Perkuat Kesiapsiagaan, Pemkab Magetan Gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Senin, 28 September 2026

Perkuat Kesiapsiagaan, Pemkab Magetan Gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi

SIAGA-FM – Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro menegaskan, ketangguhan masyarakat menghadapi bencana, memerlukan partisipasi aktif dari warga, tidak bisa sekadar dibebankan kepada pihak pemerintah semata.

 

Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro (kemeja batik berpeci) turut mengikuti simulasi Gempa Bumi bersama BMKG (Sumber: RRI/YF)


“Tujuannya adalah menyiapkan masyarakat kita agar tangguh menghadapi bencana. Masyarakat harus mengerti bagaimana caranya menyiapkan diri menghadapi gempa,” kata Suyatni dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi Kabupaten Magetan dengan tema Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045, Sabtu kemarin.

 

Penyelenggaraan Sekolah Lapang BMKG itu, diharapkan mampu membekali masyarakat dengan informasi yang akurat dan spesifik terkait mitigasi bencana. Dengan demikian, warga tidak sekadar waspada, tetapi juga cekatan mengambil tindakan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.

 

Suyatni mengemukakan, program tersebut memberikan dukungan bagi pemerintah daerah dalam memaksimalkan kapasitas warga, agar mampu mengidentifikasi berbagai potensi kebencanaan.

 

“Bagaimana mengenali potensi-potensi kebencanaan sehingga masyarakat tahu cara bertindak yang cepat dan tepat dalam situasi darurat,” ujarnya.

 

Selama ini, karakteristik geografis Magetan yang dikelilingi pegunungan membuat wilayah tersebut lebih lekat dengan kejadian bencana tanah longsor dan angin kencang. Meskipun guncangan gempa yang dirasakan warga biasanya bersumber dari daerah sekitar dan bermagnitudo kecil, potensi bahayanya tetap harus diwaspadai.

 

Peringatan itu didasarkan pada data dari BMKG yang menunjukkan adanya sumber gempa darat dengan posisi yang relatif dekat dengan Magetan.

 

“Ternyata Magetan pun punya potensi bencana gempa bumi yang tidak sederhana. Cukup membahayakan karena letaknya dekat, di darat. Skalanya mungkin kecil, tetapi karena kedalamannya dangkal, kemampuan daya rusaknya bisa hebat,” katanya.

 

Ia berharap ilmu yang didapat para peserta dapat berfungsi sebagai upaya pencegahan demi keselamatan bersama.

 

“Kita semua berdoa supaya ilmu itu nanti tidak dipakai, karena kalau dipakai artinya terjadi bencana. Kita berdoa mudah-mudahan tidak ada bencana. Tetapi apa pun, kita harus sedia payung sebelum hujan,” pungkasnya.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner