SIAGA-FM – Potensi gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, hingga cuaca ekstrem menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia.
Ironisnya, di tengah ancaman yang begitu nyata, literasi
kebencanaan masih sering dipandang sebagai isu pelengkap, bukan kebutuhan
utama. Padahal berbagai penelitian menunjukkan, tingkat pemahaman masyarakat
terhadap risiko bencana sangat menentukan jumlah korban dan besarnya kerugian
ketika bencana terjadi.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa literasi
kebencanaan masih dianggap sebelah mata oleh banyak pihak dan masyarakat?
Budaya Reaktif yang Masih Dominan
Salah satu penyebab utama masih rendahnya
literasi kebencanaan adalah budaya penanggulangan bencana yang masih
berorientasi pada tanggap darurat. Perhatian publik biasanya muncul ketika
bencana sudah terjadi. Bantuan logistik, evakuasi korban, dan pembangunan
kembali menjadi fokus utama, sementara edukasi dan mitigasi sering terabaikan.
Menurut kajian UNDRR, ketangguhan
masyarakat tidak dibangun saat bencana terjadi, melainkan jauh sebelumnya
melalui proses pembelajaran, partisipasi masyarakat, dan peningkatan kapasitas
menghadapi risiko. Namun, banyak komunitas belum terdorong untuk mengambil
tanggung jawab kolektif dalam pengurangan risiko bencana.
Akibatnya, literasi kebencanaan dianggap
tidak mendesak karena manfaatnya tidak langsung terlihat sebagaimana
pembangunan fisik atau bantuan pascabencana.
Persepsi
"Bencana adalah Takdir"
Faktor budaya dan cara pandang masyarakat
juga memengaruhi rendahnya perhatian terhadap literasi kebencanaan. Sebagian
masyarakat masih menganggap bencana semata-mata sebagai takdir yang tidak dapat
dihindari.
Pandangan ini sebenarnya tidak sepenuhnya
salah, tetapi menjadi masalah ketika menimbulkan sikap pasrah tanpa upaya
mitigasi. Dalam kajian ilmu kebencanaan modern, bencana bukan hanya peristiwa
alam, melainkan pertemuan antara ancaman (hazard),
kerentanan (vulnerability), dan
rendahnya kapasitas masyarakat.
Dengan kata lain, gempa bumi mungkin tidak
dapat dicegah, tetapi jumlah korban dapat ditekan melalui pendidikan,
kesiapsiagaan, dan mitigasi yang baik.
Rendahnya Integrasi dalam Sistem Pendidikan
Penelitian Erna Labudasari dan Eliya
Rochmah dalam jurnal UPI menunjukkan, pemahaman kebencanaan di Indonesia belum
sebanding dengan tingkat ancaman yang dihadapi. Literasi bencana di sekolah
masih belum menjadi budaya yang terintegrasi secara kuat dalam proses
pembelajaran.
Di banyak sekolah, materi kebencanaan
hanya muncul sesekali dalam kegiatan ekstrakurikuler atau peringatan tertentu.
Padahal Jepang, Selandia Baru, dan beberapa negara maju telah menjadikan
pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari kurikulum berkelanjutan sejak usia
dini.
Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa pengetahuan
memadai mengenai evakuasi, pemetaan risiko, maupun tindakan penyelamatan diri.
Informasi Kebencanaan Kurang Menarik dan Sulit Dipahami
Penelitian dari Institut Teknologi Bandung menemukan, efektivitas
media sosialisasi kebencanaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan literasi visual
masyarakat. Banyak media kebencanaan dibuat terlalu teknis, penuh istilah
ilmiah, dan kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Masyarakat cenderung lebih tertarik pada informasi yang sederhana,
visual, dan relevan dengan pengalaman mereka. Ketika edukasi kebencanaan
disampaikan dalam bentuk yang membosankan, pesan
penting sering kali tidak terserap dengan baik.
Tidak Adanya Pengalaman Langsung
Psikolog risiko menyebut adanya fenomena optimism
bias, yaitu kecenderungan manusia merasa bahwa bencana besar tidak akan
menimpa dirinya.
Masyarakat yang belum pernah mengalami
bencana besar, umumnya memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih rendah dibanding
mereka yang pernah menjadi korban. Akibatnya, kegiatan simulasi, pelatihan
evakuasi, dan pendidikan kebencanaan sering dianggap membuang waktu atau
sekadar formalitas.
Padahal penelitian menunjukkan, literasi
kebencanaan memiliki hubungan positif yang kuat dengan tingkat kesiapsiagaan
masyarakat dalam menghadapi bencana.
Bagaimana
Menghidupkan Budaya Literasi Kebencanaan?
Mengubah kondisi tersebut memerlukan
pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan.
1. Menjadikan Literasi Kebencanaan Sebagai Gerakan Sosial
Literasi kebencanaan tidak boleh hanya
menjadi tugas BPBD, BNPB, atau sekolah. Tempat ibadah,
kelompok pemuda, organisasi masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha,
dan media massa harus menjadi bagian dari gerakan bersama. UNDRR menekankan, ketangguhan komunitas dibangun melalui partisipasi aktif
seluruh elemen masyarakat.
Di daerah rawan seperti Sumatera Barat,
misalnya, edukasi tentang gempa bumi, banjir bandang, longsor, dan erupsi
gunung api harus menjadi percakapan sehari-hari sebagaimana masyarakat
membicarakan kesehatan atau pendidikan.
2. Memperkuat Pendidikan Kebencanaan Sejak Dini
Sekolah perlu menjadi pusat pembelajaran
kebencanaan. Program seperti: Gugus Sekolah Siaga Bencana (GSSB), Madrasah Siaga Bencana, Simulasi evakuasi berkala, dan Projek
pemetaan risiko lingkungan, harus
dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat ada proyek atau peringatan
tertentu.
Penelitian menunjukkan, peningkatan
literasi kebencanaan mampu meningkatkan kesiapsiagaan peserta didik secara
signifikan.
3.
Menggunakan Pendekatan Visual dan Digital
Generasi saat ini lebih mudah memahami
informasi melalui video pendek, infografis, animasi, permainan edukatif, dan
media sosial.
Materi kebencanaan harus dikemas dengan
bahasa sederhana dan visual yang menarik. Penelitian mengenai literasi visual
menunjukkan bahwa desain komunikasi yang baik dapat meningkatkan pemahaman
risiko dan kesiapsiagaan masyarakat.
4. Membentuk Komunitas Siaga Bencana di Tingkat Akar Rumput
Budaya literasi tidak akan hidup hanya
melalui ceramah. Masyarakat perlu dilibatkan secara langsung melalui RT Siaga
Bencana, Forum Masjid Siaga Bencana, Kelompok Relawan Kelurahan, Radio
Komunikasi Darurat Komunitas, dan Simulasi evakuasi di lingkungan terkecil
masyarakat. Pengalaman praktik akan jauh lebih membekas dibandingkan penyuluhan
satu arah.
5. Menjadikan Kearifan Lokal Sebagai Media Edukasi
Masyarakat Indonesia memiliki banyak
pengetahuan lokal terkait mitigasi bencana. Cerita rakyat, tradisi adat, dan
nilai keagamaan dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan
kebencanaan.
Ketika edukasi dikaitkan dengan budaya
lokal, masyarakat akan lebih mudah menerima dan menginternalisasikannya.
6. Membangun Kepemimpinan Literasi Kebencanaan
Setiap komunitas membutuhkan figur
penggerak. Kepala sekolah, wali nagari, tokoh agama, ketua RT, penyuluh, dan
pemuda dapat menjadi agen perubahan yang menghidupkan budaya kesiapsiagaan. Masyarakat
cenderung mengikuti contoh nyata dibanding sekadar menerima informasi.
Di daerah rawan bencana seperti Sumatera
Barat, literasi kebencanaan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai kegiatan
tambahan, melainkan sebagai kebutuhan hidup. Sebab pada akhirnya, masyarakat
yang memahami risiko adalah masyarakat yang mampu melindungi dirinya sendiri.
Bencana memang tidak selalu dapat dicegah,
tetapi korban dan kerugiannya dapat dikurangi melalui pengetahuan, kesadaran,
dan budaya kesiapsiagaan yang terus hidup di tengah masyarakat.(*)
Penulis: Nova Indra
(Direktur Alpha Rescue – Journalist)








.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar