SIAGA-FM – Edukasi dan mitigasi bencana akan dimasukkan dalam kurikulum madrasah dan pondok pesantren di seluruh Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag)
Romo Muhammad Syafi’i, saat meninjau pameran karya riset kebencanaan santri di
Dayah/Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Aceh Besar, Jumat (6/11/2026).
Wamenag menegaskan, integrasi kurikulum mitigasi bencana
merupakan langkah penting dan mendesak bagi ekosistem pendidikan keagamaan.
Menurutnya, bentang geografis Indonesia yang dinamis
mendorong pentingnya lembaga pendidikan Islam untuk membekali para santri
dengan kesiapsiagaan, pemahaman lingkungan, dan keterampilan penyelamatan diri
secara terstruktur sejak dini.
“Ini bukan lagi sekadar wacana, tapi langkah penting yang
harus segera kita ambil. Perlu kita tanamkan literasi kebencanaan sejak dini,
agar santri bukan hanya paham teori, tetapi memiliki naluri kesiapsiagaan dan
keterampilan dalam menyelamatkan diri maupun sesama," tegas Wamenag.
Wamenag pada kesempatan itu juga menyaksikan presentasi
karya ilmiah santri RIAB berjudul Inong Tangguh, yang mengangkat kearifan lokal
smong masyarakat Pulau Simeulue dalam
mengenali potensi tsunami lalu memadukannya dengan edukasi untuk anak-anak dan
pemberdayaan perempuan.
Wamenag menilai inovasi berbasis kearifan lokal tersebut
sangat aplikatif untuk ditransformasikan menjadi modul pembelajaran kebencanaan
di pesantren dan madrasah.
"Kita rancang integrasi kurikulum ini agar madrasah
dan pesantren punya kesiapan yang baik dalam menanggulangi bencana. Ini sejalan
dengan agenda kita di kementerian untuk terus memperkuat edukasi keselamatan
bagi anak-anak didik," ujarnya.
Rencana penguatan kurikulum kebencanaan ini juga sejalan
dengan inisiatif Kementerian Agama yang baru saja membentuk tim koordinasi
penanganan darurat bernama Kemenag Peduli.
Tim ini tidak hanya berfokus pada respons cepat ketika
bencana terjadi, melainkan juga mendukung langkah-langkah preventif serta
edukatif di lingkungan satuan pendidikan agama.
“Langkah integrasi kurikulum ini terhubung langsung
dengan tim Kemenag Peduli yang baru kita bentuk. Fokus kita bukan hanya tanggap
darurat pascabencana, melainkan membangun kesiapan sejak dini di lingkungan
pendidikan”, jelas Romo Syafii.
Lebih lanjut, Wamenag mendorong pembaharuan cara pandang
kurikulum di madrasah dan pesantren dengan menghapus dikotomi lama antara ilmu
umum dan ilmu agama.
Baginya, ilmu-ilmu sains seperti geologi kebencanaan,
matematika, fisika, kimia, dan biologi pada hakikatnya merupakan bagian
integral dari pendidikan keagamaan yang memperkuat pemahaman atas ciptaan
Tuhan.
"Jangan lagi ada sekat 'ini ilmu umum, ini ilmu
agama'. Kimia, biologi, matematika, maupun sains kebencanaan hakikatnya adalah
bagian dari pendidikan agama. Santri yang sedang mendalami ilmu apa pun
sesungguhnya tengah menjalankan proses pendidikan Islam," tegasnya.
Wamenag juga turut menyampaikan apresiasi terhadap
kemajuan tata kelola dan fasilitas pondok pesantren modern saat ini yang
dinilainya sudah sangat representatif.
Wamenag memandang para santri hari ini memiliki ekosistem
belajar yang jauh lebih layak, asri, dan suportif untuk mengasah potensi
intelektual maupun spiritual secara optimal.








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar