Ancaman di Balik Kabut Asap Karhutla dan Bahaya PM2.5 Serta Risikonya - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Kamis, 22 Oktober 2026

Ancaman di Balik Kabut Asap Karhutla dan Bahaya PM2.5 Serta Risikonya


SIAGA
-FM
– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini melahirkan bencana. Kabut asap ada dimana-mana.

 

Kabut asap bukan sekadar persoalan kerusakan lingkungan musiman. Lebih dari itu, kabut asap merupakan ancaman krisis kesehatan publik yang dampaknya bisa dirasakan oleh jutaan orang, baik secara langsung maupun jangka panjang.

 

Di balik pekatnya tirai abu-abu yang membatasi jarak pandang, terdapat partikel mikroskopis beracun yang mengintai sistem pernapasan hingga aliran darah manusia.

 

Ada yang disebut PM2.5 (Particulate Matter 2.5). PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat kecil—kurang dari 2,5 mikrometer, atau sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia.

 

Karena ukurannya yang amat kecil, partikel ini tidak bisa disaring oleh bulu hidung dan mampu melayang di udara dalam waktu lama serta terbawa angin hingga jarak ratusan kilometer.

 

Dalam konteks kabut asap karhutla (terutama pada lahan gambut), PM2.5 bukanlah sekadar debu biasa. Berbagai komponen berbahaya yang terkandung di dalamnya meliputi:

  1. Elemen Logam Transisi: Hasil pembakaran biomassa dan tanah gambut, sering kali melepaskan partikel logam berat atau transisi yang bersifat reaktif di dalam jaringan tubuh.
  2. Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH) & Karbon Organik: Senyawa kimia organik hasil pembakaran tidak sempurna dari vegetasi dan material organik tanah. Senyawa ini bersifat karsinogenik (memicu kanker) dan mutagenik.
  3. Gas-gas Beracun Ikutan: Selain partikel padat, kabut asap juga membawa gas berbahaya seperti Karbon Monoksida, Sulfur Dioksida, Nitrogen Oksida, serta senyawa Organik Volatil (VOC) yang mengiritasi selaput lendir.

 

Ketika seseorang menghirup udara yang tercemar kabut asap karhutla, PM2.5 tidak berhenti di tenggorokan.

 

Partikel ini mampu menembus jauh ke saluran pernapasan bagian bawah hingga ke alveoli (kantong udara terkecil di paru-paru), dan bahkan menembus membran alveoli masuk ke dalam aliran darah.

 

Paparan kabut asap karhutla memicu berbagai masalah kesehatan klinis yang terdokumentasi dengan baik di fasilitas kesehatan:

  1.  Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) & Pneumonia: Peningkatan kadar PM2.5 berbanding lurus dengan lonjakan kunjungan pasien ke puskesmas dan rumah sakit dengan keluhan batuk, pilek, infeksi paru, hingga pneumonia.
  2. Eksaserbasi Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): Penderita asma sangat sensitif terhadap iritasi asap; paparan singkat saja dapat memicu serangan sesak napas berat.
  3. Iritasi Lokal: Menyebabkan mata merah, berair, gatal, serta iritasi pada kulit dan selaput lendir hidung serta tenggorokan.
  4. Kelompok Rentan yang Terdampak Berat: Anak-anak (mengingat organ pernapasan mereka masih berkembang dan frekuensi bernapas lebih cepat), lansia, ibu hamil, serta individu dengan riwayat penyakit jantung dan paru adalah kelompok yang paling rentan mengalami perburukan kondisi klinis.

 

Karena hal di atas, di saat karhutla masih menjadi pemandangan sehari-hari, dan dampak yang dirasakan di daerah-daerah yang terpapar, maka kehati-hatian dengan kondisi tersebut, dan sikap bijak menggunakan masker, adalah pilihan utama.

 

Selain itu, juga perlu dilakukan beberapa hal di bawah ini:

  1. Perbanyak Konsumsi Air Putih: Air membantu menjaga kelembapan selaput lendir di saluran pernapasan, sehingga membantu paru-paru mengeluarkan dahak dan partikel asing secara alami.
  2. Jaga Kebersihan Diri: Setelah dari luar ruangan, segera lepas pakaian yang terpapar asap, mandi, dan keramas.
  3. Bilas Mata dan Saluran Hidung: Jika mata terasa perih atau gatal, gunakan tetes mata (artificial tears) atau bilas dengan larutan salin steril. Hindari mengucek mata. Juga lakukan cuci hidung (nasal irigation) menggunakan cairan NaCl 0,9% untuk membersihkan endapan partikel asap di rongga hidung.
  4. Konsumsi Makanan Bergizi & Antioksidan: Perbanyak konsumsi buah dan sayur kaya vitamin C dan E untuk membantu tubuh melawan stres oksidatif yang disebabkan oleh zat karsinogenik dalam asap.
  5. Pengawasan Ekstra pada Anak dan Lansia: Pastikan anak-anak dan lansia berada di ruangan tertutup yang memiliki aliran udara bersih. Jika anak menunjukkan gejala napas cepat atau cuping hidung kembang-kempis, segera beri bantuan medis.

 

Lalu, kapan harus ke fasilitas atau layanan kesehatan? Jika mengalami gejala sesak napas hebat atau kesulitan bernapas, nyeri, tegang, atau rasa tertekan di dada, batuk menerus yang disertai dahak pekat/berdarah, serta pusing berat, lemas ekstrem, atau penurunan kesadaran, maka segeralah pergi ke layanan kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner