SIAGA-FM – Jelang musim hujan yang diprediksi mulai berlangsung pada awal November 2026, Pemprov Jawa Barat perkuat mitigasi bencana.
Sekda Jawa Barat, Herman Surya tman (Foto: RRI / Wildan
Pratomo)
Mitigasi tersebut
meliputipPemetaan wilayah rawan berdasarkan prakiraan curah hujan menjadi salah
satu langkah, untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor.
Sekretaris Daerah
Jabar, Herman Suryatman mengatakan, pemerintah kabupaten dan kota perlu
memanfaatkan data cuaca untuk mengidentifikasi potensi bencana berdasarkan
lokasi dan waktu kejadian.
“Kita akan
mengakhiri musim kemarau dan memasuki musim penghujan. Pada penghujung musim
kemarau, potensi bencana kekeringan dan kebakaran masih ada. Karena itu, kita
harus memastikan potensi bencana tersebut dapat diantisipasi dan dimitigasi,”
ujar Herman, Rabu kemarin.
Menurutnya,
informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi
salah satu acuan penting dalam menyusun langkah antisipasi. Data tersebut
mencakup perubahan musim, prakiraan curah hujan, serta dinamika tektonik dan
vulkanik.
Herman menegaskan,
setiap daerah perlu memetakan wilayah dengan potensi curah hujan rendah,
sedang, hingga tinggi. Pemetaan itu diperlukan agar langkah mitigasi dapat
dilakukan secara tepat sasaran sebelum bencana terjadi.
“Perubahan cuaca
harus diwaspadai karena dapat memicu bencana banjir dan longsor. Kita perlu
mengetahui kapan musim hujan mulai berlangsung, bagaimana perkiraan curah
hujannya rendah, sedang, atau tinggi, serta di mana lokasi dan kapan waktunya,”
katanya.
Pemprov Jabar juga
mendorong penyebarluasan informasi potensi bencana kepada masyarakat melalui
media sosial, media daring, dan surat edaran kepada pemerintah kabupaten dan
kota. Upaya tersebut diharapkan meningkatkan kewaspadaan, sekaligus
meminimalkan dampak apabila bencana terjadi.
“Harapannya, tidak
terjadi bencana. Namun, jika terjadi, dampaknya bisa diminimalkan melalui
mitigasi yang baik,” tutur Herman.(rri)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar