SIAGA-FM – BNPB menegaskan pentingnya penguatan ketangguhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang adaptif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.
Foto: Focus Group Discussion
(FGD) Ketangguhan UMKM dalam Menghadapi Risiko Bencana dan Krisis Iklim di
Provinsi Bali. (Direktorat Kesiapsiagaan BNPB)
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD)
Ketangguhan UMKM dalam Menghadapi Risiko Bencana dan Krisis Iklim di Provinsi
Bali, yang diselenggarakan di Kota Denpasar, Provinsi Bali baru-baru ini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kajian kebijakan BNPB
untuk menghimpun pengalaman, kebutuhan, serta rekomendasi dari pelaku usaha dan
pemangku kepentingan terkait penguatan ketahanan ekonomi masyarakat berbasis
pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim. FGD dilakukan dengan
melibatkan pelaku UMKM, Dinas Koperasi dan UKM, BPBD Provinsi Bali, akademisi,
komunitas usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan penyusunan
rekomendasi kebijakan penguatan ketangguhan ekonomi masyarakat berbasis
pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim.
Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Deputi Bidang
Pencegahan BNPB, Drs. Pangarso Suryotomo M.M.B menyampaikan, UMKM merupakan pilar
utama perekonomian Bali yang menopang sektor pariwisata, perdagangan, kuliner,
transportasi, dan ekonomi kreatif.
FGD mengungkap, para pelaku UMKM di Bali menghadapi
berbagai ancaman bencana yang dapat mengganggu keberlangsungan usaha, mulai
dari gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran, cuaca ekstrem, hingga dampak
perubahan iklim yang mempengaruhi ketersediaan produk dan harga bahan baku.
Diskusi juga menunjukkan, sebagian besar pelaku UMKM
memperoleh informasi kebencanaan melalui media sosial. Meskipun informasi
relatif mudah diakses, tantangan masih muncul dalam bentuk validasi informasi
dan potensi misinformasi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan saat
terjadi keadaan darurat.
Namun demikian, sejumlah praktik adaptasi telah dilakukan
beberapa pelaku UMKM antara lain diversifikasi produk, pemasaran melalui
platform digital, penguatan jaringan pemasaran, pemanfaatan layanan pengantaran
daring, serta pengembangan kemitraan dengan pemasok dan perbankan.
Beberapa pelaku usaha juga mulai menerapkan strategi
pengamanan rantai pasok dengan mencari sumber bahan baku dari wilayah yang
lebih aman terhadap risiko bencana.
BNPB menilai, pengurangan risiko bencana perlu
diintegrasikan ke dalam program pengembangan UMKM secara lebih sistematis.
Penguatan kapasitas pelaku usaha, penyusunan panduan Business Continuity Plan
yang sederhana, integrasi data UMKM dengan informasi risiko bencana, serta
pengembangan instrumen pembiayaan dan pemulihan usaha menjadi langkah strategis
yang perlu diperkuat ke depan.(BNPB)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar