SIAGA-FM – Gelaran ragam kegiatan sebagai rangkaian refleksi Satu
Abad Gempa Sianok-Sumani (Gempa Padang Panjang) 1926, telah terselesaikan
dengan kebersamaan dari berbagai lembaga inisiator dan kolaborator.
Sejak setahun silam,
persiapan dan iven yang digelar pun telah menjadi bagian dari bukti kepedulian
berbagai pihak terhadap pentingnya membangun budaya sadar bencana. Banyak
lembaga yang ikut urung-rembug bersama para tokoh yang memiliki kepedulian
terhadap mitigasi bencana.
Diksar Sekolah Siaga
Bencana, Diksar Madrasah Siaga Bencana, Diskusi-diskusi Jurnalis tentang
membangun Wartawan Peduli Bencana, penelusuran bangunan tahan gempa pasca gempa
1926, hingga kegiatan Tour de Patahan Sumatra, Bakti Sosial, dan Lomba Menulis
Artikel Kebencanaan, telah mengisi ruang daerah ini. Semua dinisbahkan pada
satu hal; membangun kearifan semua elemen tentang pentingnya kesadaran bahwa
mitigasi bukan hanya domain pemerintah namun keniscayaan bagi semua pihak.
Kini, semua rangkaian
kegiatan itu telah selesai, ditandai dengan peletakan batu pertama monumen
gempa di Padang Panjang, dan ditutup dengan Zikir Bersama Kota Padang Panjang.
Tetapi, tugas-tugas lembaga inisiator dan lembaga-lembaga pendukung belumlah
usai. Ini baru langkah awal dari sebuah tanggungjawab besar yang mesti dipikul
bersama.
Masing-masing lembaga,
diharapkan terus bergiat. Tidak ada kata menyerah untuk setiap program dan
langkah mengurangi risiko bencana di daerah ini. Padang Panjang, Tanah Datar,
Agam, Bukittinggi, dan seluruh daerah di Ranah Minang yang rentan dengan
potensi bencana adalah negeri kita, tanggungjawab bersama.
Kegiatan-kegiatan edukasi
warga, membangun program sekolah dan madrasah siaga bencana, masjid siaga, RT
Siaga, adalah langkah penting yang perlu disikapi dengan bijak oleh semua
pihak. Semua program itu, siapapun penyelenggaranya, mesti didukung oleh pemerintah
daerah. Ini bukan program berorientasi profit, bukan iven yang mengalirkan
rupiah, namun upaya menyelamatkan generasi dari setiap potensi bencana yang
ada. Ini adalah gerakan investasi kemanusiaan.
Rangkaian Satu Abad Gempa
Sianok-Sumani 1926, telah memberikan kita pandangan baru, setiap proses
membangun sumber daya yang lebih baik, akan tetap diikuti oleh segala kerumitan
dan lambatnya respons, termasuk munculnya pihak-pihak yang mengambil kesempatan
untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Semua itu adalah pelajaran; untuk
sebuah kebaikan, tidak selamanya berjalan mulus dan indah.
Gugus Sekolah Siaga Bencana
Setahun sudah program ini
berjalan. Setelah 41 sekolah negeri dan swasta di Padang Panjang mengirimkan
utusannya untuk mengikuti Diksar Sekolah Siaga Bencana. Dan kepengurusan pun
terbentuk, setiap sekolah telah memiliki person in charge (PIC) yang
bertanggungjawab pada aliran informasi dan komunikasi kebencanaan.
Kehadiran SSB di Padang
Panjang, diharapkan dapat membantu terbinanya upaya membangun budaya sadar
bencana di lingkungan sekolah. Ke depan, program-program ini mesti terus
dikuatkan melalui peraturan yang menaungi di Kota Serambi Mekah.
Gugus Madrasah Siaga Bencana
Seperti sekolah siaga
bencana, setiap madrasah di Kota Padang Panjang pun telah memiliki PIC
kebencanaan setelah gelaran diksar tahun lalu. Pengurus GMSB diharapkan
benar-benar tumbuh menjadi ujung tombak penguatan pengurangan risiko bencana di
tingkat madrasah yang ada di Kota Padang Panjang.
Penelusuran Bangunan Tahan Gempa
Pasca gempa yang
meluluhlantakkan Padang Panjang dan sejumlah wilayah di Sumatra Barat,
bangunan-bangunan tahan gempa tetap tegak berdiri kokoh. Ada yang mengalami
kerusakan akibat gempa 100 tahun lalu itu, dan direkonstruksi setelahnya.
Bangunan-bangunan itu
menjadi bukti sejarah bagi harmonisasi kehidupan manusia dengan alam. Dan
sebagai bagian dari sejarah, menjadikannya cagar budaya adalah salah satu cara
agar saksi sejarah itu tidak hilang ditelan zaman, dan dapat dijadikan
ruang-ruang edukasi bagi warga tentang mengerikannya kejadian di masa lalu.
Forum Masjid Siaga Bencana
Masjid dan mushalla,
tempat ibadah yang selalu diramaikan oleh jemaah yang ingin membangun
kebersamaan dalam saf-saf yang menguatkan Islam di Padang Panjang. Kekuatan
umat ini, merupakan bukti bahwa kota ini memang layak dengan julukan Serambi
Mekah.
Semua tahu dan selalu
mendengar, satu orang saja warga yang meninggal dunia di lingkungan masjid,
maka informasinya akan disampaikan melalui corong informasi. Masyarakat
diberitahu, dikabarkan bahwa ada warga yang sedang berduka. Hal ini tentunya
selaras bila dikaitkan dengan upaya membangun informasi kebencanaan yang
berasal dari tempat-tempat ibadah. Masjid dan mushalla, akan jadi pusat
informasi warga ketika terjadi bencana. Dari masjid, akan lahir kekuatan umat
untuk bersatu-padu dalam kebersamaan dan ketangguhan.
RT Siaga Bencana
Sayangnya, tidak semua
program yang dirancang dapat terlaksana. Tak ada gading yang tak retak. Program
awal yang dikemas, menuju salah satu program yakni RT Siaga Bencana. Sebuah
kekuatan yang luarbiasa berbasis masyarakat saat bencana terjadi, akan lahir
dari informasi dan data akurat di masing-masing Rukun Tetangga (RT).
Selain itu, RT Siaga
Bencana, adalah ruang tersendiri yang dapat dijadikan alat untuk koordinasi dan
validitas kondisi ketika bencana menimpa daerah ini. Semoag ke depan,
lembaga-lembaga inisiator dapat mengemas program ini, untuk seterusnya
diserahkan pada leading sector
terkait.
Wartawan Peduli Bencana
Informasi-informasi
kebencanaan dan edukasi warga, tidak terlepas dari kehadiran media-media
jurnalistik yang dikemas sesuai kode etik jurnalistik yang berlaku. Kehadiran
wartawan peduli bencana, dirasakan sangat penting sebagai bagian dari pemusatan
informasi kebencanaan sebagai bentuk kerjasama pemerintah dalam penanganan
bencana.
Program ini, akhirnya
bermuara pada satu kesepakatan, lahirnya Disaster Journalist Foundation yang
digawangi oleh wartawan-wartawan media nasional. Lembaga ini pun dapat
diprogramkan melekat pada konsep-konsep penanganan bencana ketika terjadi.
Akhirnya, kerja bersama
antara lembaga inisiator dengan sejumlah organisasi kolaborator di Sumatra
Barat untuk Kota Padang Panjang ini, semoga menjadi masukan bermakna bagi
pemerintah daerah. Ke depan, kerjasama-kerjasama positif tentunya mesti
diteruskan. Salam Tangguh, Siap untuk Selamat! (*)
Penulis: Nova
Indra (Journalist, Direktur Alpha Rescue – bagian dari lembaga inisiator Satu
Abad Gempa Padang Panjang)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar