SIAGA-FM – Curah hujan tinggi diprakirakan masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga awal April 2026. BMKG mencatat, sejumlah daerah mengalami hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.
Prakirawan BMKG, Abdillah, pada Jumat (27/3/2026) lalu
melaporkan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di berbagai wilayah
Indonesia, juga mewarnai periode arus balik Lebaran pada 23–25 Maret 2026,
dengan curah hujan tertinggi tercatat di Papua Tengah mencapai 119,2 mm per
hari.
Berdasarkan data pengamatan, hujan dengan intensitas
signifikan juga terjadi di sejumlah wilayah lain, antara lain Papua 64,6
mm/hari, Jawa Tengah 63 mm/hari, Jawa Barat 53,8 mm/hari, Nusa Tenggara Timur
44,9 mm/hari, Jawa Timur 42 mm/hari, dan Lampung 36 mm/hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih aktifnya
gelombang Rossby ekuatorial dan Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial
di wilayah Indonesia bagian timur. Selain itu, adanya pola pertemuan dan
perlambatan angin di beberapa wilayah, serta pemanasan kuat pada siang hari,
turut mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan.
Khusus wilayah Jabodetabek, hujan dengan intensitas
sedang hingga lebat juga terpantau dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan
tertinggi tercatat di Jakarta Utara sebesar 60 mm/hari, Jakarta Barat 54
mm/hari, Bogor 53,8 mm/hari, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masing-masing 40
mm/hari, serta Jakarta Pusat 39 mm/hari.
BMKG menjelaskan, dalam sepekan ke depan kondisi cuaca di
Indonesia masih dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan
lokal. Hasil analisis menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI)
sebesar +14,2 yang mengindikasikan adanya La Niña lemah, sehingga meningkatkan
aktivitas konvektif terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Peningkatan aktivitas tersebut diprakirakan semakin kuat
dengan aktifnya MJO pada 27–28 Maret 2026, yang berdampak pada wilayah Samudera
Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Laut Arafuru, Pulau Buru, sebagian
besar Papua, dan perairan utara Papua.
Di sisi lain, keberadaan siklon tropis Narel di Samudra
Hindia barat laut Australia juga memberikan pengaruh tidak langsung terhadap
cuaca di Indonesia. Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan sedang
hingga lebat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah
Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
BMKG juga memprakirakan munculnya sirkulasi siklonik di
Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat daya Banten, serta Papua bagian
selatan yang semakin memperkuat potensi hujan.
Untuk periode 27–29 Maret 2026, cuaca di Indonesia
umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, hujan lebat yang dapat
disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi dengan status
siaga di DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara
Barat, Papua, dan Papua Selatan.
Sementara itu, pada periode 30 Maret hingga 2 April 2026,
hujan ringan hingga sedang masih mendominasi, dengan potensi hujan lebat
disertai petir dan angin kencang berstatus siaga di Sumatra Barat dan Papua
Pegunungan.
BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan
untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan lebat yang dapat
memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin
kencang.
Kondisi cuaca yang dinamis juga perlu menjadi perhatian
dalam perencanaan perjalanan darat, laut, dan udara, serta aktivitas luar
ruangan seperti ibadah dan wisata.(infopublik)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar