SIAGA-FM – Bencana selalu datang dengan cara yang tidak sederhana. Ketika banjir bandang menerjang, longsor menutup jalan, gempa mengguncang, atau kebakaran meluas, persoalan yang muncul bukan hanya soal kerusakan fisik.
Dalam hitungan menit, masyarakat membutuhkan informasi
yang benar, keputusan yang cepat, jalur komunikasi yang hidup, evakuasi yang
terarah, pelayanan kesehatan, keamanan, logistik, hingga kepastian siapa
melakukan apa. Pada titik inilah kualitas sistem penanggulangan bencana sebuah
daerah diuji.
Kita sering menyaksikan banyak pihak hadir ketika bencana
terjadi. Pemerintah bergerak, aparat turun, tenaga kesehatan bersiaga, relawan
berdatangan, dunia usaha memberikan bantuan, media memberitakan, dan masyarakat
berusaha menyelamatkan diri. Namun pertanyaannya: apakah semua bergerak sebagai satu sistem?
Sebab dalam bencana, banyak orang yang bergerak belum
tentu berarti respons yang efektif. Banyak lembaga yang terlibat belum tentu
menghasilkan koordinasi yang baik. Bahkan, bantuan yang melimpah pun dapat
menjadi tidak efektif apabila informasi, komando, prioritas, dan distribusinya
tidak terintegrasi.
Karena itu, daerah membutuhkan perubahan cara pandang.
Penanggulangan bencana harus dibangun sebagai satu sistem,
bukan sekadar kumpulan respons dari berbagai institusi.
Setidaknya, ada lima prinsip yang menurut penulis penting
untuk menjadi fondasi: satu frekuensi informasi,
satu satgas bersama, early response
yang terukur, early action yang
profesional, dan anggaran yang make sense.
1.
Satu
Frekuensi Informasi
Dalam situasi bencana, informasi bukan sekadar data.
Informasi adalah bagian dari upaya menyelamatkan nyawa.
Bayangkan sebuah desa menerima kabar bahwa banjir akan
segera datang. Di satu sisi masyarakat menerima pesan untuk segera mengungsi.
Di sisi lain beredar informasi bahwa kondisi masih aman. Media sosial
memberikan kabar yang berbeda. Petugas di lapangan mempunyai informasi lain.
Sementara pemerintah masih melakukan verifikasi.
Dalam kondisi seperti ini, masalah bukan lagi sekadar
kurangnya informasi. Masalahnya adalah terlalu banyak informasi yang
tidak berada dalam satu frekuensi. Karena itu, daerah perlu
membangun konsep one frequency for all.
Satu frekuensi tidak berarti semua pihak harus
menggunakan alat komunikasi yang sama. Maknanya adalah semua stakeholder
memiliki sumber informasi yang sama, mekanisme
verifikasi yang sama, dan pemahaman yang sama terhadap kondisi lapangan.
Di sinilah pentingnya sistem komunikasi darurat yang
terstruktur. Radio komunikasi, pusat komando, sistem peringatan dini, kanal
pelaporan lapangan, hingga teknologi digital harus ditempatkan dalam satu
ekosistem.
Prinsipnya sederhana: Satu
kejadian, satu informasi terverifikasi, satu rujukan keputusan.
Sebab keputusan yang cepat tetapi berdasarkan informasi yang salah tetap dapat
menghasilkan bencana yang lebih besar.
2.
Satu
Satgas Bersama
Bencana tidak mengenal ego sektoral. Air tidak berhenti
karena batas kewenangan dinas. Longsor tidak menunggu siapa yang bertanggung
jawab atas sebuah jalan. Gempa tidak memilih gedung milik pemerintah, swasta,
sekolah, atau masyarakat.
Karena itu, respons bencana juga tidak boleh terjebak
dalam sekat-sekat birokrasi. Yang dibutuhkan adalah satu satgas bersama.
Konsep ini bukan berarti semua lembaga kehilangan
kewenangannya. Justru sebaliknya. Masing-masing stakeholder tetap bekerja sesuai kompetensi, tetapi berada dalam
satu mekanisme koordinasi.
BPBD menjalankan fungsi sesuai mandatnya. Dinas kesehatan
mengelola aspek medis. Dinas sosial menangani dukungan sosial dan pengungsian.
TNI dan Polri mendukung keamanan, evakuasi, serta operasi lapangan. Pemerintah
kecamatan dan nagari/desa menjadi penghubung utama dengan masyarakat. Sekolah
memiliki mekanisme perlindungan warga sekolah. Dunia usaha dapat mendukung
logistik dan sumber daya. Relawan menjadi kekuatan masyarakat sipil. Media
membantu penyebaran informasi publik.
Semua penting. Tetapi yang harus dihindari adalah situasi
ketika semua datang ke lokasi, tetapi masing-masing
bekerja dengan peta, informasi, dan prioritas sendiri.
Satu satgas bersama berarti ada pembagian peran yang
jelas sebelum bencana terjadi. Siapa yang menerima laporan pertama? Siapa yang
melakukan verifikasi? Siapa yang mengaktifkan peringatan? Siapa yang memutuskan
evakuasi? Siapa yang mengamankan jalur? Siapa yang menyiapkan layanan
kesehatan? Siapa yang mengelola pengungsian? Siapa yang berbicara kepada
publik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh baru dijawab
ketika bencana sudah berlangsung.
3.
Early
Response Harus Terukur
Kita sering mengatakan, respons bencana harus dilakukan
"secepat mungkin". Tetapi seberapa cepat? Sepuluh menit? Tiga puluh
menit? Satu jam? Tanpa ukuran, kata "cepat" menjadi relatif. Karena
itu, early
response harus memiliki indikator
yang terukur.
Daerah dapat menetapkan standar sederhana: berapa lama
informasi diterima hingga diverifikasi, berapa lama peringatan diteruskan
kepada masyarakat, berapa lama tim pertama bergerak, berapa lama mencapai
lokasi, dan berapa lama kebutuhan dasar pertama diberikan.
Setelah setiap kejadian, angka tersebut dievaluasi. Jika
target mobilisasi adalah 15 menit tetapi kenyataannya 45 menit, maka harus
diketahui penyebabnya. Apakah komunikasi bermasalah? Personel tidak tersedia?
Kendaraan tidak siap? Jalur terputus? Atau justru prosedurnya terlalu panjang?
Dengan pendekatan ini, penanggulangan bencana berubah
dari sekadar "bergerak cepat" menjadi manajemen
kinerja respons. Apa yang diukur dapat dievaluasi. Apa yang
dievaluasi dapat diperbaiki.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan janji bahwa
pemerintah akan bergerak cepat. Masyarakat membutuhkan sistem yang memang dirancang untuk bergerak cepat.
4.
Early
Action: Jangan Menunggu Bencana Menjadi Besar
Lebih penting lagi, kita harus berani menggeser paradigma
dari reactive response menuju early action.
Early action berarti melakukan
tindakan berdasarkan tanda-tanda awal sebelum dampak menjadi lebih besar.
Ketika indikator banjir menunjukkan kenaikan yang
signifikan, tindakan tidak harus menunggu air memasuki rumah. Ketika hujan
ekstrem berlangsung di kawasan rawan longsor, langkah pengamanan dapat
dilakukan lebih awal. Ketika sistem peringatan dini menunjukkan potensi
ancaman, sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah lokal, dan masyarakat dapat
menjalankan prosedur yang telah disepakati.
Inilah esensi kesiapsiagaan. Namun early action hanya
akan berhasil jika setiap stakeholder
memiliki trigger dan SOP yang jelas. Artinya,
setiap orang harus tahu: jika kondisi A terjadi, maka tindakan B harus
dilakukan. Tidak boleh seluruh keputusan bergantung pada keberanian atau
inisiatif individu.
Sistem yang baik membuat orang yang tepat melakukan
tindakan yang tepat pada waktu yang tepat. Dengan begitu, bencana tidak hanya
dihadapi setelah terjadi, tetapi risikonya sudah dikurangi sejak ancaman mulai
teridentifikasi.
5.
Anggaran
yang Make Sense
Pada akhirnya semua sistem membutuhkan anggaran. Tetapi
persoalan anggaran kebencanaan bukan sekadar berapa besar uang yang tersedia.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah anggaran tersebut
benar-benar mengurangi risiko?
Kita harus berani membandingkan biaya pencegahan dengan
biaya kerusakan. Berapa biaya membangun sistem peringatan dini dibandingkan
dengan kerugian ketika sebuah kawasan terlambat dievakuasi?
Berapa biaya melatih masyarakat dibandingkan dengan biaya
penanganan korban? Berapa biaya memastikan komunikasi darurat tetap hidup
dibandingkan dengan kerugian akibat terputusnya komunikasi ketika bencana
terjadi?
Di sinilah konsep anggaran yang make sense menjadi
penting. Anggaran kebencanaan harus berbasis risiko dan kebutuhan nyata, bukan
sekadar mengikuti pola penganggaran tahunan.
Investasi untuk pemetaan risiko, komunikasi darurat,
pelatihan, simulasi, penguatan sekolah, jalur evakuasi, peralatan penyelamatan,
sistem peringatan dini, dan peningkatan kapasitas masyarakat seharusnya
dipandang sebagai investasi untuk mengurangi kerugian, bukan sekadar
pengeluaran.
Sederhananya: lebih baik mengeluarkan biaya
yang rasional sebelum bencana daripada mengeluarkan biaya besar setelah
semuanya rusak.
Mengubah Budaya
Penanggulangan Bencana
Lima prinsip tersebut sebenarnya mengarah pada satu
perubahan besar: mengubah budaya
penanggulangan bencana dari reaktif menjadi antisipatif.
Selama ini keberhasilan sering diukur dari seberapa
banyak bantuan yang dapat diberikan setelah bencana. Padahal ukuran yang lebih
penting adalah seberapa banyak dampak yang berhasil dikurangi sebelum bencana
membesar.
Sebuah daerah dapat disebut tangguh bukan karena daerah
tersebut bebas dari bencana. Daerah
tangguh adalah daerah yang ketika ancaman muncul mampu mengetahui apa yang
terjadi, menyampaikan informasi yang benar, mengambil keputusan, menggerakkan
sumber daya, melindungi masyarakat, dan melakukan pemulihan secara terencana.
Karena itu, kita membutuhkan sebuah ekosistem. Semua
harus sudah tahu. Semua harus menjadi lebih siap. Lebih siaga. Dari sanalah
daerah yang tangguh benar-benar dibangun. (*)
Penulis: Nova Indra (Direktur Pusat
Pengkajian dan Pengembangan sumber Daya Manusia – P3SDM Melati -, Direktur
Alpha Rescue)







.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar