Mengapa Literasi Kebencanaan Masih Dianggap Sebelah Mata? - Siaga | Cerdas & Informatif

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad



Jumat, 05 Juni 2026

Mengapa Literasi Kebencanaan Masih Dianggap Sebelah Mata?


SIAGA
-FM
– Potensi gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, hingga cuaca ekstrem menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

 

Ironisnya, di tengah ancaman yang begitu nyata, literasi kebencanaan masih sering dipandang sebagai isu pelengkap, bukan kebutuhan utama. Padahal berbagai penelitian menunjukkan, tingkat pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana sangat menentukan jumlah korban dan besarnya kerugian ketika bencana terjadi.

 

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa literasi kebencanaan masih dianggap sebelah mata oleh banyak pihak dan masyarakat?

 

Budaya Reaktif yang Masih Dominan

Salah satu penyebab utama masih rendahnya literasi kebencanaan adalah budaya penanggulangan bencana yang masih berorientasi pada tanggap darurat. Perhatian publik biasanya muncul ketika bencana sudah terjadi. Bantuan logistik, evakuasi korban, dan pembangunan kembali menjadi fokus utama, sementara edukasi dan mitigasi sering terabaikan.

 

Menurut kajian UNDRR, ketangguhan masyarakat tidak dibangun saat bencana terjadi, melainkan jauh sebelumnya melalui proses pembelajaran, partisipasi masyarakat, dan peningkatan kapasitas menghadapi risiko. Namun, banyak komunitas belum terdorong untuk mengambil tanggung jawab kolektif dalam pengurangan risiko bencana.

 

Akibatnya, literasi kebencanaan dianggap tidak mendesak karena manfaatnya tidak langsung terlihat sebagaimana pembangunan fisik atau bantuan pascabencana.

 

Persepsi "Bencana adalah Takdir"

Faktor budaya dan cara pandang masyarakat juga memengaruhi rendahnya perhatian terhadap literasi kebencanaan. Sebagian masyarakat masih menganggap bencana semata-mata sebagai takdir yang tidak dapat dihindari.

 

Pandangan ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tetapi menjadi masalah ketika menimbulkan sikap pasrah tanpa upaya mitigasi. Dalam kajian ilmu kebencanaan modern, bencana bukan hanya peristiwa alam, melainkan pertemuan antara ancaman (hazard), kerentanan (vulnerability), dan rendahnya kapasitas masyarakat.

 

Dengan kata lain, gempa bumi mungkin tidak dapat dicegah, tetapi jumlah korban dapat ditekan melalui pendidikan, kesiapsiagaan, dan mitigasi yang baik.

 

Rendahnya Integrasi dalam Sistem Pendidikan

Penelitian Erna Labudasari dan Eliya Rochmah dalam jurnal UPI menunjukkan, pemahaman kebencanaan di Indonesia belum sebanding dengan tingkat ancaman yang dihadapi. Literasi bencana di sekolah masih belum menjadi budaya yang terintegrasi secara kuat dalam proses pembelajaran.

 

Di banyak sekolah, materi kebencanaan hanya muncul sesekali dalam kegiatan ekstrakurikuler atau peringatan tertentu. Padahal Jepang, Selandia Baru, dan beberapa negara maju telah menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai bagian dari kurikulum berkelanjutan sejak usia dini.

 

Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa pengetahuan memadai mengenai evakuasi, pemetaan risiko, maupun tindakan penyelamatan diri.

 

Informasi Kebencanaan Kurang Menarik dan Sulit Dipahami

Penelitian dari Institut Teknologi Bandung menemukan, efektivitas media sosialisasi kebencanaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan literasi visual masyarakat. Banyak media kebencanaan dibuat terlalu teknis, penuh istilah ilmiah, dan kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Masyarakat cenderung lebih tertarik pada informasi yang sederhana, visual, dan relevan dengan pengalaman mereka. Ketika edukasi kebencanaan disampaikan dalam bentuk yang membosankan, pesan penting sering kali tidak terserap dengan baik.

 

Tidak Adanya Pengalaman Langsung

Psikolog risiko menyebut adanya fenomena optimism bias, yaitu kecenderungan manusia merasa bahwa bencana besar tidak akan menimpa dirinya.

 

Masyarakat yang belum pernah mengalami bencana besar, umumnya memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih rendah dibanding mereka yang pernah menjadi korban. Akibatnya, kegiatan simulasi, pelatihan evakuasi, dan pendidikan kebencanaan sering dianggap membuang waktu atau sekadar formalitas.

 

Padahal penelitian menunjukkan, literasi kebencanaan memiliki hubungan positif yang kuat dengan tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

 

Bagaimana Menghidupkan Budaya Literasi Kebencanaan?

Mengubah kondisi tersebut memerlukan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan.

 

1. Menjadikan Literasi Kebencanaan Sebagai Gerakan Sosial

Literasi kebencanaan tidak boleh hanya menjadi tugas BPBD, BNPB, atau sekolah. Tempat ibadah, kelompok pemuda, organisasi masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan media massa harus menjadi bagian dari gerakan bersama. UNDRR menekankan, ketangguhan komunitas dibangun melalui partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

 

Di daerah rawan seperti Sumatera Barat, misalnya, edukasi tentang gempa bumi, banjir bandang, longsor, dan erupsi gunung api harus menjadi percakapan sehari-hari sebagaimana masyarakat membicarakan kesehatan atau pendidikan.

 

2. Memperkuat Pendidikan Kebencanaan Sejak Dini

Sekolah perlu menjadi pusat pembelajaran kebencanaan. Program seperti: Gugus Sekolah Siaga Bencana (GSSB), Madrasah Siaga Bencana, Simulasi evakuasi berkala, dan Projek pemetaan risiko lingkungan, harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat ada proyek atau peringatan tertentu.

Penelitian menunjukkan, peningkatan literasi kebencanaan mampu meningkatkan kesiapsiagaan peserta didik secara signifikan.

 

3. Menggunakan Pendekatan Visual dan Digital

Generasi saat ini lebih mudah memahami informasi melalui video pendek, infografis, animasi, permainan edukatif, dan media sosial.

 

Materi kebencanaan harus dikemas dengan bahasa sederhana dan visual yang menarik. Penelitian mengenai literasi visual menunjukkan bahwa desain komunikasi yang baik dapat meningkatkan pemahaman risiko dan kesiapsiagaan masyarakat.

 

4. Membentuk Komunitas Siaga Bencana di Tingkat Akar Rumput

Budaya literasi tidak akan hidup hanya melalui ceramah. Masyarakat perlu dilibatkan secara langsung melalui RT Siaga Bencana, Forum Masjid Siaga Bencana, Kelompok Relawan Kelurahan, Radio Komunikasi Darurat Komunitas, dan Simulasi evakuasi di lingkungan terkecil masyarakat. Pengalaman praktik akan jauh lebih membekas dibandingkan penyuluhan satu arah.

 

5. Menjadikan Kearifan Lokal Sebagai Media Edukasi

Masyarakat Indonesia memiliki banyak pengetahuan lokal terkait mitigasi bencana. Cerita rakyat, tradisi adat, dan nilai keagamaan dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan kebencanaan.

 

Ketika edukasi dikaitkan dengan budaya lokal, masyarakat akan lebih mudah menerima dan menginternalisasikannya.

 

6. Membangun Kepemimpinan Literasi Kebencanaan

Setiap komunitas membutuhkan figur penggerak. Kepala sekolah, wali nagari, tokoh agama, ketua RT, penyuluh, dan pemuda dapat menjadi agen perubahan yang menghidupkan budaya kesiapsiagaan. Masyarakat cenderung mengikuti contoh nyata dibanding sekadar menerima informasi.

 

Di daerah rawan bencana seperti Sumatera Barat, literasi kebencanaan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai kebutuhan hidup. Sebab pada akhirnya, masyarakat yang memahami risiko adalah masyarakat yang mampu melindungi dirinya sendiri.

 

Bencana memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi korban dan kerugiannya dapat dikurangi melalui pengetahuan, kesadaran, dan budaya kesiapsiagaan yang terus hidup di tengah masyarakat.(*)

Penulis: Nova Indra (Direktur Alpha Rescue – Journalist)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad


banner