Gerakan Tanah dan Sinkhole di Wilayah RI, Ini Penjelasan Badan Geologi - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad


Selasa, 24 Februari 2026

Gerakan Tanah dan Sinkhole di Wilayah RI, Ini Penjelasan Badan Geologi

SIAGA-FM – Bencana pergerakan tanah melanda sejumlah wilayah Indonesia di sejak awal tahun 2026 ini. Tak hanya itu, fenomena sinkhole juga bermunculan.

 

Foto: Sinkhole atau lubang amblas muncul di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. (Dok. Universitas Gajah Mada)

Pergerakan tanah yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada 6 Februari 2026 lalu memaksa lebih 2.400 warga harus mengungsi. Pergerakan tanah dilaporkan terus terjadi, bahkan pada malam hari.

 

Lalu, pada Senin (16/2/2026), musibah pergerakan tanah melanda Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menyebabkan 2 rumah rusak erat dan 47 Kepala Keluarga (KK) terancam.

 

Pergerakan tanah juga melanda Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang pada 18 Februari 2026. Kejadian ini dilaporkan sudah berlangsung sejak awal Januari 2026.

 

Sementara itu, tercatat temuan pertama kejadian fenomena sinkhole (lubah runtuhan) tahun dilaporkan pada 7 Januari 2026. Sinkhole berukuran 2x5 meter dengan kejadalaman 4 meter dilaporkan muncul di rumah warga di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Lalu muncul sinkhole di lokasi tak jauh, berukuran 3x4 dengan kedalaman sekitar 3 meter.

 

Fenomena sinkhole juga kembali memicu kehebohan pascabencana banjir bandang yang turut melanda Sumatra Barat pada pekan akhir November 2025 lalu.

 

Sinkhole ini dilaporkan muncul pada 4 Januari 2026 di persawahan di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Dengan kedalaman sekitar 5,7 meter, ukuran diameter sekitar 10 meter.

 

Lalu, muncul lubah raksasa yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Meski BRIN kemudian menyebut kejadian ini bukanlah fenomena sinkhole.

 

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan, terjadinya bencana pergerakan tanah pada dasarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri, tetapi sangat erat kaitannya dengan dinamika musim hujan di Indonesia.

 

"Indonesia memang memiliki karakter iklim dengan curah hujan tinggi dan durasi hujan yang panjang, terutama pada puncak musim hujan. Dalam kondisi seperti ini, tanah mengalami proses yang kita sebut sebagai kejenuhan air," jelasnya, Senin (23/2/2026). 

 

Sementara terkait fenomena sinkhole, Lana mengatakan, kejenuhan tanah akibat musim hujan bisa memicu fenomena lain seperti sinkhole, tetapi tergantung pada kondisi geologi setempat.

 

Pada prinsipnya, terangnya, saat musim hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, tanah mengalami peningkatan infiltrasi air. Air ini meningkatkan tekanan air pori, menurunkan kuat geser tanah, dan memicu pergerakan tanah seperti yang terjadi di Tegal dan Bogor.

 

"Fenomena sinkhole umumnya berkembang pada daerah dengan batuan karbonat seperti batu gamping (karst) walaupun di beberapa tempat muncul juga di daerah vulkanik. Di mana air hujan yang sedikit asam melarutkan batuan dan membentuk rongga bawah tanah. Ketika atap rongga tersebut tidak lagi mampu menahan beban, terjadilah amblesan mendada," jelasnya. 

 

Namun di luar kawasan karst, kejenuhan air juga bisa memicu amblesan melalui mekanisme berbeda, seperti pelunakan lapisan lempung yang tebal, erosi internal (piping), runtuhan tanah urug pada area cut and fill perumahan, atau kegagalan lereng yang berkembang menjadi depresi lokal.(IST)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad