Satu Abad Gempa Sianok-Sumani, Tanggungjawab Belum Selesai - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Selasa, 30 Juni 2026

Satu Abad Gempa Sianok-Sumani, Tanggungjawab Belum Selesai

 


SIAGA-FMGelaran ragam kegiatan sebagai rangkaian refleksi Satu Abad Gempa Sianok-Sumani (Gempa Padang Panjang) 1926, telah terselesaikan dengan kebersamaan dari berbagai lembaga inisiator dan kolaborator.

 

Sejak setahun silam, persiapan dan iven yang digelar pun telah menjadi bagian dari bukti kepedulian berbagai pihak terhadap pentingnya membangun budaya sadar bencana. Banyak lembaga yang ikut urung-rembug bersama para tokoh yang memiliki kepedulian terhadap mitigasi bencana.

 

Diksar Sekolah Siaga Bencana, Diksar Madrasah Siaga Bencana, Diskusi-diskusi Jurnalis tentang membangun Wartawan Peduli Bencana, penelusuran bangunan tahan gempa pasca gempa 1926, hingga kegiatan Tour de Patahan Sumatra, Bakti Sosial, dan Lomba Menulis Artikel Kebencanaan, telah mengisi ruang daerah ini. Semua dinisbahkan pada satu hal; membangun kearifan semua elemen tentang pentingnya kesadaran bahwa mitigasi bukan hanya domain pemerintah namun keniscayaan bagi semua pihak.

 

Kini, semua rangkaian kegiatan itu telah selesai, ditandai dengan peletakan batu pertama monumen gempa di Padang Panjang, dan ditutup dengan Zikir Bersama Kota Padang Panjang. Tetapi, tugas-tugas lembaga inisiator dan lembaga-lembaga pendukung belumlah usai. Ini baru langkah awal dari sebuah tanggungjawab besar yang mesti dipikul bersama.

 

Masing-masing lembaga, diharapkan terus bergiat. Tidak ada kata menyerah untuk setiap program dan langkah mengurangi risiko bencana di daerah ini. Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Bukittinggi, dan seluruh daerah di Ranah Minang yang rentan dengan potensi bencana adalah negeri kita, tanggungjawab bersama.

 

Kegiatan-kegiatan edukasi warga, membangun program sekolah dan madrasah siaga bencana, masjid siaga, RT Siaga, adalah langkah penting yang perlu disikapi dengan bijak oleh semua pihak. Semua program itu, siapapun penyelenggaranya, mesti didukung oleh pemerintah daerah. Ini bukan program berorientasi profit, bukan iven yang mengalirkan rupiah, namun upaya menyelamatkan generasi dari setiap potensi bencana yang ada. Ini adalah gerakan investasi kemanusiaan.

 

Rangkaian Satu Abad Gempa Sianok-Sumani 1926, telah memberikan kita pandangan baru, setiap proses membangun sumber daya yang lebih baik, akan tetap diikuti oleh segala kerumitan dan lambatnya respons, termasuk munculnya pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Semua itu adalah pelajaran; untuk sebuah kebaikan, tidak selamanya berjalan mulus dan indah.

 

Gugus Sekolah Siaga Bencana

Setahun sudah program ini berjalan. Setelah 41 sekolah negeri dan swasta di Padang Panjang mengirimkan utusannya untuk mengikuti Diksar Sekolah Siaga Bencana. Dan kepengurusan pun terbentuk, setiap sekolah telah memiliki person in charge (PIC) yang bertanggungjawab pada aliran informasi dan komunikasi kebencanaan.

 

Kehadiran SSB di Padang Panjang, diharapkan dapat membantu terbinanya upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah. Ke depan, program-program ini mesti terus dikuatkan melalui peraturan yang menaungi di Kota Serambi Mekah.

 

Gugus Madrasah Siaga Bencana

Seperti sekolah siaga bencana, setiap madrasah di Kota Padang Panjang pun telah memiliki PIC kebencanaan setelah gelaran diksar tahun lalu. Pengurus GMSB diharapkan benar-benar tumbuh menjadi ujung tombak penguatan pengurangan risiko bencana di tingkat madrasah yang ada di Kota Padang Panjang.

 

Penelusuran Bangunan Tahan Gempa

Pasca gempa yang meluluhlantakkan Padang Panjang dan sejumlah wilayah di Sumatra Barat, bangunan-bangunan tahan gempa tetap tegak berdiri kokoh. Ada yang mengalami kerusakan akibat gempa 100 tahun lalu itu, dan direkonstruksi setelahnya.

 

Bangunan-bangunan itu menjadi bukti sejarah bagi harmonisasi kehidupan manusia dengan alam. Dan sebagai bagian dari sejarah, menjadikannya cagar budaya adalah salah satu cara agar saksi sejarah itu tidak hilang ditelan zaman, dan dapat dijadikan ruang-ruang edukasi bagi warga tentang mengerikannya kejadian di masa lalu.

 

Forum Masjid Siaga Bencana

Masjid dan mushalla, tempat ibadah yang selalu diramaikan oleh jemaah yang ingin membangun kebersamaan dalam saf-saf yang menguatkan Islam di Padang Panjang. Kekuatan umat ini, merupakan bukti bahwa kota ini memang layak dengan julukan Serambi Mekah.

 

Semua tahu dan selalu mendengar, satu orang saja warga yang meninggal dunia di lingkungan masjid, maka informasinya akan disampaikan melalui corong informasi. Masyarakat diberitahu, dikabarkan bahwa ada warga yang sedang berduka. Hal ini tentunya selaras bila dikaitkan dengan upaya membangun informasi kebencanaan yang berasal dari tempat-tempat ibadah. Masjid dan mushalla, akan jadi pusat informasi warga ketika terjadi bencana. Dari masjid, akan lahir kekuatan umat untuk bersatu-padu dalam kebersamaan dan ketangguhan.

 

RT Siaga Bencana

Sayangnya, tidak semua program yang dirancang dapat terlaksana. Tak ada gading yang tak retak. Program awal yang dikemas, menuju salah satu program yakni RT Siaga Bencana. Sebuah kekuatan yang luarbiasa berbasis masyarakat saat bencana terjadi, akan lahir dari informasi dan data akurat di masing-masing Rukun Tetangga (RT).

 

Selain itu, RT Siaga Bencana, adalah ruang tersendiri yang dapat dijadikan alat untuk koordinasi dan validitas kondisi ketika bencana menimpa daerah ini. Semoag ke depan, lembaga-lembaga inisiator dapat mengemas program ini, untuk seterusnya diserahkan pada leading sector terkait.

 

Wartawan Peduli Bencana

Informasi-informasi kebencanaan dan edukasi warga, tidak terlepas dari kehadiran media-media jurnalistik yang dikemas sesuai kode etik jurnalistik yang berlaku. Kehadiran wartawan peduli bencana, dirasakan sangat penting sebagai bagian dari pemusatan informasi kebencanaan sebagai bentuk kerjasama pemerintah dalam penanganan bencana.

 

Program ini, akhirnya bermuara pada satu kesepakatan, lahirnya Disaster Journalist Foundation yang digawangi oleh wartawan-wartawan media nasional. Lembaga ini pun dapat diprogramkan melekat pada konsep-konsep penanganan bencana ketika terjadi.

 

Akhirnya, kerja bersama antara lembaga inisiator dengan sejumlah organisasi kolaborator di Sumatra Barat untuk Kota Padang Panjang ini, semoga menjadi masukan bermakna bagi pemerintah daerah. Ke depan, kerjasama-kerjasama positif tentunya mesti diteruskan. Salam Tangguh, Siap untuk Selamat! (*)

Penulis: Nova Indra (Journalist, Direktur Alpha Rescue – bagian dari lembaga inisiator Satu Abad Gempa Padang Panjang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner