SIAGA-FM – Akibat erupsi hebat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, dilaporkan sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Banten, Lampung dan Jawa Barat terpapar abu vulkanik.
Dampaknya, penerbangan di Bandara Soekarno Hatta ikut
menutup pelayanan. BMKG meminta otoritas penerbangan internasional serta
masyarakat di daratan meningkatkan kewaspadaan dini.
Analisis pergerakan
debu erupsi ini didasarkan pada integrasi data PVMBG, laporan resmi Volcanic
Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta diperkuat oleh hasil
tangkapan sensor citra satelit RGB Himawari-9.
BMKG menguraikan
bahwa kluster pertama yang mengarah ke wilayah Jakarta-Jabar terdeteksi merayap
mulai dari lapisan permukaan bumi hingga menyentuh ketinggian jelajah 20.000
kaki (feet).
Sementara itu,
kluster kedua terpantau memiliki daya lontar yang jauh lebih ekstrem, yakni
membubung tinggi dari permukaan hingga menembus ketinggian 50.000 kaki.
Pergerakan massa
abu pada kluster kedua ini mengarah ke barat daya hingga barat laut. Jangkauan
sebarannya dilaporkan mengunci ruang udara sebagian Banten, Lampung, Bengkulu,
Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.
Dampak Abu Vulkanik
Mengingat salah
satu jalurnya menerobos wilayah padat penduduk di Jakarta, pakar vulkanologi
mengingatkan publik agar tidak menyamakan abu gunung api dengan debu lingkungan
biasa.
Partikel abu vulkanik berdiameter kurang dari
2 milimeter (mm). Partikel ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan gelas
vulkanik yang terasa mirip butiran pasir hingga bubuk halus.
Beberapa gas berbahaya juga bisa terbawa dalam
abu vulkanik, seperti karbon dioksida (CO2) dan sulfur
dioksida (SO2) yang bahkan dapat menyebabkan hujan asam.
Abu vulkanik sangat berbahaya
bagi anak-anak, orang dewasa yang lebih tua, dan orang dengan penyakit
paru-paru, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Bahaya abu vulkanik pada
kesehatan mata disebabkan karena bentuk partikelnya yang tajam dan runcing.
Sifat abrasif dari abu juga bisa menyebabkan konjungtivitis.
Paparan abu vulkanik juga
bisa menyebabkan abrasi kornea, yakni kondisi tergoresnya kornea. Jika tidak ditangani dengan baik,
gangguan ini bisa menyebabkan kerusakan kornea permanen.
Selain karena sifat abrasifnya, abu vulkanik juga
dapat menyebabkan iritasi kulit karena bersifat asam.
Sifat asam abu vulkanik berasal dari kandungan silika
dalam magma dan campuran gas lain yang dikeluarkan saat gunung meletus, seperti
karbon dioksida (CO2) dan sulfur dioksida (SO2).
Selain itu, paparan
abu vulkanik juga berdampak pada paru-paru (silikosis). Silikosis adalah bahaya
jangka panjang akibat abu vulkanik. Masalah paru-paru ini disebabkan oleh
paparan debu silika pada saluran pernapasan dalam waktu yang lama.
Silika merupakan zat
kimia yang terdapat dalam abu vulkanik. Zat ini utamanya tersedia dalam bentuk
kristal silika bebas dan silikon dioksida (SiO2).
Paparan silika jangka
panjang bisa menimbulkan luka dan jaringan parut dalam paru-paru. Jika tidak
segera ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan
kematian. (*)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar