Gempa Kolombia, Deformasi Lempeng Nazca Sistem Subduksi Aktif - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Selasa, 11 Agustus 2026

Gempa Kolombia, Deformasi Lempeng Nazca Sistem Subduksi Aktif


SIAGA
-FM
– Senin (10/8/2026) malam waktu Indonesia, atau pagi waktu setempat, gempa kuat magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia.

 

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa itu terjadi pada pukul 19.34.27 WIB pada kedalaman 95 kilometer.


Pakar mengungkap, gempa dipicu deformasi di dalam Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan.Referensi Geografis.


Episenter gempa berada pada koordinat 4,93 derajat Lintang Utara dan 76,06 derajat Bujur Barat, tepatnya di darat sekitar 3 kilometer barat laut El Aguila, Kolombia.


"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat deformasi dalam lempeng samudra yang menunjam (intra-slab)," kata Wijayanto dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).


Analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan, gempa memiliki mekanisme pergerakan geser naik atau oblique thrust fault.


Sementara itu anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, gempa tersebut merupakan manifestasi deformasi internal Lempeng Nazca pada sistem subduksi aktif Kolombia.


Lempeng samudra Nazca menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan di sepanjang sistem subduksi Palung Peru-Chili.


Menurut Daryono, gempa intraslab terjadi akibat deformasi internal, regangan mekanis, maupun patahan pada bagian lempeng yang telah menunjam.


Pelepasan tegangan dari proses tersebut kemudian menghasilkan gelombang seismik yang dapat menjangkau wilayah sangat luas.


Daryono menjelaskan, gempa intraslab pada kedalaman menengah memiliki karakteristik rambatan gelombang yang khas. Menurutnya, energi gempa merambat melalui lempeng yang kaku, padat, dan relatif dingin.


Kondisi tersebut membuat pelemahan atau atenuasi gelombang relatif rendah sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat merambat dengan efisien.


Akibatnya, guncangan dapat terasa kuat dan menjangkau wilayah yang jauh dari pusat gempa.


"Kondisi material ini menyebabkan tingkat atenuasi gelombang sangat rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat ditransmisikan secara sangat efisien. Alhasil, guncangan tanah yang dihasilkan cenderung lebih kuat dan destruktif jika dibandingkan dengan gempa interplate bernilai magnitudo setara di sumber lain," terang Daryono.


Selain itu, posisi sumber gempa pada kedalaman menengah membuat gelombang seismik dapat memancar ke permukaan dengan cakupan yang luas. Wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari episenter pun masih dapat merasakan getaran.(*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner