SIAGA-FM – Penguatan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) dan kolaborasi pentahelix dalam pengurangan risiko bencana, perlu berjalan lebih terkoordinasi, terukur, dan berdampak hingga tingkat daerah dan komunitas.
Hal tersebut disampaikan Asisten Deputi Penanganan
Bencana Kemenko PMK Merry Efriana dalam rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan
Risiko Bencana (PRB) 2026 di Provinsi Banten, melalui sesi berbagi bertajuk
“Membangun Ekosistem Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) di Indonesia:
Praktik dan Tantangan Implementasi AMPD di Tingkat Daerah dan Komunitas”.
Kegiatan itu diselenggarakan Kelompok Kerja AMPD bersama
IHCP di Dinas ESDM Provinsi Banten, beberapa waktu lalu.
Merry menyampaikan, Indonesia sebagai negara yang berada
di kawasan Cincin Api Pasifik sangat rentan terhadap bencana, termasuk ancaman
banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, serta kebakaran hutan dan lahan. Hal ini
menuntut penguatan kesiapsiagaan dan mekanisme respons yang mampu mengubah
informasi peringatan dini menjadi tindakan nyata.
“Risiko bencana di Indonesia tinggi dan semakin meningkat
akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan Aksi Merespons Peringatan
Dini yang terkoordinasi, terukur, dan berkelanjutan untuk mengurangi korban
jiwa dan kerugian akibat bencana,” ujar Merry.
Menurutnya, keberhasilan AMPD tidak hanya bergantung pada
ketersediaan informasi dan teknologi peringatan dini, tetapi juga pada kesiapan
masyarakat, kejelasan mekanisme pengambilan keputusan, serta dukungan sumber
daya untuk melaksanakan aksi dini.
Karena itu, sebutnya, koordinasi perlu diperkuat mulai
dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga desa dan komunitas.
“AMPD melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah
daerah, desa dan komunitas, dunia usaha, akademisi, serta mitra pembangunan.
Partisipasi masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan AMPD, sehingga
peringatan dini perlu segera diterjemahkan menjadi aksi nyata di tingkat daerah
dan komunitas,” tambah Merry.
Penguatan koordinasi tersebut juga memerlukan kolaborasi
pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat
sipil, dan media.
Melalui penguatan AMPD dan kolaborasi pentahelix, Kemenko
PMK mendorong penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi dan antisipatif.
Upaya pengurangan risiko bencana diharapkan tidak
berhenti pada penyampaian peringatan dini atau forum koordinasi, tetapi
berlanjut menjadi aksi konkret yang melindungi masyarakat dan mengurangi dampak
bencana.(ist)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar