SIAGA-FM – Dalam rangka Bulan Mitigasi Bencana Tahun 2026, Seminar Mitigasi Bencana bagi Rukun Tetangga (RT) se-Kota Padang Panjang segera digelar.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program
yang telah disiapkan oleh sejumlah inisiator Satu Abad Gempa Padang
Panjang. Direncanakan, seminar itu akan
dilangsungkan pada pekan ketiga Juni 2026.
Seminar ini menjadi salah satu upaya strategis untuk
memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang
berpotensi terjadi di Kota Padang Panjang, mulai dari gempa bumi akibat
aktivitas Patahan Besar Sumatra (Semangko), dan ragam potensi bencana yang ada
di kota berjuluk Serambi Mekah itu.
Direktur lembaga Alpha Rescue Nova Indra menyebut, RT
merupakan unit sosial paling dekat dengan masyarakat, sehingga memiliki peran
penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana.
“Melalui seminar ini, para pengurus RT akan mendapatkan
penguatan pengetahuan mengenai potensi ancaman bencana lokal, langkah-langkah
mitigasi, sistem peringatan dini, hingga mekanisme evakuasi berbasis komunitas,”
sebut penulis buku Langkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang itu
kepada awak SiagaFM, Selasa (9/6/2026) sore.
Sementara itu secara terpisah, pakar geologi Sumatra
Barat sekaligus Direktur Patahan Sumatra Institute, Ir. Ade Edward, menyambut baik
pelaksanaan seminar tersebut.
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat harus dimulai
dari lingkungan terkecil yang menjadi tempat warga berinteraksi sehari-hari.
“RT merupakan basis utama kehidupan sosial masyarakat.
Ketika informasi kebencanaan dipahami dengan baik oleh pengurus dan warga di
tingkat RT, maka kesiapsiagaan akan tumbuh menjadi budaya,” ujar Ade Edward.
Dilanjutkan mantan Kapusdalops PB Sumbar itu, “Kita tidak
bisa hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga kebencanaan, tetapi harus
membangun masyarakat yang memahami risiko di lingkungannya masing-masing.”
Ia menjelaskan, Kota Padang Panjang memiliki
karakteristik wilayah yang unik karena berada di kawasan yang dipengaruhi
beberapa potensi ancaman geologi dan hidrometeorologi.
“Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan menjadi
kebutuhan mendesak agar masyarakat mampu mengenali risiko dan mengambil
tindakan yang tepat sebelum, saat, dan setelah bencana,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ade Edward menilai, pendekatan berbasis RT
merupakan langkah yang tepat karena mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat
paling bawah.
Menurutnya, informasi kebencanaan yang disampaikan secara
langsung kepada pengurus RT akan lebih mudah diteruskan kepada warga melalui
berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Seminar ini, juga menjadi bagian dari upaya membangun
gerakan kolektif kesiapsiagaan bencana menjelang peringatan 100 tahun Gempa Padang Panjang 1926,
yang menjadi salah satu peristiwa bersejarah dalam catatan kebencanaan di
Sumatera Barat.
Melalui momentum Bulan Mitigasi Bencana, seluruh elemen masyarakat diharapkan semakin memahami
kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi tanggung
jawab bersama.(*)









.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar