AMPD, Trigger Rantai Peringatan Diri Sebelum Dampak Bencana - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Jumat, 14 Agustus 2026

AMPD, Trigger Rantai Peringatan Diri Sebelum Dampak Bencana

SIAGA-FM – Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), jadi salah satu kunci mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bertindak sebelum dampak bencana terjadi.

 

Foto : Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Dr. Abdul Muhari, pada gelaran EDRR 2026 di JIEXPO, Jakarta, Kamis (13/8). (Kedeputian Bidang Pencegahan)


Pesan tersebut mengemuka dalam Ignite Stage Rumah Resiliensi Indonesia pada rangkaian Emergency Disaster Reduction and Rescue (EDRR) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di JIEXPO, Jakarta, Kamis (13/8) kemarin.

 

Usung tema “Implementasi dan Praktik Baik Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD)”, forum itu menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan praktik baik dalam memperkuat implementasi AMPD di Indonesia.

 

Kegiatan mempertemukan kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, organisasi kemanusiaan, komunitas lokal, dan pemerintah daerah.

 

Forum tersebut membahas Impact-Based Forecast (IBF) yang dapat diterjemahkan menjadi peringatan yang relevan, keputusan yang tepat, dan tindakan nyata untuk mengurangi risiko serta dampak bencana.

 

Kegiatan diawali dengan paparan kunci Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, S.T., M.T., Ph.D., dengan topik Prakiraan Berbasis Dampak (Impact-Based Forecast) sebagai Landasan Aksi Merespons Peringatan Dini.

 

Pendekatan IBF, menempatkan informasi prakiraan bukan hanya untuk menjawab apa kondisi cuaca yang akan terjadi, tetapi juga memahami dampak yang mungkin ditimbulkan, siapa yang berisiko, wilayah yang perlu bersiap, serta tindakan yang perlu dilakukan.

 

BMKG menekankan pentingnya menghasilkan informasi yang lebih kontekstual dan dapat ditindaklanjuti. Pendekatan ini mengintegrasikan informasi cuaca dengan data keterpaparan, kerentanan, kapasitas wilayah, kondisi lokal, serta informasi sektoral sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.

 

Sementara itu Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Dr. Abdul Muhari, dalam paparannya menekankan rantai peringatan dini harus dibangun secara utuh, mulai dari prakiraan, analisis potensi dampak, peringatan, pengambilan keputusan, hingga tindakan.

 

“Peringatan dini tidak boleh berhenti sebagai informasi. Peringatan harus menjadi trigger untuk bertindak sebelum dampak terjadi.”

 

Pesan tersebut menjadi penting karena efektivitas sistem peringatan dini pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan sistem untuk mengubah informasi, menjadi tindakan yang dapat mengurangi risiko dan menyelamatkan masyarakat.

 

“Kalau bicara efektif peringatan dini dan AMPD, peak evakuasi harus berada di depan peak korban", kata Muhari.

 

Artinya, puncak evakuasi idealnya terjadi sebelum puncak korban dan dampak, bukan setelahnya. Semakin awal masyarakat yang berada di wilayah berisiko dapat dipindahkan ke tempat aman, semakin besar peluang untuk mencegah jatuhnya korban.

 

Dalam konteks tersebut, tujuan AMPD bukan sekadar menghasilkan lebih banyak pengungsi, tetapi memastikan evakuasi dilakukan sebelum masyarakat menjadi korban. Evakuasi merupakan tindakan antisipatif, sedangkan pengungsian yang terjadi setelah bencana berdampak merupakan konsekuensi dari kejadian.

 

Karena itu, keberhasilan peringatan dini tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat peringatan dikeluarkan, tetapi dari seberapa cepat peringatan tersebut menghasilkan tindakan sebelum dampak terjadi. (BNPB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner