SIAGA-FM – Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menegaskan, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dibangun melalui dokumen, tetapi harus dilatih, diuji, dan dipastikan mampu dijalankan di lapangan.
Menurut Robby, latihan tersebut bukan sekadar formalitas.
Setiap unsur harus berani menguji seluruh tahapan penanganan bencana, mulai
dari komunikasi, pembagian tugas, koordinasi hingga mobilisasi sumber daya.
“TTX [Table Top Exercise] harus menjadi ruang untuk
menguji apakah rencana yang telah kita susun benar-benar dapat dilaksanakan
ketika bencana terjadi. Jangan hanya mengikuti kegiatan sebagai peserta.
Berikan masukan, sampaikan kendala, uji prosedurnya, uji komunikasinya, uji
pembagian tugasnya dan uji kemampuan mobilisasinya,” tegas Robby.
Menurut Robby, kesiapsiagaan yang kuat dibangun dari
kemampuan setiap unsur untuk memahami peran masing-masing dan bergerak dalam
satu koordinasi.
Hal itu disampaikannya daam kegiatan Pengembangan
Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) Bencana Multi Sektor Kota Salatiga, di Ruang
Plumpungan Lantai 4 Gedung Setda Kota Salatiga, baru-baru ini.
Dengan begitu, lanjutnya, ketika
bencana terjadi, tidak ada waktu yang terbuang untuk mencari tahu siapa
melakukan apa.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga
Sutarto menyampaikan, pengembangan kapasitas TRC diarahkan untuk membangun
kesamaan pemahaman dan pola kerja terpadu dalam penanggulangan bencana.
“Keberadaan Tim Reaksi Cepat tidak hanya dipersiapkan
untuk merespons kejadian, tetapi juga mampu melakukan asesmen, koordinasi,
mobilisasi sumber daya, komunikasi dan pelaporan secara cepat dan tepat,”
jelasnya.
Kegiatan turut menghadirkan fasilitator dari CV
Lavanterra Energy Yogyakarta, Zela Septikasari, bersama tim.
Para fasilitator berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan
peserta untuk menguji serta menyempurnakan rencana kontingensi Kota Salatiga.
(Humas)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar