SIAGA-FM – Di balik keindahan bentang alam Sumatra yang dihiasi pegunungan, lembah, dan gunung api, terdapat struktur geologi raksasa yang membentang hampir sepanjang Pulau Sumatra. Struktur ini dikenal sebagai Great Sumatran Fault (GSF) atau Sesar Besar Sumatra, sebuah jalur patahan aktif yang menjadi sumber ancaman gempa bumi darat terbesar di Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat, Sesar Sumatra itu mungkin tidak
sepopuler ancaman tsunami akibat gempa megathrust di Samudra Hindia. Namun para
ahli geologi dan kebencanaan justru menilai, sesar ini merupakan ancaman nyata
yang terus "mengintai" kehidupan jutaan penduduk Sumatra. Ia bergerak
perlahan, nyaris tanpa disadari, menyimpan energi selama puluhan hingga ratusan
tahun sebelum melepaskannya dalam bentuk gempa bumi yang merusak.
Sesar Besar Sumatra, terbentuk akibat tumbukan miring
antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia (Sunda Plate). Karena arah tumbukan tidak tegak lurus, sebagian
energi tektonik disalurkan melalui sistem patahan geser mendatar yang membelah
Pulau Sumatra dari ujung selatan hingga utara.
Panjang sesar ini mencapai 1.900 kilometer, menjadikannya
salah satu sistem sesar aktif terpanjang di dunia. Jalur sesar membentang dari
wilayah Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera
Utara hingga Aceh.
Menurut penelitian geologi terbaru, Sesar Besar Sumatra terdiri atas sedikitnya 19 segmen aktif,
yang masing-masing memiliki karakteristik dan potensi gempa berbeda-beda.
Jalur Sunyi yang
Menyimpan Energi
Berbeda dengan gunung api yang menunjukkan tanda-tanda
aktivitas melalui letusan atau asap kawah, sesar aktif bekerja dalam kesunyian.
Pergerakannya hanya beberapa milimeter hingga sentimeter per tahun.
Penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan
Badan Informasi Geospasial menunjukkan, beberapa segmen Sesar Besar Sumatra
bergerak sekitar 14–15mm per tahun.
Angka ini tampak kecil, tetapi dalam puluhan tahun dapat menghasilkan akumulasi
tegangan yang cukup untuk memicu gempa besar.
Profesor geodesi dan tektonik Indonesia, Irwan Meilano,
menjelaskan bahwa akumulasi deformasi di sepanjang sesar aktif merupakan
indikator penting dalam memperkirakan potensi pelepasan energi gempa di masa
depan. Hasil pengamatan GPS menunjukkan, energi terus tersimpan pada sejumlah
segmen sesar yang relatif "tenang".
Inilah alasan mengapa Great Sumatran Fault sering disebut
sebagai "jalur sunyi yang mengintai". Ketika aktivitas seismiknya
rendah, bukan berarti ancamannya telah hilang. Justru pada beberapa segmen,
kondisi tersebut dapat mengindikasikan terjadinya penguncian (locking) yang
menyebabkan energi terus terakumulasi.
Sejarah menunjukkan, di sepanjang Sesar Besar Sumatra telah
berulang kali menghasilkan gempa bumi merusak. Gempa Padang Panjang tahun 1926,
menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di jalur patahan ini.
Gempa yang diperkirakan berkekuatan sekitar M7,6 tersebut
menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerusakan luas pada permukiman serta
infrastruktur. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gempa darat dari sesar
aktif dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar meskipun tidak memicu
tsunami.
Bagi masyarakat Sumatera Barat, keberadaan Sesar Besar
Sumatra memiliki arti khusus. Jalur sesar melintasi sejumlah wilayah penting
seperti Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Tanah Datar, Lembah Anai, dan Solok
Selatan.
Penelitian mengenai pola kegempaan menunjukkan, beberapa
segmen memiliki aktivitas relatif rendah dalam beberapa dekade terakhir. Para
peneliti mengidentifikasi kondisi ini sebagai kemungkinan "seismic gap", yaitu wilayah yang
belum melepaskan energi besar dalam waktu lama sehingga berpotensi menjadi
lokasi gempa signifikan di masa mendatang.
Terkait itu, pakar gempa Daryono, berulang kali
mengingatkan bahwa ancaman gempa di Sumatra tidak hanya berasal dari zona
megathrust di lepas pantai, tetapi juga dari sesar aktif di daratan yang dapat
menghasilkan gempa dangkal dan merusak. Gempa dangkal umumnya memiliki dampak
kerusakan lebih besar karena sumber guncangannya dekat dengan permukaan.
Sementara itu, penelitian paleoseismologi menunjukkan, sejumlah segmen Sesar Besar Sumatra pernah
menghasilkan gempa permukaan besar berulang kali dalam sejarah geologi. Temuan
ini memperlihatkan bahwa siklus gempa besar merupakan bagian alami dari dinamika
sesar tersebut.
Menurut para peneliti geologi struktur, seluruh segmen
aktif Sesar Besar Sumatra berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo lebih
dari 6,6, tergantung panjang segmen yang mengalami ruptur.
Dari Ancaman
Menjadi Kesadaran
Kenyataan bahwa jutaan masyarakat hidup di sepanjang
jalur Sesar Besar Sumatra, tidak seharusnya menimbulkan ketakutan berlebihan.
Jepang, Selandia Baru, California, dan Chile menunjukkan, masyarakat dapat
hidup berdampingan dengan sesar aktif melalui budaya kesiapsiagaan yang kuat.
Langkah-langkah penguatan kesiapsiagaan masyarakat, perlu
dilakukan sedemikian rupa. Literasi kebencanaan sejak dini sudah harus
ditingkatkan di semua elemen dan lapisan warga. Masyarakat perlu meningkatkan
kewaspadaan.
Apakah Sesar Besar Sumatra akan kembali bergerak? Tidak satu pun alat yang mampu mendeteksinya. Namun, yang penting kita lakukan adalah seberapa siap kita ketika saat itu tiba.(*)
Penulis: Nova Indra (Pimpinan Alpha Rescue –
Journalist)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar