magetan.
“Ternyata Magetan
pun punya potensi bencana gempa bumi yang tidak sederhana. Cukup membahayakan
karena letaknya dekat, di darat. Skalanya mungkin kecil, tetapi karena
kedalamannya dangkal, kemampuan daya rusaknya bisa hebat,” katanya.
Ia berharap ilmu
yang didapat para peserta dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan demi
keselamatan bersama.
“Kita semua berdoa
supaya ilmu itu nanti tidak dipakai, karena kalau dipakai artinya terjadi
bencana. Kita berdoa mudah-mudahan tidak ada bencana. Tetapi apa pun, kita
harus sedia payung sebelum hujan,” pungkasnya.(*)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar