SIAGA-FM – BMKG matangkan
transformasi layanan peringatan dini cuaca melalui pendekatan Impact-Based
Forecasting (IBF). Langkah ini untuk mendukung implementasi Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD).
“Kita harus bergeser dari sekadar mengabarkan ‘apa
cuacanya nanti’ menjadi ‘apa yang akan diakibatkan oleh cuaca tersebut’ beserta
rekomendasi tindakannya. Melalui IBF, BMKG merancang layanan informasi yang
jauh lebih spesifik hingga tingkat kelurahan/desa,” ujar Plt. Deputi Bidang
Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.
Layanan ini mencakup IBF harian, prakiraan dampak hingga
10 hari ke depan yang diperbarui setiap 12 jam. Selain itu, Nowcasting,
memberikan prakiraan cuaca jangka pendek (1—6 jam ke depan) dan diperbarui
setiap 10 menit dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang
terintegrasi data Radar Cuaca dan Numerical Weather Prediction (NWP).
Sistem informasi cerdas ini nantinya akan menyokong
berbagai sektor strategis nasional, mulai dari mitigasi bencana, ketahanan
pangan, transportasi, energi, sumber daya air, lingkungan hidup, pariwisata,
hingga infrastruktur.
Mengingat dampak cuaca dan bencana bersifat lintas
sektor, BMKG bersama kementerian/lembaga terkait tengah menyusun Prosedur
Operasional Standar (SOP) bersama, membentuk tim lintas instansi, serta
membangun dashboard pemantauan terpadu
berbasis data waktu nyata (real-time).
Selain itu, demi memastikan informasi sampai ke tangan
masyarakat di zona berpotensi terdampak, BMKG menggandeng Kementerian
Komunikasi dan Digital beserta operator telekomunikasi untuk menyebarkan
peringatan dini melalui layanan pesan singkat massal (SMS Blast).
Implementasi operasional IBF ini akan menerapkan prinsip
“mulai kecil, uji, evaluasi, lalu perluas”. Sebagai langkah awal, kawasan
Jabodetabek-Punjur dipilih sebagai wilayah percontohan sebelum sistem ini
diadopsi secara masif di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai bagian dari pemanfaatan IBF untuk Pendekatan AMPD
di Indonesia, BMKG menggelar Lokakarya Konsultasi Pemangku Kepentingan Tingkat
Nasional tentang Pengembangan Kerangka IBF Subnasional untuk AMDP pada 22-24
Juni 2026 di Bandung.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) serta Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan dukungan dari World Food
Programme (WFP) dan UK Met Office melalui Program Weather And Climate
Information Service (WISER).
Lokakarya pertama di Bandung berfokus pada penyamaan
pemahaman mengenai sistem IBF dan AMPD. Kemudian, kegiatan di wilayah
percontohan D.I. Yogyakarta dan NTT berfokus mengidentifikasi kondisi
implementasi AMPD, kebutuhan pengguna, serta berbagai tantangan di tingkat
daerah.
Hasil dan pembelajaran dari kedua wilayah percontohan
tersebut dibawa kembali ke forum konsultasi nasional di Bandung untuk
merumuskan kerangka implementasi yang lebih terintegrasi, taktis, dan
aplikatif.(sp)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar