SIAGA-FM – Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD), jadi salah satu kunci mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bertindak sebelum dampak bencana terjadi.
Foto : Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Dr. Abdul Muhari, pada
gelaran EDRR 2026 di JIEXPO, Jakarta, Kamis (13/8). (Kedeputian Bidang
Pencegahan)
Pesan tersebut
mengemuka dalam Ignite Stage Rumah
Resiliensi Indonesia pada rangkaian Emergency
Disaster Reduction and Rescue (EDRR) 2026 yang diselenggarakan Kementerian
Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di JIEXPO, Jakarta, Kamis
(13/8) kemarin.
Usung tema
“Implementasi dan Praktik Baik Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD)”, forum
itu menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan praktik baik
dalam memperkuat implementasi AMPD di Indonesia.
Kegiatan
mempertemukan kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, organisasi
kemanusiaan, komunitas lokal, dan pemerintah daerah.
Forum tersebut
membahas Impact-Based Forecast (IBF) yang
dapat diterjemahkan menjadi peringatan yang relevan, keputusan yang tepat, dan
tindakan nyata untuk mengurangi risiko serta dampak bencana.
Kegiatan diawali
dengan paparan kunci Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, S.T., M.T.,
Ph.D., dengan topik Prakiraan Berbasis Dampak (Impact-Based Forecast) sebagai Landasan Aksi Merespons Peringatan
Dini.
Pendekatan IBF,
menempatkan informasi prakiraan bukan hanya untuk menjawab apa kondisi cuaca
yang akan terjadi, tetapi juga memahami dampak yang mungkin ditimbulkan, siapa
yang berisiko, wilayah yang perlu bersiap, serta tindakan yang perlu dilakukan.
BMKG menekankan
pentingnya menghasilkan informasi yang lebih kontekstual dan dapat
ditindaklanjuti. Pendekatan ini mengintegrasikan informasi cuaca dengan data
keterpaparan, kerentanan, kapasitas wilayah, kondisi lokal, serta informasi
sektoral sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan
tepat.
Sementara itu Deputi
Bidang Pencegahan BNPB, Dr. Abdul Muhari, dalam paparannya menekankan rantai
peringatan dini harus dibangun secara utuh, mulai dari prakiraan, analisis
potensi dampak, peringatan, pengambilan keputusan, hingga tindakan.
“Peringatan dini
tidak boleh berhenti sebagai informasi. Peringatan harus menjadi trigger untuk bertindak sebelum dampak
terjadi.”
Pesan tersebut
menjadi penting karena efektivitas sistem peringatan dini pada akhirnya
ditentukan oleh kemampuan sistem untuk mengubah informasi, menjadi tindakan
yang dapat mengurangi risiko dan menyelamatkan masyarakat.
“Kalau bicara
efektif peringatan dini dan AMPD, peak evakuasi harus berada di depan peak
korban", kata Muhari.
Artinya, puncak
evakuasi idealnya terjadi sebelum puncak korban dan dampak, bukan setelahnya.
Semakin awal masyarakat yang berada di wilayah berisiko dapat dipindahkan ke
tempat aman, semakin besar peluang untuk mencegah jatuhnya korban.
Dalam konteks
tersebut, tujuan AMPD bukan sekadar menghasilkan lebih banyak pengungsi, tetapi
memastikan evakuasi dilakukan sebelum masyarakat menjadi korban. Evakuasi
merupakan tindakan antisipatif, sedangkan pengungsian yang terjadi setelah
bencana berdampak merupakan konsekuensi dari kejadian.
Karena itu,
keberhasilan peringatan dini tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat
peringatan dikeluarkan, tetapi dari seberapa cepat peringatan tersebut
menghasilkan tindakan sebelum dampak terjadi. (BNPB)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar